Matahari siang membakar atap seng desa, memancarkan hawa hangat yang terperangkap di dalam ruang tamu kecil rumah panggung Teluk Seroja. Di atas meja kayu jati yang biasa dipakai tempat menaruh toples kue kering, berjejer tiga tumpukan map kertas berwarna cokelat lusuh.
Arka duduk bersila di atas tikar pandan, memegang sebuah kalkulator saku hitam yang angkanya sudah agak kabur. Di hadapannya, Renata sedang duduk memangku sebuah kotak kaleng bekas biskuit berisi puluhan lembar kuitansi, resep dokter, dan surat teguran bernomor sertifikat bank lokal.
Aroma minyak angin khas Ibu yang sedang tertidur lelap di kamar sebelah samar-samar tercium, berbaur dengan bau kertas tua yang dihinggapi udara asin laut.
"Ini surat peringatan kedua dari Bank Perkreditan Desa," kata Arka, suaranya tenang namun matanya menatap tajam ke arah lembaran kertas berstempel merah di tangannya. "Jatuh temponya akhir bulan ini, Re. Nominalnya lima puluh delapan juta rupiah."
Renata tidak langsung menjawab. Jemarinya yang kurus sibuk merapikan lembaran kuitansi pembelian tabung oksigen dan obat jantung bulanan.
"Dua puluh juta di antaranya itu sisa sisa pinjaman pokok Ayah waktu kedai ini direnovasi empat tahun lalu," bisik Renata pelan, matanya menatap lantai papan kayu. "Sisanya... murni biaya rawat inap Ibu di Rumah Sakit Daerah waktu jantungnya kumat dua kali tahun kemarin."
Arka membalik lembaran lampiran di belakang surat teguran itu. Di sana tertera rincian bunga berjalan dan denda keterlambatan yang terus membengkak setiap bulannya.
"Kenapa nominal bunga bulanan ini bisa sebesar ini?" tanya Arka, memajukan tubuhnya sedikit. "Harusnya bunganya tidak sampai dua persen kalau pakai agunan sertifikat kedai."
Renata menghela napas panjang, merapatkan kedua lututnya. "Waktu itu aku tidak punya pilihan, Mas. Sertifikat tanah kedai sudah diagunkan Ayah di bank pertama. Waktu Ibu butuh uang jaminan operasi darurat jam dua malam, bank resmi sudah tutup. Aku terpaksa ambil pinjaman tambahan dari Koperasi Mekar Pesisir—pihak ketiga yang ditunjuk petugas bank."
Jantung Arka mendadak berdesir hebat. Ia tahu betul apa arti "Koperasi Mekar Pesisir" di desa-desa nelayan seperti ini. Itu adalah sebutan halus untuk jaringan lintah darat lokal yang memanfaatkan himpitan ekonomi warga pesisir.
"Ya Tuhan, Renata..." bisik Arka, nada bicaranya bergetar antara keprihatinan dan rasa bersalah yang menusuk. "Kenapa kamu berani ambil risiko sebesar ini sendirian? Kalau kamu tidak sanggup bayar, kedai dan rumah ini bisa disita mereka!"
"Lalu aku harus bagaimana, Mas?!" potong Renata, suaranya mendadak melengking pelan, berusaha menahan agar tidak terdengar sampai ke kamar Ibu. "Dokter di IGD waktu itu bilang Ibu harus disuntik obat pelebar pembuluh darah malam itu juga atau nyawanya tidak selamat! Apa aku harus menunggu kamu pulang dari Jakarta bawa uang baru aku menyelamatkan Ibu?!"
Kalimat itu memotong udara ruang tamu seketika, meninggalkan kesunyian yang mencekik.
Arka terdiam, memejamkan matanya rapat-rapat. Ia mengepalkan tangannya di atas lantai tikar, menekan emosi dan rasa menyesal yang kembali bergemuruh di dadanya. Renata benar. Di saat adiknya dihadapkan pada pilihan hidup dan mati sang Ibu, mempertanyakan logika finansial di masa lalu adalah sebuah ketidakadilan yang kejam.
"Maaf," cicit Arka pelan, membuka matanya dan menatap mata Renata yang berkaca-kaca. "Aku tidak bermaksud menyalahkan kamu, Re. Aku cuma... tidak bisa bayangkan betapa takutnya kamu malam itu."
Renata menyapu ujung matanya dengan lengan baju. "Aku tidak takut rugi atau kehilangan kedai ini, Mas. Aku cuma takut Ibu pergi sebelum kamu sempat pulang."
Kata-kata itu menembus bagian paling dalam dari ulu hati Arka. Ia meraih pena hitam di atas meja, lalu menarik lembaran kertas kosong.
"Berapa total seluruhnya kalau utang Koperasi Mekar Pesisir dan bank desa kita gabungkan?" tanya Arka, menata kembali intonasi suaranya menjadi tegas dan rasional.