Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #10

Kebisingan Dari Jakarta

Suara dering ponsel di atas meja kerja kayu jati tua itu terasa seperti benturan logam yang asing di tengah kesunyian pagi Teluk Seroja.

​Ponsel berlayar retak milik Arka bergetar hebat, menggeser sejengkal letak cangkir kopi kaleng dan memantulkan pendar cahaya kebiruan di dinding papan kamar almarhum Ayah. Di layarnya, nama "Pak Bambang - Head of Finance" berkedip-kedip dengan ritme yang menuntut.

​Arka yang sedang berdiri di dekat jendela, memegang selembar amplop berisi rencana pelunasan utang bank desa, memandangi layar ponsel itu dengan tenggorokan yang mendadak kering.

​Ia sudah mengabaikan empat panggilan tak terjawab sejak kemarin lusa. Selama seminggu di desa, ia sengaja mematikan pemberitahuan surel kantor demi membenamkan diri dalam urusan Ibu dan kedai. Namun, ia tahu masa izin daruratnya telah habis sejak kemarin sore.

​Dengan jemari yang agak kaku, Arka menggeser ikon hijau di layar.

​"Selamat pagi, Pak Bambang," sapa Arka, menata intonasi suaranya seprofesional mungkin.

"Pagi, Arka?" Suara Pak Bambang di ujung telepon bergaung nyaring, diiringi kebisingan khas ruang kantor ber-AC di lantai dua belas kawasan Sudirman—suara jemari mengetik di atas papan ketik, derik mesin cetak, dan langkah sepatu hak tinggi yang terburu-buru. "Kamu ini di mana? Izinmu harusnya cuma sampai hari Rabu kemarin. Laporan audit kuesioner kuartal kedua untuk klien Singapura belum selesai, dan kamu tidak bisa dihubungi!"

​Arka menarik napas panjang, mengusap leher belakangnya yang terasa tegang. "Maaf sekali, Pak. Kondisi kesehatan Ibu saya sempat drop parah di desa. Saya harus mengurus rujukan rumah sakit dan—"

"Arka, dengarkan saya," potong Pak Bambang cepat, nada bicaranya tidak menunjukkan ruang untuk empati personal. "Saya prihatin soal ibumu, tapi proyek audit ini nilainya ratusan juta. Manajemen sudah mempertanyakan keberadaanmu. Pak Hendra tadi pagi sudah bertanya kenapa posisi Senior Auditor-mu kosong saat rapat direksi."

​Arka membisu. Kata "Senior Auditor" dan nama-nama petinggi perusahaan itu mendadak terasa seperti istilah dari planet lain yang sangat jauh dari aroma minyak kayu putih dan derit papan rumah panggung Teluk Seroja.

​"Saya kasih kamu waktu sampai besok pagi jam sembilan," tegas Pak Bambang tanpa bisa dibantah. "Kamu harus sudah ada di meja kerjamu di Jakarta dengan draf laporan audit yang selesai. Kalau besok kamu tidak muncul, manajemen terpaksa menganggap kamu mengundurkan diri dan posisi promosi manajer yang kita bicarakan bulan lalu bakal dilempar ke Rendy. Kamu paham?"

​Tut... tut... tut.

​Sambungan telepon diputus sepihak.

​Arka menurunkan ponsel dari telinganya. Suara nada putus-putus itu bergaung sejenak di kepalanya sebelum tenggelam oleh suara deburan ombak dari luar jendela.

​Arka menyandarkan dahinya pada bingkai jendela kayu yang dingin. Pilihan itu kini berdiri tegak di hadapannya tanpa kompromi: kembali ke Jakarta besok pagi untuk menyelamatkan karier, gaji besar, dan promosi yang sudah lima tahun ia perjuangkan dengan mengorbankan tidur dan kesehatan mentalnya—atau bertahan di desa ini untuk mendampingi Ibu dan merawat kedai bersama Renata, tetapi berisiko kehilangan mata pencaharian utamanya.

​Langkah Arka membawanya keluar menuju konter depan Kedai "Dermaga Lama".

​Pagi ini, suasana kedai terasa berbeda. Renata sedang berdiri di balik konter kayu, dengan cermat menakar biji kopi sangrai lokal menggunakan timbangan digital kecil yang baru dibeli Arka dari pasar kabupaten. Aroma kopi hitam yang diekstrak dari mesin tua milik Ayah memenuhi ruangan, berpadu hangat dengan sinar matahari pagi yang menerobos masuk dari kaca jendela bersih.

​Renata menoleh saat mendengar langkah kaki Arka. Wajahnya yang biasa kaku kini memancarkan binar kesibukan yang sehat.

​"Mas," panggil Renata dengan suara renyah, menunjuk dua cangkir porselen putih di atas nampan. "Coba rasakan ini. Aku pakai racikan baru yang Mas Arka sarankan kemarin. Pahitnya tidak terlalu tajam di tenggorokan, tapi aromanya lebih keluar."

Lihat selengkapnya