Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #11

Serangan Jantung Kedua

Panci stainless steel yang menghantam lantai papan kayu kedai bergaung keras, tetapi bunyi itu kalah nyaring dibandingkan suara derak napas patah-patah yang terdengar dari dalam kamar belakang.

​"Ibu!" teriak Arka.

​Tanpa berpikir panjang, Arka menerobos pintu kayu penghubung, melompati dua anak tangga rendah, dan menyibak kain gorden belacu kamar Ibunya.

​Di atas dipan kayu yang dialasi kasur kapuk kusam, tubuh ramping Ibu terkulai miring. Kedua tangannya yang keriput dan gemetar mencengkeram kain bagian dada bajunya yang basah oleh tumpahan air minum. Wajah wanita tua itu pucat seperti kertas bibit, sementara bibirnya yang kaku mulai membiru di bawah pendar redup lampu neon lima watt.

​Napas Ibu terdengar sangat dangkal, berbunyi grok... grok... yang menyiksa, seolah-olah ada beban seberat batu karang yang menindih paru-parunya.

​"Tabung oksigen, Re! Buka keran tabung oksigennya!" seru Arka, berlutut di samping dipan dan menyangga kepala serta punggung Ibunya yang terasa sangat dingin dan bersimbah keringat dingin.

​Renata berlari masuk dengan tubuh gemetar hebat. Jemarinya yang kaku mencoba memutar katup kuningan di bagian atas tabung besi hijau yang berdiri di sudut kamar. Namun, tidak ada desis gas yang keluar. Jarum pada meteran tekanan oksigen telah jatuh sepenuhnya ke angka nol yang merah.

​"Habis, Mas!" jerit Renata, suaranya pecah di tengah kepanikan yang mencengkeram. "Oksigennya habis! Harusnya jadwal isi ulangnya besok pagi!"

​"Ya Tuhan..." bisik Arka.

​Mata Ibu yang suram meredup, memutar ke atas hingga hanya memperlihatkan bagian putihnya. Pegangan jemarinya pada kain dada Arka perlahan-lahan mengendur, terkulai lemas di atas kasur.

​"Ibu! Jangan merem, Bu! Jangan tinggalkan Arka!" jerit Arka, menepuk-nepuk pipi Ibunya yang dingin dengan rasa panik luar biasa yang membakar ulu hatinya.

​Rasa takut yang lima tahun lalu ia kubur rapat-rapat kini meledak sekaligus. Ini bukan lagi soal ego, bukan soal utang bank, dan bukan soal pekerjaan di Jakarta. Ini adalah ketakutan paling murni dari seorang anak yang berada di ambang kehilangan ibunya.

​"Puskesmas kecamatan terlalu jauh kalau pakai angkutan desa, Mas!" teriak Renata, air matanya sudah meleleh deras membasahi pipinya. "Kita harus bawa Ibu ke Rumah Sakit Daerah di kabupaten!"

​"Panggil Pak Usman atau siapa pun yang punya mobil di dekat pasar! Cepat, Re!" seru Arka.

​Renata berlari keluar rumah, menyibak pagar kayu depan yang miring, dan menghilang di sepanjang jalan setapak berdebu dengan jeritan minta tolong yang melengking di tengah siang bolong Teluk Seroja.

​Arka merengkuh tubuh Ibunya yang tak berdaya ke dalam pelukannya. Ia menyelipkan lengan kekuatannya di bawah lipatan lutut dan punggung wanita tua itu, lalu mengangkatnya dengan sekali dorongan tenaga. Tubuh Ibu terasa teramat ringan—sangat kontras dengan ingatan Arka belasan tahun lalu saat Ibu masih kuat membopongnya di atas perahu.

​Arka membawa Ibunya keluar ke teras depan, berdiri di bawah terik matahari siang yang membakar, menanti bantuan dengan napas yang memburu dan dada yang luluh lantak.

​Tiga menit yang terasa seperti tiga abad berlalu sebelum sebuah mobil pikap tua milik Pak Usman—seorang pengepul ikan lokal—menderu kencang dan berhenti mendadak di depan pagar kayu. Debu jalanan membumbung tinggi melingkupi bak belakang mobil yang berbau amis ikan.

​"Naikkan ke depan, Ka! Cepat!" teriak Pak Usman dari balik kemudi, wajahnya ikut pucat menyaksikan kondisi Ibu.

​Arka memangku tubuh Ibunya di kursi penumpang depan, memeluk erat bahu sang Ibu agar tidak terguncang oleh benturan jalan berlubang. Renata melompat masuk ke kursi samping, mendekap erat jemari kaki Ibunya yang dingin kaku seperti es.

Lihat selengkapnya