Aroma antiseptik tajam dan derit roda troli medis beradu dengan embusan angin malam yang menerobos lewat celah ventilasi koridor lantai dua Rumah Sakit Daerah. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Lampu-lampu pendar neon di sepanjang lorong dinyalakan sebagian, menciptakan pendar temaram yang melingkupi barisan kursi besi dingin di luar ruang perawatan intensif.
Di balik kaca tebal bermotif es, Ibu terbaring lelap. Selang oksigen bening melingkar lembut di bawah hidungnya, tersambung ke tabung dan monitor medis yang menunjukkan grafik detak jantung berirama teratur: bip... bip... bip...
Arka duduk di kursi besi, meluruskan kedua kakinya yang kaku. Di sebelahnya, Renata menyandarkan kepala pada pundak abangnya. Matanya yang sembap menatap kosong ke arah lantai vinyl abu-abu. Kain jaket parasit milik Arka tersangkut di bahunya, membungkus tubuhnya dari usikan udara dingin AC rumah sakit.
Tidak ada kata-kata bentakan, tidak ada tatapan curiga, dan tidak ada lagi sindiran dingin yang biasa menjadi benteng pertahanan Renata. Kejadian menegangkan siang tadi telah menguras seluruh sisa amarah dan kepura-puraan di antara mereka.
"Mas..." panggil Renata pelan, suaranya parau oleh sisa tangis.
Arka menoleh sedikit, mengusap bahu adiknya yang tertutup kain jaket. "Iya, Re?"
"Waktu telepon dari Jakartamu berdering tadi pagi..." Renata menghentikan kalimatnya sejenak, menghela napas panjang yang bergetar. "Aku benar-benar takut kamu bakal langsung mengepak tas dan melambaikan tangan dari kaca bus malam. Aku pikir... cerita lima tahun lalu bakal terulang lagi."
Arka memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa bersalah yang tertimbun kini terasa tidak lagi membakar, melainkan mengendap menjadi pemahaman yang bening.
"Aku sudah mematikan telepon itu, Re," kata Arka dengan suara yang mantap dan tenang. "Sebelum kamu lari dari dapur membawa panci jatuh itu, aku sudah telepon Pak Bambang. Aku bilang aku mengundurkan diri dari kantor."
Renata mendongak tiba-tiba. Matanya yang memerah membelalak menatap Arka lurus-lurus.
"Mas Arka... berhenti kerja?" bisik Renata, seolah tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. "Promosi manajermu? Uang gajimu?"
Arka menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum paling lega yang pernah terukir di wajahnya selama setengah dekade terakhir.
"Gaji besar dan jabatan itu tidak pernah bikin aku merasa punya rumah, Re," jawab Arka tulus. "Selama lima tahun di Jakarta, setiap kali aku dapat bonus atau kenaikan posisi, malamnya aku selalu duduk sendirian di kamar kos. Aku merasa hampa. Kupikir, aku sedang mengejar masa depan, tapi sebenarnya aku cuma lari dari rasa takut."
Arka meraih jemari Renata yang dingin, menggenggamnya erat di atas pangkuan mereka.
"Aku takut dianggap gagal oleh Ayah," lanjut Arka, dadanya terasa lebih lapang saat kata-kata itu meluncur bebas. "Aku takut tidak bisa memenuhi ekspektasi keluarga. Tapi waktu aku melihat kamu berjuang sendirian menahan lintah darat, merawat Ibu, dan menyelamatkan buku-buku Ayah di tengah badai semalam... Aku baru sadar. Yang gagal di rumah ini bukan cita-citaku, tapi keberanianku untuk berdiri di samping kamu."
Renata menundukkan kepalanya. Air mata bening kembali menetes pelan dari sudut matanya, jatuh menimpa punggung tangan Arka yang menggenggamnya.