Udara sore Teluk Seroja membawa bau garam dan hangat matahari yang mulai bergeser ke barat. Di teras depan rumah panggung, kursi goyang kayu jati tua peninggalan Ayah kini kembali terisi. Ibu duduk bersandar di sana, mengenakan selimut kain belacu tebal, menikmati embusan angin laut yang perlahan-lahan mengembalikan rona hangat di pipinya yang tirus.
Seminggu pasca-masa kritis di Rumah Sakit Daerah, dokter akhirnya mengizinkan Ibu pulang dengan catatan wajib menjaga ketenangan dan disiplin meminum obat jalan.
Arka melangkah keluar dari dalam rumah, membawa segelas air hangat dan wadah plastik kecil berisi empat butir obat jantung bulanan.
"Obat sorenya, Bu," kata Arka lembut, berlutut di sebelah kursi goyang.
Ibu memutar kepalanya pelan, menyunggingkan senyum hangat yang memudarkan selapis kerut di sekitar matanya. Ia menerima gelas dan obat itu, meminumnya perlahan tanpa sedikit pun keluhan.
Dari dalam kedai, suara dentang cangkir porselen dan derik mesin gilingan kopi manual terdengar berirama. Renata sedang sibuk menata ulang stoples-stoples biji kopi sangrai di konter utama. Pagar kayu depan yang miring kini telah berdiri tegak dan kokoh setelah kemarin sore Arka membetulkan pasak dan engsel besinya yang berkarat.
"Arka," panggil Ibu pelan, meletakkan gelas kosong ke atas meja kecil di sampingnya. "Bawa buku harian Ayahmu keluar ke sini."
Arka mengerutkan keningnya tipis. "Buku harian Ayah?"
Ibu mengangguk perlahan. "Di lemari kayu kamar belakang. Di dalam kotak besi hijau di bawah tumpukan sarung lama. Sudah waktunya kamu dan Renata membaca isinya."
Arka berdiri, menatap Ibunya sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Ia memanggil Renata di konter kedai. Dua saudara itu melangkah menuju kamar belakang, membongkar bagian bawah lemari jati tua, dan mengeluarkan sebuah kotak besi hijau yang engselnya sudah agak berkarat.
Di dalam kotak besi itu, tersimpan selembar kain perca yang membungkus sebuah buku catatan tebal bersampul kulit cokelat kusam.
Arka membawa buku catatan itu keluar menuju teras, duduk bersila di tikar pandan di hadapan kursi goyang Ibu. Renata menyusul, duduk berlutut tepat di samping abangnya.
Sampul kulit buku itu terasa agak kasar dan lembap oleh usia. Di bagian depannya, terukir inisial nama almarhum Ayah dengan tinta emas yang sudah pudar: M.P. – Mansur Pradipta.
Dengan jemari yang cermat, Arka membuka lembar pertama. Aroma kertas tua berdebu yang khas langsung menyergap indra penciumannya.