Pulang ke Garis Pesisir

Mario Moses Alexander Resimau
Chapter #14

Memperbaiki Pagar Kayu

​Bau cat kayu yang menyengat berbaur gurih aroma minyak tanah dan desir angin laut mengisi udara pagi Teluk Seroja. Sinar matahari keemasan memantul mulus di atas permukaan air muara yang tenang, membiarkan dedaunan pohon jati di samping rumah panggung bergoyang pelan disapu angin pesisir.

​Di halaman depan, Arka sedang berlutut di tanah berdebu dengan kacamata kerja transparan terpasang di matanya. Tangannya memegang sebilah ketam kayu manual, menggosok permukaan papan kayu jati baru yang akan dipasang sebagai palang pagar depan. Srrrk... srrrk... Tatal kayu tipis keriting berjatuhan teratur ke atas tanah setiap kali bilah besi ketam itu terdorong maju.

​Pagar kayu rumah panggung mereka—yang selama lima tahun berdiri miring dengan engsel berkarat dan paku penahan yang terlepas—hari ini dibongkar sepenuhnya untuk diperbaiki dari pondasi terbawah.

​Renata melangkah keluar dari bawah naungan teras, membawa sekaleng cat kayu warna cokelat mahoni dan dua buah kuas bulu yang masih bersih.

​"Mas," panggil Renata, meletakkan kaleng cat itu di atas tiang kayu yang sudah diamplas halus. "Pak Usman tadi mampir sewaktu ke pasar. Dia bilang spanduk kain baru untuk nama kedai kita sudah selesai dicetak di toko percetakan kecamatan. Nanti sore bisa diambil."

​Arka menegakkan tubuhnya, menyapu tatal kayu di celana jinsnya yang kusam, lalu menyunggingkan senyum tipis.

​"Baguslah," jawab Arka, mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Nanti sore aku sekalian ambil spanduk itu naik sepeda motor sewaan Pak Usman, sambil beli pasak besi tambahan buat engsel pintu pagar ini."

​Renata berlutut di sebelah kaleng cat, membuka tutup sengnya menggunakan ujung obeng minus. Warna cokelat hangat yang mengkilap terpancar di bawah pendar sinar matahari.

​"Aku masih tidak percaya," kata Renata pelan, mencelupkan ujung kuasnya ke dalam cat, "kalau lusa Kedai Dermaga Lama benar-benar bakal buka kembali dengan konsep baru."

​Arka memandangi bangunan kedai kayu tua di belakang mereka.

​Selama seminggu terakhir, perubahan fisik rumah dan kedai itu terjadi secara bertahap namun pasti. Atap seng perpustakaan yang dulunya bocor dan ditutupi terpal darurat kini telah diganti total dengan lembaran seng galian baru berdaya tahan tinggi. Bagian dalam perpustakaan telah dirapikan: ratusan koleksi buku tua peninggalan Ayah sudah ditata berdasarkan kriteria berdasarkan rak-rak kayu yang dipoles ulang menggunakan cairan pembersih kayu ramah lingkungan.

​Mesin kopi tua peninggalan Ayah yang tadinya berdebu dan tersumbat kapur kini memancar mengkilap setelah Arka membongkar komponen kuningannya, membersihkan setiap pipa uapnya, dan mengganti karet seal penguncinya yang lapuk.

​"Ibu bagaimana pagi ini, Re?" tanya Arka, meraih pasak kayu dan palu besi dari dalam kotak perkakas.

​"Sudah jauh lebih segar," jawab Renata, tangannya dengan terampil menggoreskan kuas berbalut cat cokelat ke sepanjang papan pagar. "Tadi pagi Ibu bahkan sempat ikut menyapu daun kering di teras belakang sebelum aku paksa masuk buat istirahat lagi. Kata dokter waktu kontrol lusa kemarin, grafik tekanan darah Ibu sudah sangat stabil."

​Arka mengangguk lega. Kehadiran rasa tenang dan terhapusnya beban emosional di rumah panggung ini ternyata menjadi obat yang jauh lebih manjur bagi kesehatan jantung Ibu dibandingkan puluhan butir obat kimia.

​Arka memasang engsel besi tebal yang baru pada tiang tumpuan pagar kayu depan. Ia menyatukan dua bilah papan pagar utama yang telah diketam rapi oleh tangannya sendiri.

Lihat selengkapnya