Seroja dengan pendar warna jingga keemasan yang membelah permukaan laut menjadi lembaran-lembaran cahaya menakjubkan. Udara fajar terasa begitu bersih dan sejuk. Burung-burung camar beterbangan rendah di atas dermaga kayu tua, sementara ombak kecil berdesir teratur menghantam tiang-tiang bambu penahan rumah panggung.
Di halaman depan Kedai "Dermaga Lama", daun pagar kayu jati berwarna cokelat mahoni yang baru telah dibuka lebar-lebar sejak pukul lima lewat tiga puluh menit. Spanduk kain putih bertuliskan Kedai Kopi & Perpustakaan Dermaga Lama terbentang rapi di bawah naungan teras depan, berkibar pelan disapa angin laut.
Arka berdiri di balik konter kayu utama, mengenakan kemeja kain katun longgar warna krem dengan celemek linen cokelat tua yang terikat rapi di pinggangnya. Tangannya dengan terampil mengelap permukaan tembaga mesin kopi peninggalan Ayah hingga mengkilap ditimpa pendar lampu neon hangat.
Di sebelahnya, Renata sedang menata piring-piring porselen putih berisi kudapan tradisional buatan Ibu—kue pisang goreng renyah dan lapis beras manis. Wajah Renata memancarkan binar kehangatan yang sepenuhnya baru: tidak ada lagi guratan dingin atau garis lelah yang biasanya membintangi keningnya.
Ibu duduk di kursi goyang jati di sudut teras yang paling sejuk, terbungkus selimut belacu hangat. Wajah wanita tua itu tampak segar, matanya berbinar lembut menyaksikan kedua anaknya sibuk bekerja berdampingan di balik konter.
Kring... klak!
Suara lonceng kuningan kecil yang dipasang Arka di atas pintu pagar berdering nyaring, menandakan kehadiran tamu pertama mereka pagi itu.
Bu Sumi melangkah masuk dengan senyum lebar terukir di wajahnya. Wanita paruh baya itu mengenakan kerudung instan terbaiknya, membawa sebuah bakul kecil berisi daun pisang segar dari pasar.
"Selamat pagi, Ibu Rahmi! Arka! Renata!" sapa Bu Sumi ramah, suaranya yang nyaring memenuhi ruangan kedai. "Gusti Allah... kedai tua ini rasanya pangling sekali! Bersih, wangi kopi, dan kelihatannya hangat betul!"
"Selamat pagi, Bu Sumi," jawab Arka hangat, membungkukkan badannya sedikit seraya tersenyum tulus. "Mari mampir, Bu. Silakan duduk di kursi depan."
"Aku mau pesan kopi hitam racikan asli almarhum Pak Mansur," kata Bu Sumi seraya duduk di salah satu kursi kayu jengki dekat jendela yang menghadap langsung ke muara. "Sudah lima tahun rasanya aku tidak minum kopi buatan kedai ini."
Renata tersenyum, mengangguk cepat. "Siap, Bu Sumi. Racikan spesial Ayah langsung kami buatkan."
Renata dengan cermat menakar biji kopi sangrai lokal di timbangan digital, lalu memasukkannya ke dalam gilingan manual. Suara krek... krek... krek... dari putaran engsel gilingan kopi bergaung merdu, membebaskan aroma asam-manis khas biji kopi Teluk Seroja yang memenuhi seluruh sudut ruangan.
Arka membantu menarik tuas besi mesin kopi tua milik Ayah. Ssshhh... Uap panas bertekanan tinggi menyembur pelan dari pipa kuningan, diikuti oleh cucuran cairan kopi hitam pekat bercampur warna karamel yang mengalir mulus menembus filternya, jatuh ke dalam cangkir porselen putih.
Saat Arka meletakkan cangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng hangat di atas meja Bu Sumi, wanita paruh baya itu menyesap cairannya perlahan. Matanya terpejam sejenak, membiarkan kehangatan rasa kopi itu menyapa tenggorokannya.