Pulang ke kamu

Dody Maarial
Chapter #1

Kota yang tak berubah

Nama kota ini adalah Prembun.

Sebuah kota kecil di pinggir jalan nasional yang lebih sering dilewati daripada dikunjungi. Orang-orang berhenti di sini hanya untuk mengisi bahan bakar, makan siang seadanya, atau sekadar melepas penat sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Purworejo atau Kebumen. Tidak ada yang datang ke Prembun dengan sengaja.

Kecuali mereka yang lahir di sini.

Dan mereka yang lahir di sini, suatu hari, selalu kembali.

Bus berhenti di terminal kecil yang dindingnya dipenuhi lumut hijau tua di bagian bawah. Beberapa becak dan ojek sudah menunggu di pintu keluar, para pengemudinya berdiri dengan ekspresi setengah mengantuk dan setengah semangat mencari penumpang. Aku menarik koper mungilku dan melangkah turun, menghirup udara pagi Prembun yang berbau tanah basah dan asap kayu.

Bau itu langsung melemparkanku dua belas tahun ke belakang.

"Neng! Ojek, Neng?"

Aku menggeleng pelan dan tersenyum kepada bapak tua berjaket cokelat yang menawarkan ojeknya. Mas Karjo — kalau tidak salah ingat — dulu ia sering mangkal di sini sejak aku masih SMP. Wajahnya lebih keriput sekarang, rambutnya lebih putih, tapi senyumnya masih sama: lebar dan tulus tanpa syarat.

"Rumah Pak Suyatno, Kang," kataku.

Ia mengernyit sebentar. Lalu matanya membulat. "Lho... nduk Rara? Putrinya Pak Suyatno?"

Lihat selengkapnya