“Jadi?”
“Aku terbangun pukul enam pagi di kamarku.”
“Ya, lalu?”
“Aku langsung bangun di Mouahen!”
“Mari kita bicarakan letak masalahnya—”
“—Aku tidak menginjakkan kakiku di Firrin, tidakkah kau mengerti??”
Fallon ada di sini begitu ku panggil. Syukurlah.
“Lantas apa yang aneh?”
Brakk! Tanpa sengaja, tanganku memukul keras meja lampu tidur. Melotot pada Fallon.
“Seharusnya aku ada di sana, di padang salju bernama Firrin itu! Aku selalu masuk ke sana saat malam! Lalu bagaimana mungkin sekarang—” Tanganku meraup-raup udara karena tidak sabar, “—Aku langsung terjaga di atas kasurku sendiri! Tanpa melewati Firrin!”
“Yah.. Sebetulnya itu bukan hal yang mustahil—”
“Apa sesuatu membentur kepalaku?” Racauku panik.
“Jangan-jangan kelapa yang jatuh membuatku pingsan sepanjang malam,”
“Kau sempat bermain-main dengan kelap—”
“—Lalu selama pingsan, monster kambing jelek menginjak-injak tubuhku penuh dendam, karena daun-daun miliknya pernah kucerabuti untuk makanan ikan!”
“Apa yang kau—Hey—Berhenti mengarang.”
“Mengarang??”
“Sebenarnya kau sama sekali tidak ingat apa yang terjadi, kan?”
Aku langsung mengangguk dengan wajah meringis.
Kamarku masih gelap karena tirai jendela belum kubuka. Yang tersisa di sini hanya aku dan Fallon, para Mun lain kabur melihatku histeris.
“Bukan hal yang aneh. Sama seperti kau yang suatu hari tiba-tiba bisa masuk ke Firrin begitu terlelap, kali ini kau tiba-tiba tidak bisa masuk ke sana dan langsung kembali ke duniamu.”
“Maksudmu Firrin berhenti memilihku?” Sambarku, mendekat pada landak itu.
“Biasanya anak-anak mulai masuk ke sana di umur berapa?”
“Tiga tahun.”
Dan berhenti masuk saat enam tahun, berarti durasinya tiga tahun? Aku baru mengenal tempat itu selama sebulan dan Firrin sudah memblokirku?? Apanya yang istimewa,”
“Kau harus siap dengan segala kemungkinan, Nak.. Mungkin Firrin punya rencana lain.”
“Astaga,”
***
Menyebalkan.. Sangat menyebalkan!
Ini sudah hari ke-tiga yang ku lewati dengan tabiat baru, ditolak Firrin! Debu mimpi bahkan tak mempan padaku. Biasanya, benda-benda kecil itu menembus tubuhku seperti merasuk, tapi mereka terus saja memantul tanpa bisa ku sentuh.
Terkadang Bibi Ellie memergokiku marah-marah di halaman. Lalu mengangkat bahu, menggeleng, lanjut menyirami ilalang. Paman Alfred bertanya iseng sambil tertawa mengejek, berkomentar tentang wajahku yang makin jelek.
Dan di siang hari yang sedikit terik, ketika kami semua bersantai selepas makan siang, aku melepaskan serapah terakhirku.
"Baiklah.." Dengusku puas. Bibi Ellie mengelus rambutku.
"Apa ini? Kau kerasukan sesuatu?" Tanya Paman Alfred jahil. Aku menggeleng malas.
"Tak apa, masa muda memang banyak makian. Aku pun terus memaki saat melihat Alfred." Komentar Bibi Ellie.
Paman Afred mendekatkan wajah, "Hey Mymo, jujurlah. Kau habis bertengkar dengan laki-laki ya?"
Mataku semakin memicing malas.
"Laki-laki itu biang masalah."
Bibi Ellie buru-buru setuju, "Laki-laki itu tidak berguna. Kecuali anakku."
"—Wahh! Dengar itu, Kakek. Ellie bilang kau tidak berguna," Adu paman. Kakek Horrest memiringkan kepala bingung.
Tapi tentu saja, "Buat apa berurusan dengan laki-laki?" Aku mengkonfirmasi sembari mencibir.
"Buat apa? Kau harus mencoba berpacaran sebelum lulus dari sana. Ini masa-masa yang paling menyenangkan." Seringai paman.
"Semua teman laki-lakiku terlihat menyebalkan."
"Benarkah? Biasanya.. Pria hanya bertingkah iseng pada wanita yang menarik perhatian mereka."
"Maksudmu, mereka semua jatuh cinta padaku?" Aku tertawa geli.
"Ya.. Aku memang menarik dari sisi yang berbeda."
Sisi yang menyeramkan.
***
"Sudah lebih santai, ya?" Tegur Fallon.
Aku mengedikkan bahu. "Setidaknya kalian semua masih bisa ku lihat." Fallon, makhluk berambut keriting di sebelah lemari, para mun.
"Aku hanya penasaran kabar para tikus tanah," Desahku.
"Baik.." Wakil Fallon, "Lebih baik tanpamu."
Fallon kutimpuk pelan dengan gumpalan kertas yang memantul di kepalanya, lalu jatuh ke lantai.
"Lalu bagaimana caramu melewati malam?"
"Seperti orang pingsan. Pukul enam alarmku berbunyi. Terbangun secara misterius di atas kasurku sendiri. Ini di mana, aku siapa.."
"Kau tidak bermimpi?"
Aku berpikir sedetik. Menggeleng.
"Sama sekali?"
Sekarang mengangguk.
Landak besar itu ikut mengangguk-angguk.
"Kenapa tidak Lucid Dream?"
Aku berdecak. "Bagaimana mau Lucid Dream kalau tidak bermimp—astaga—"
"—Sebenarnya, bagaimana kau tahu aku bisa Lucid Dream!?"
"Itu seperti bagaimana aku mengetahui di mana harus menemukanmu."
Aku tak akan tergugah lagi.
Memang, "Dasar penguntit."
Besoknya,
"Fallon," Panggilku sambil menerawang sesuatu.
"Sepertinya semalam, aku bermimpi."
Fallon mendengarkan serius.
"Tapi tidak ingat.."
"Apa lagi maksudnya itu." Gumam Fallon.
"Entahlah. Aku yakin ada sesuatu dalam mimpi itu. Tapi ingatanku samar-samar."
***
Malam ke-enam liburanku (Satu hari sebelum peran anak SMA tersambung kembali), aku memejamkan mata di atas kasurku saat bulan telah tinggi. Menatapi sayang 'mimpi buruk' dan 'insomnia' di langit-langit. Tatapan yang tak pernah kutunjukkan seperti itu pada mereka selama hidupku.
Ku kira setelah memejamkan mata, yang ku lihat selanjutnya adalah kegelapan yang singkat, lalu cahaya matahari yang menusuk tirai hingga ke pori-pori wajah keesokan harinya.
Ternyata tak sesederhana itu.
Saat aku tak mengharapkan apapun, Firrin justru datang dengan sesuatu dari masa laluku. Sesuatu yang jauh.. Telah ku lupakan.
***
Mun kelinci dengan mata besar mengetuk-ngetuk kaca jendela. Terheran karena di jam ini biasanya jendela itu telah terbuka. Beberapa mun lain celingukan di sisi kamarku. Mungkin karena sepuluh menit lalu aku bangun, sambil melotot, duduk cepat dan tak bergerak sampai sekarang. Bengong dengan rambut yang masih mengembang seperti singa.
Saat mendengar ketukan di pintu kamar, ku dapati Fallon di sana, bukannya bibi Ellie.
"Tumben kau mengetuk."
"Kalau aku datang dengan cara yang biasa, kau mungkin takkan bicara dan masih meratap seperti orang kesurupan."
Bukan membalas ejekannya, aku menghembuskan napas lelah. Para mun bubar melihatku mulai normal.
"Kau sudah masuk ke sana?" Firrin.
Suaraku saat menjawab Fallon sangat pelan, "Aku malah masuk ke lubang waktu dan menemukan sesuatu yang ku lupakan."
Mendongak, melihat Fallon tak berkata apa-apa, aku tahu dia sudah mengerti.
"Berdiri lebih dekat, ke sini." Dia menurut.
Semalam, aku seperti mengulang kembali masa-masa ketika aku kecil.
Tentu Fallon mengetahuinya, karena Fallon ada di sana. Menjadi bagian penting diriku yang membutuhkan seorang teman. Dulu sekali, kami bertemu saat usiaku menginjak awal empat tahun. Ketika aku melihat 'keramaian' di sekitarku. Lalu aku masuk dengan sendirinya ke tempat itu. Firrin. Bertemu beberapa teman manusia se-usiaku, serta lebih banyak lagi yang 'berbeda' denganku.
Dan Fallon, menjagaku setiap waktu.
"Kau selalu menyayangiku. Tapi sekarang, sepertinya kau membenciku."
Fallon tersemyum tulus. Gurat wajahnya lunak.
Dia menunjukkan sosok yang selalu ku lihat dapat diandalkan. Sosok yang lebih seperti ibuku daripada ibuku sendiri, dan lebih seperti ayahku ketimbang ayahku sendiri.
Dia mengulurkan tangan besarnya untuk menepuk kepalaku. Yang tentu saja tak bisa, menembus. Lalu aku mengambil tangan itu untuk membuatnya menepuk-nepuk kepalaku. Itu yang sering dia lakukan di Firrin, saat kami menerjang gelombang danau, atau mendaki bukit lavender untuk menyemangatiku.
Hari-hari menyenangkan saat aku mengenal Firrin. Saat aku terbiasa kabur dari hidupku yang kesepian, dan aku masih terlalu kecil untuk mengetahui arti dari kesepian itu sendiri.
Bagaimana aku bisa mendapatkan kembali hal-hal yang telah terlupakan selama bertahun-tahun? Ingatan-ingatan itu datang saat aku terlelap normal. Saat aku berhenti datang ke Firrin, ataupun melakukan Lucid Dream. Saat kupikir tak ada yang terjadi selain kesadaranku hilang sama sekali seperti mati.
Pernahkah kau begitu? Bermimpi tapi lupa saat pagi? Aku mengalaminya selama berhari-hari.
Mari kita mundur sedikit untuk memutar ulangnya. Gadis kecil berumur lima tahun yang kulihat, berputar-putar di depan mataku.
Malam pertama
Sosok gadis kecil melangkah keluar dari rumah kayu. Dia mendongak ke langit malam. Hari ini cerah, digelantungi kunang-kunang. Seperti biasa.
Dia berlari sumringah. Berhenti di bawah lampu bundar. Ada landak besar kenalannya yang berdiri di sana, menunggunya. Seperti biasa. Landak yang menurutku lebih mirip marmut.
"Ada apa hari ini?"
Si gadis tersenyum, "Aku kedinginan saat melintasi padang salju! Brrrrrrrh! Tempat itu benar-benar dingin!" Landak besar ikut tersenyum, "Gerbang masuk memang harus sedingin itu."
"Ya! Jadi Gerald meminjamkan mantelnya."
"Teman manusiamu?"
Sambil mengangguk, "Dia juga mendapatkannya dari keluarga tikus. Euh.. Dia bilang, ambil saja karena modelnya seperti wanita."
Si landak tergelak. "Memangnya anak berusia lima tahun tahu itu?"
Setelah mereka berdua berhenti tertawa, si gadis melanjutkan, "Fallon, teman-teman kami sudah mulai berkurang. Sasha, Eron, aku rasa aku tidak pernah melihat mereka lagi."
Fallon mendongak ke langit, perlahan. "Berarti mereka sudah menyelesaikannya."
"Menyelesaikan apa?"
"Undangan Firrin. Mereka tidak lagi membutuhkannya."
"Apa suatu hari, aku juga seperti itu?"
"Ya,"
Terdengar langkah cepat.
Seorang wanita dewasa dengan potongan rambut di atas bahu tergesa-gesa mendekat sambil berseru,
"Mosa!!" Langkahnya beradu dengan bunyi lain. Sesuatu berdenging di atap, di ruangan lain, di telingaku. Gadis kecil dan teman landaknya buram memudar. Aku mengerjapkan mata di atas bantal-bantal. Jam wekerku berteriak-teriak.
Malam kedua
"Kenapa para peri punya debu berkilau di sekitar mereka? Apakah mereka berbeda dengan para mun?" Celotehan riang itu terlontar dari gadis kecil yang mematut di depan cermin. Di kamarnya sendiri. Dengan landak guardian yang mendengarkan di sudut ruangan.