Fajar baru saja menyibak tirai malam, meninggalkan semburat jingga keemasan yang perlahan membasuh pucuk-pucuk padi. Di tengah hamparan sawah yang membentang luas bagaikan permadani hijau raksasa, berdirilah sebuah rumah sederhana dengan atap genteng yang mulai berlumut tipis di beberapa bagian. Rumah itu tampak tenang, seolah menjadi bagian dari napas alam itu sendiri. Embusan angin pagi membawa aroma tanah basah dan embun yang menempel di ujung daun, menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di tengah riuhnya kota metropolitan.
Di teras depan yang beralaskan semen plesteran halus, Fathan berdiri mematung sambil menyeruput kopi hitam dari cangkir seng berkarat di pinggirannya. Tatapannya lurus ke depan, menikmati panorama alam yang selalu berhasil meredam gemuruh di dalam kepalanya. Bagi Fathan, rumah ini bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan. Bangunan berdinding bata putih yang dicat ulang setiap tahun sekali ini adalah sebuah suaka, tempat ia memulihkan diri setelah bertahun-tahun terombang-ambing oleh ambisi dunia luar yang melelahkan.
"Pagi yang tenang, Fath," suara lembut ibunya, Ibu Siti, memecah kesunyian pagi. Wanita paruh baya itu melangkah keluar membawa nampan berisi beberapa potong singkong rebus hangat.
Fathan tersenyum, menoleh ke arah ibunya yang mengenakan daster katun sederhana bermotif bunga pudar. "Selalu tenang, Bu. Tidak seperti di kota, baru jam lima pagi saja klakson kendaraan sudah bersahut-sahutan memekakkan telinga."
Ibu Siti meletakkan nampan di atas meja kayu usang yang terletak di sudut teras, lalu duduk di kursi bambu panjang. Ia menuangkan sisa air kendi ke dalam gelas kecil. "Kota memang tempat mencari penghidupan, Fath, tapi desa adalah tempat memelihara kewarasan. Kamu sudah terlalu lama membiarkan dirimu tergerus oleh ambisi di sana."
Fathan mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan ibunya. Ia kembali memandang ke arah rumah yang telah membesarkannya itu. Secara arsitektur, rumah tersebut sangat bersahaja. Jika ditarik garis lurus, bangunannya memanjang ke belakang dengan tata letak yang fungsional. Terdapat empat kamar tidur berukuran sedang yang berderet rapi di sisi kiri bangunan, cukup untuk menampung seluruh anggota keluarga besar saat berkumpul di Hari Raya. Di bagian tengah, terdapat satu kamar mandi bersama yang selalu dijaga kebersihannya dengan lantai keramik putih kusam.
Ruang tamu di bagian depan tidak memiliki perabotan mewah; hanya ada satu set kursi kayu jati tua warisan kakeknya yang sudah dipelitur ulang, sebuah meja tamu bundar, dan kaligrafi ayat kursi berbingkai hitam yang tergantung lurus di dinding kapur. Sementara itu, ruang keluarga di bagian belakang menyatu dengan area makan, menjadi jantung dari rumah tersebut. Di sanalah aroma masakan dapur selalu menguar setiap sore, dan gelak tawa keluarga kecil mereka kerap pecah di malam hari.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Ibu Siti, memecah lamunan Fathan.
"Belum ada rencana pasti, Bu. Mungkin aku akan berjalan-jalan ke pematang sawah di ujung kampung, atau sekadar membantu Ayah mengecek saluran air di dekat lumbung," jawab Fathan jujur.
"Bantu ayahmu saja nanti siang. Akhir-akhir ini tenaganya sudah tidak sekuat dulu, tapi dia gengsi kalau diminta istirahat," ujar Ibu Siti sambil tersenyum geli. "Oh ya, bagaimana pekerjaanmu yang ditinggal di Jakarta? Apakah masih ada urusan yang belum selesai?"
Fathan menghela napas panjang, bayangan tumpukan berkas digital dan layar monitor yang menyilaukan mata tiba-tiba melintas di kepalanya. "Semua sudah kutinggalkan, Bu. Aku sudah mengambil cuti panjang... atau mungkin, cuti selamanya dari hiruk-pikuk itu."
Ibu Siti menatap putranya tajam, mencoba membaca apa yang tersimpan di balik sorot mata Fathan yang tampak lelah namun kini jauh lebih tenang. "Jangan jadikan pelarian sebagai alasan untuk lari dari tanggung jawab hidup, Fath. Ketenangan sejati bukan berarti tidak ada masalah, melainkan bagaimana hati kita tetap damai di tengah badai."
"Aku tahu, Bu. Justru di sinilah aku sedang belajar merajut kembali kepingan-kepingan diriku yang sempat tercecer di kota," balas Fathan lembut.
❖ ❖ ❖
Matahari kini telah bergeser sepenggalah naik, memancarkan terik hangat yang mulai menguapkan embun di dedaunan padi. Fathan menepati janjinya untuk menyusul ayahnya, Pak Joko, yang sedang berada di area sawah sebelah timur desa. Langkah kaki Fathan terasa ringan di atas tanah pematang yang basah, menikmati sensasi lumpur yang sesekali menciprat ke ujung celana kainnya.
Dari kejauhan, ia melihat sosok ayahnya mengenakan topi petani caping bambu lebar, sedang membungkuk mengatur laju air dari parit kecil ke petak sawah. Fathan mempercepat langkahnya.
"Biar aku saja yang lanjutkan, Ayah," kata Fathan begitu sampai di samping ayahnya, langsung mengambil alih cangkul kayu dari tangan Pak Joko.
Pak Joko menegakkan punggungnya, meringis pelan sambil menepuk-nepuk pinggangnya yang terasa pegal. Ia menerima uluran tangan Fathan untuk membantunya duduk di atas gundukan tanah yang agak kering di bawah pohon mangga rindang.
"Sudah tua memang, disuruh membungkuk sedikit saja pinggang langsung protes," ujar Pak Joko terkekeh, meski ada nada kepenihan yang tak bisa disembunyikan.
Fathan ikut duduk bersimpuh di dekat ayahnya setelah selesai mengatur aliran air. "Ayah terlalu memforsir diri. Kenapa tidak menyewa tenaga buruh tani saja seperti tetangga sebelah?"
"Bukan masalah biaya, Fath," jawab Pak Joko sambil menatap hamparan sawah hijau di hadapan mereka. "Sawah ini bukan sekadar sumber penghidupan bagi kita. Setiap jengkal tanah ini punya cerita, keringat kakekmu, dan air mata ibumu saat gagal panen dulu. Merawatnya sendiri adalah bentuk penghormatan pada tanah yang memberi kita makan."
Fathan terdiam. Kata-kata ayahnya menohok sudut hatinya yang paling dalam. Selama ini, di Jakarta, ia terbiasa menilai segala sesuatu dari sudut pandang efisiensi, kecepatan, dan materi. Ia lupa bahwa ada nilai-nilai esensial yang tidak bisa diukur dengan angka di atas kertas laporan keuangan.
"Bagaimana kabar proyekmu yang di ibukota itu?" tanya Pak Joko tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. "Ayah dengar dari pamanmu kemarin, perusahaan tempatmu bekerja sedang mengalami kemelut besar."
Fathan menunduk, memainkan sehelai rumput liar di tangannya. "Benar, Ayah. Proyek besar yang kukhususkan selama dua tahun terakhir terancam gagal total akibat kecurangan manajemen pusat. Semua kerja kerasku seolah lenyap begitu saja dalam semalam."
"Dan karena itu kamu pulang?" tanya Pak Joko lagi, suaranya tenang namun penuh selidik.
"Sebagian karena itu, Ayah," aku Fathan jujur. "Aku merasa lelah. Rasanya aku berlari sangat kencang mengejar sesuatu yang ternyata fana. Ketika semuanya runtuh, aku baru menyadari bahwa aku tidak punya apa-apa lagi di sana—bahkan diriku sendiri."
Pak Joko menepuk pundak anaknya pelan. "Manusia sering kali harus dihentikan secara paksa oleh keadaan agar ia mau menoleh ke belakang dan melihat siapa dirinya sebenarnya. Kamu tidak kalah, Fath. Kamu hanya sedang dipanggil pulang oleh semesta untuk mengisi ulang baterai jiwamu."
Obrolan mereka terhenti ketika sebuah suara deru sepeda motor tua memecah ketenangan pagi. Seorang pemuda desa berseragam kemeja lusuh tampak menghentikan motornya di pinggir jalan raya desa, lalu berlari kecil menuju arah mereka sambil melambaikan selembar amplop cokelat.
"Fathan! Fathan!" panggil pemuda itu dengan napas tersengal-sengal.
Fathan berdiri, menatap bingung ke arah pemuda yang ternyata adalah Dimas, anak kepala desa sekaligus teman kecilnya dulu. "Ada apa, Dim?"
"Surat ini... tadi diantar ke rumahmu, tapi ibumu menyuruhku menyusulmu ke sini karena kelihatannya penting," ujar Dimas menyerahkan amplop cokelat berlogo perusahaan besar di Jakarta.
Fathan mengerutkan kening. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia tahu betul logo siapa yang tertera di sudut kiri atas amplop tersebut. Itu adalah surat resmi dari kantor pusat tempat ia bekerja, instansi yang baru saja ia tinggalkan dengan sejuta kekecewaan.
❖ ❖ ❖
Fathan memandangi amplop di tangannya dengan perasaan campur aduk. Angin desa yang sepoi-sepoi tiba-tiba terasa dingin. Di bawah rindangnya pohon mangga, di hadapan ayahnya yang menatap dengan sorot mata penuh tanya, Fathan merobek ujung amplop tersebut perlahan-lahan.
Ia menarik selembar kertas berkop resmi perusahaan. Matanya dengan cepat memindai barisan kalimat formal yang tercetak rapi di atas kertas putih bersih itu.