Sore hari merayap pelan di atas genting rumah, membawa serta semburat jingga keemasan yang memantul di kaca jendela ruang tengah. Matahari perlahan condong ke barat, memancarkan bias hangat yang menembus celah-celah ventilasi teras rumah. Di tempat itulah kehangatan harian bersemi, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar yang melelahkan. Udara sore terasa lembut, membawa aroma tanah basah seusai gerimis tipis yang sempat singgah beberapa jam lalu.
Di teras yang beralaskan ubin keramik putih bersih itu, Gabina dan Ghazi sedang menikmati waktu luang mereka. Suasana langsung hidup begitu mereka duduk berdampingan di atas sebuah amben kayu jati tua. Tidak ada formalitas di antara mereka, tidak ada topeng sosial yang harus dikenakan. Keduanya mengenakan pakaian rumahan yang paling nyaman—Gabina dengan kaus longgar bergambar kucing tidur dan celana piyama katun bermotif kotak-kotak, sementara Ghazi mengenakan kaus oblong putih polos yang sudah sedikit kekuningan di bagian kerah serta celana pendektraining yang longgar.
"Kamu ini ya, kalau dibilangin malah manggut-manggut tapi gak didengerin," protes Gabina sambil melemparkan sebutir kuaci ke arah Ghazi. Ghazi, dengan refleks kilat yang luar biasa, menangkap kuaci tersebut menggunakan mulutnya sendiri, lalu mengunyahnya dengan santai sambil menyeringai lebar.
"Bukan gak didengerin, Kak. Masuk telinga kanan, langsung diproses sama komputer mini di kepala, terus langsung dibuang ke tempat sampah karena isinya gak penting," balas Ghazi diiringi tawa renyah yang meledak.
Gabina mendengus pura-pura kesal, namun sudut bibirnya langsung berkedut menahan senyum. "Sembarangan kalau ngomong. Awas ya, nanti kalau kamu minta tolong bikin tugas kuliah, aku suruh bikin esai seribu kata tentang sejarah sendal jepit."
"Wah, kalau itu sih gampang. Sumbernya banyak, tinggal comot dari pengalaman hidup Kakak yang sering kehilangan sebelah sendal di masjid," ledek Ghazi lagi, semakin menjadi-jadi.
Gelak tawa mereka pecah seketika, memenuhi setiap jengkal sudut rumah dengan energi positif yang menular. Keisengan khas saudara kandung itu seolah menjadi candu yang membuat sore terasa begitu cepat berlalu. Mereka saling ejek, saling usil, namun di balik setiap candaan tersimpan ikatan batin yang begitu kuat. Di teras rumah ini, mereka bebas menjadi diri sendiri tanpa ada yang menghakimi standar penampilan, gaya bicara, atau isi kepala mereka.
❖ ❖ ❖
Fathan berdiri di ambang pintu kaca yang menghubungkan ruang keluarga dengan teras luar. Sambil memegang cangkir keramik berisi kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis, ia mematung sejenak, menikmati pemandangan di hadapannya. Suara tawa Ghazi yang menggelegar berpadu dengan omelan manja Gabina menciptakan melodi tersendiri yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf Fathan yang tegang setelah seharian bekerja di kantor.
Bagi Fathan, pemandangan ini adalah obat paling mujarab. Di luar sana, di dunia tempat ia mencari nafkah, semuanya menuntut kesempurnaan. Setiap orang harus mengenakan jas rapi, berbicara dengan intonasi terukur, tersenyum dengan senyum profesional, dan menyembunyikan segala kelelahan di balik topeng produktivitas. Dunia luar adalah panggung sandiwara yang melelahkan, tempat kesalahan kecil bisa berakibat fatal pada reputasi dan kedudukan.
Namun, begitu melangkah melewati pintu rumah, seluruh aturan itu runtuh seketika. Rumah adalah benteng pertahanan terakhir. Di sini, tidak ada yang peduli apakah rambut Fathan berantakan, apakah kemejanya sudah berkerut, atau apakah ia sedang merasa rapuh. Rumah menerima segala bentuk ketidaksempurnaan itu dengan tangan terbuka.
"Heh, Fathan! Malah melamun kayak patung pancoran. Sini gabung, jangan jadi penonton misterius di situ," panggil Gabina tiba-tiba, membuyarkan lamunan Fathan. Ia melambaikan tangan dengan penuh semangat, menyuruh sang kakak sulung untuk segera mendekat.
Ghazi menoleh ke arah Fathan, lalu tersenyum lebar. "Tuh kan, Mas. Makanya jangan kebanyakan mikirin kerjaan kantor. Sini duduk, nikmati sore sebelum malam datang dan nagih tugas baru."
Fathan tersenyum tipis, melangkah pelan keluar menuju teras, lalu mendudukkan diri di kursi rotan yang berada tepat di seberang amben mereka. Aroma kopi di cangkirnya berpadu dengan aroma udara sore yang segar. "Bukan melamun, tapi menikmati pemandangan langka. Kapan lagi lihat dua teroris kecil ini akur tanpa adu jotos soal remote televisi?" ujar Fathan santai.
"Ih, Mas Fathan! Mana ada adu jotos. Kita kan cinta damai, ya kan, Ghazi?" bela Gabina sambil menyenggol bahu adiknya.
"Damai versi Kak Gabina itu kalau dia menang monopoli terus semua uang kita dirampas," timpal Ghazi cepat, membuat Gabina langsung mencubit lengan adiknya dengan gemas.
Pemandangan interaksi yang cair itu membuat dada Fathan menghangat. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di relung hatinya, mengingatkannya bahwa betapa pun berat beban hidup yang ia pikul di luar sana, ia memiliki tempat peristirahatan yang sempurna bersama orang-orang yang paling ia kasihi.
❖ ❖ ❖
Suasana sore perlahan mulai berubah ketika angin berhembus lebih kencang, membawa hawa dingin khas pegunungan yang mulai turun menyelimuti kawasan perumahan mereka. Gabina merapatkan jaket rajutnya yang berwarna krem, sementara Ghazi beranjak sejenak mengambil jaket hoodie kesayangannya dari dalam rumah.
Di sela-sela keheningan yang sesaat tercipta, Fathan merenungkan kembali dinamika hubungan keluarga mereka. Sebagai anak sulung yang kehilangan figur orang tua di usia yang relatif muda, Fathan terbiasa memikul tanggung jawab besar. Ia harus menjadi pelindung, pencari nafkah, sekaligus pengarah bagi Gabina dan Ghazi. Beban itu sering kali membuatnya lupa bagaimana cara tertawa lepas seperti yang dilakukan kedua adiknya saat ini.