Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Langkah Pertama ke Dunia Luar

Langit fajar di desa masih menyisakan rona jingga kemerahan ketika suara kokokan ayam bersahutan dari kejauhan, menandakan waktu subuh telah sempurna berganti. Udara pagi itu terasa begitu dingin, menusuk hingga ke tulang, namun membawa aroma khas tanah basah dan jerami yang telah menemani seluruh masa kecil Fathan. Di halaman rumah panggung kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia, sebuah koper usang berwarna hitam legam tergeletak kaku di atas lantai semen yang retak-retak. Koper itu tidak besar, tetapi rasanya memuat seluruh beban harapan kedua orang tuanya yang selama ini ditaruh di pundaknya.

Di dalam rumah, suasana terasa begitu sunyi dan berat, seolah dinding-dinding papan kayu ikut meresapi kesedihan yang menggelayut di udara. Ibunya, Siti, sibuk mondar-mandir di dapur kecil berukuran tiga kali tiga meter, menyiapkan sarapan terakhir untuk anak lelaki satu-satunya. Suara dentingan piring seng yang beradu dengan sendok terdengar begitu nyaring di telinga Fathan yang sedang duduk terpaku di tepi pembaringan kamarnya.

"Sudah siap semuanya, Nak? Jangan sampai ada yang tertinggal, terutama ijazah dan surat-surat penting itu," suara ibunya terdengar dari balik pintu dapur, bergetar tipis berusaha menahan gemuruh di dadanya.

Fathan, pemuda berusia sembilan belas tahun dengan kemeja flanel kotak-kotak usang dan celana bahan kain hitam, menunduk menatap kedua telapak tangannya sendiri. Telapak tangan itu kasar, penuh dengan bekas goresan cangkul dan parit sawah—bukti nyata dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk membantu ayahnya mencangkul tanah berlumpur demi sesuap nasi. Hari ini, tangan yang sama harus melangkah jauh, meninggalkan ladang dan lumpur menuju rimba beton bernama kota besar.

"Sudah, Bu. Semua sudah masuk ke dalam koper," jawab Fathan dengan suara parau, mencoba mengeraskan volume suaranya agar terdengar tegar.

Ayahnya, Pak Hasan, melangkah masuk ke dalam kamar dengan berjalan pincang akibat sisa cedera otot masa muda. Wajahnya yang keriput karena terik matahari tampak tenang, namun sorot matanya menyiratkan kecemasan yang mendalam. Pak Hasan duduk di sebelah Fathan, lalu menepuk pelan pundak anaknya yang bidang.

"Ingat, Fathan," ucap ayahnya dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Di kota nanti, hidup tidak akan semudah di desa. Orang-orang di sana sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kamu harus pandai-pandai menjaga diri, menjaga ibadah, dan jangan pernah melupakan asal-usulmu. Kita bukan orang berpunya, modalmu cuma kejujuran dan niat yang lurus."

"Iya, Pak. Fathan akan ingat pesan Bapak," balas Fathan sambil menatap mata ayahnya yang mulai berkaca-kaca.

Tak lama kemudian, suara klakson mobil travel langganan desa terdengar memecah keheningan pagi di depan halaman. Jantung Fathan berdegup kencang. Detik-detik perpisahan yang selama ini ia bayangkan dalam mimpi-mimpi buruknya kini benar-benar terjadi di depan mata. Ibunya berlari kecil keluar dari dapur, membawa sebungkus rantang berisi makanan bekal perjalanan.

"Ayo, Fathan, mobilnya sudah datang. Jangan buat sopirnya menunggu lama," kata ibunya dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipi keriputnya.

Mereka bertiga berjalan keluar rumah menuju halaman. Udara pagi terasa semakin menyesakkan dada. Saat Fathan mengangkat koper hitamnya, ibunya langsung menerjang memeluknya erat-erat, seolah tidak ingin melepaskan anak itu pergi ke dunia luar yang kejam. Isak tangis sang ibu pecah di bahu Fathan, membuat pertahanan diri pemuda itu ikut runtuh seketika.

"Hati-hati di jalan, Nak. Kabari ibu kalau sudah sampai," bisik ibunya di antara deru isak tangis.

"Iya, Bu. Doakan Fathan agar kuat dan berhasil di sana," jawab Fathan, membalas pelukan ibunya dengan sama eratnya, menghirup aroma minyak angin dan keringat ibunya untuk terakhir kali sebelum jarak memisahkan.

Pak Hasan merangkul pundak Fathan setelah pelukan itu terurai. Mereka bersalaman dengan erat, sebuah salaman lelaki desa yang penuh dengan ikatan batin dan tanggung jawab turun-temurun. Fathan kemudian melangkah masuk ke dalam mobil travel yang pintunya telah terbuka lebar. Ia duduk di kursi tengah, tepat di sebelah jendela kaca yang berembun karena hawa dingin pagi.

Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Dari balik kaca jendela, Fathan melihat sosok kedua orang tuanya berdiri berdampingan di bawah pohon mangga tua. Semakin jauh mobil berjalan, semakin kecil pula bentuk tubuh mereka, hingga akhirnya benar-benar hilang tertelan belokan jalan desa. Fathan menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membiarkan tetes air mata pertamanya meluncur bebas menuruni pipinya.

❖ ❖ ❖

Perjalanan panjang selama belasan jam melintasi bukit-bukit terjal dan jalan lintas provinsi yang berlubang akhirnya mendekati garis akhir ketika langit sore berganti menjadi kelabu kemerahan. Dari balik kaca jendela mobil travel yang mulai berdebu, lanskap pemandangan alam mulai berubah drastis secara perlahan. Sawah-sawah hijau yang luas, barisan pohon kelapa yang melambai, dan rumah-rumah panggung beratap rumbia perlahan-lahan lenyap, digantikan oleh kerangka-kerangka baja gedung pencakar langit yang menjulang tinggi menusuk awan.

"Sebentar lagi kita masuk kawasan terminal utama kota. Siapkan barang-barang kalian, jangan sampai ada yang tertinggal di kolong kursi," ujar sang pengemudi travel dengan suara serak, memecah keheningan kabin mobil yang sejak tadi diisi oleh suara dengkuran penumpang lain.

Fathan menegakkan tubuhnya, merapikan kerah kemejanya yang kusut, lalu meraba saku celananya untuk memastikan dompet dan ponsel muramnya masih di tempat aman. Jantungnya berdegup semakin kencang, bukan lagi karena kesedihan meninggalkan rumah, melainkan karena rasa gentar yang tiba-tiba merayap naik dari perutnya saat melihat skala kota besar di hadapannya.

Ketika mobil akhirnya berhenti di area kedatangan terminal bus kota, pintu mobil dibuka dan Fathan langsung disergap oleh gelombang suara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Suara klakson bus yang memekakkan telinga, teriakan para calo tiket yang menawarkan berbagai jurusan, deru mesin kendaraan bermotor yang bersahut-sahutan, serta bau asap knalpot yang pekat bercampur debu jalanan langsung menyambut hidungnya secara brutal.

Fathan keluar dari mobil dengan menyeret koper hitamnya. Ia berdiri terpaku di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan terburu-buru, seolah waktu di tempat ini berjalan sepuluh kali lebih cepat dibanding di desanya. Orang-orang bersinggungan bahu dengannya tanpa sempat melirik, tenggelam dalam urusan dan tujuan masing-masing.

"Mau ke mana, Mas? Cari ojek atau taksi?" tanya seorang pria berjaket kulit kusam dengan bau rokok yang tajam tiba-tiba mendekatinya.

"Tidak, Pak, terima kasih. Saya cari angkutan umum," jawab Fathan dengan nada kaku, setengah terkejut.

Ia segera melangkah menjauh dari kerumunan calo, mengikuti petunjuk alamat yang tertulis di secarik kertas kusut di tangannya. Alamat itu adalah sebuah kamar kost kecil di kawasan padat penduduk dekat pusat kota, tempat ia akan memulai babak baru kehidupannya sebagai mahasiswa rantau sekaligus pekerja paruh waktu.

Lihat selengkapnya