Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Kesibukan yang Menyesakkan

Suara alarm dari ponsel murah di atas meja kayu berderit nyaring, memecah keheningan kamar kost berukuran tiga kali tiga meter itu. Pukul 05.30 pagi. Langit di luar jendela masih menyisakan kelam sisa malam, berpadu dengan kabut tipis yang menggantung di atas atap-atap seng pemukiman padat penduduk ibu kota. Fathan mengerang pelan, menarik selimut tipisnya lebih tinggi untuk menutupi bahu yang terasa kaku.

Tubuhnya masih menolak untuk bangun. Otot-otot di punggung dan kakinya terasa seperti ditarik dari berbagai arah, sisa dari kerja keras dan mobilitas tinggi yang ia jalani sepanjang minggu ini. Namun, di kota ini, waktu tidak pernah berkompromi dengan kelelahan seseorang.

"Bangun, Fathan. Jangan malas," bisiknya pada diri sendiri, sebuah mantra harian yang kini terasa semakin berat untuk diucapkan.

Ia bangkit, menyeret kakinya yang terasa berat menuju kamar mandi sempit di sudut ruangan. Air dingin yang membasuh wajahnya memberikan sedikit kesegaran palsu, sekadar membuka mata tanpa benar-benar mengusir rasa penat yang bersarang di kepalanya. Setelah berpakaian rapi mengenakan kemeja formal yang sudah ia setrika semalam—meski kini tampak sedikit kusut karena udara lembap—Fathan menyambar tas ransel hitamnya.

Di luar kost, hiruk-pikuk pagi langsung menyergap tanpa ampun. Suara mesin motor yang menderu, klakson kendaraan bersahutan, dan langkah kaki terburu-buru dari ratusan orang yang memiliki tujuan hidup masing-masing. Fathan melebur ke dalam arus manusia itu. Ia berjalan cepat menuju halte bus terdekat, berdesakan dengan pekerja lain yang wajahnya juga memancarkan kelelahan serupa. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada senyuman ramah. Semua orang sibuk dengan pikiran, ketakutan, dan target harian mereka sendiri.

Sesampainya di kantor tempat ia bekerja sebagai staf administrasi junior, meja kerjanya telah menyambut dengan tumpukan berkas baru. Layar komputer langsung menyala, menampilkan puluhan surel yang belum dibaca dan lembar kerja Excel yang rumit.

"Fathan, tolong pastikan laporan keuangan cabang utara ini selesai sebelum jam makan siang ya. Direktur akan memeriksanya langsung," ujar atasannya, Pak Hartono, tanpa mengangkat kepala dari layar tabletnya.

"Baik, Pak. Segera saya kerjakan," jawab Fathan dengan suara datar, berusaha menyembunyikan helaan napas berat yang hampir lolos dari tenggorokannya.

Hari itu berjalan seperti roda gigi mesin yang berputar tanpa henti. Fathan mengetik, menelepon klien, memeriksa ulang angka-angka yang memusingkan, dan berlari dari satu lantai ke lantai lain untuk mengantarkan dokumen penting. Pikirannya dipaksa siaga penuh selama delapan jam penuh, tanpa ruang sedikit pun untuk melamun atau sekadar menarik napas panjang.

❖ ❖ ❖

Pukul 19.30 malam. Jam kerja resmi telah usai dua jam lalu, namun Fathan baru saja melangkah keluar dari gedung perkantoran bertingkat itu. Kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Angin malam kota besar yang berhembus membawa debu jalanan dan bau asap kendaraan, menampar wajahnya yang kusam.

Ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju stasiun kereta rel listrik (KRL) terdekat, berharap udara malam bisa sedikit menjernihkan kepalanya yang berdengung hebat. Di sepanjang trotoar, ia berpapasan dengan para pedagang kaki lima yang sedang membereskan dagangan mereka, aroma nasi goreng dan sate melintas sekilas di hidungnya, mengingatkannya bahwa ia belum makan malam sejak siang tadi.

"Mau makan di luar dulu atau beli mi instan di warung?" gumamnya pelan, menimbang-nimbang isi dompetnya yang semakin tipis menjelang akhir bulan.

Pada akhirnya, ia memilih opsi yang lebih hemat. Ia mampir ke sebuah warung kelontong kecil di dekat pangkalan ojek untuk membeli dua bungkus mi instan rasa kari ayam dan sebutir telur. Pemilik warung, seorang ibu paruh baya dengan daster batik kumal, melayaninya dengan ramah sekadarnya.

"Lembur terus, Mas? Kelihatan capek banget," ujar ibu warung itu sambil menyerahkan kantong plastik putih.

"Iya, Bu. Lagi banyak kerjaan di kantor," balas Fathan seadanya, memaksakan seulas senyum tipis di bibirnya.

"Namanya juga di perantauan, Mas. Harus tahan banting. Yang penting sehat," timpal sang ibu, sebuah kalimat klise yang justru terasa menusuk ulu hati Fathan.

Ia melanjutkan sisa perjalanan dengan langkah gontai. Sesampainya di depan gerbang bangunan kost-nya yang bercat hijau pudar, Fathan merogoh saku celananya untuk mengambil kunci kamar. Suara gesekan kunci dengan gembok tua terdengar nyaring di lorong yang sepi.

Pintu terbuka. Ruangan gelap dan pengap menyambutnya. Fathan meraba dinding di sebelah kanan untuk menyalakan saklar lampu. Cahaya kuning temaram dari bohlam 15 watt langsung menerangi ruangan sempit itu: kasur lipat tipis di sudut, meja kayu kecil tempat ia meletakkan laptop, dan tumpukan pakaian kotor di dalam ember plastik di dekat kamar mandi.

Tidak ada suara televisi yang menyala. Tidak ada aroma masakan rumahan yang harum menyambut kepulangannya. Yang ada hanyalah keheningan pekat yang seolah menekan dinding-dinding kamar, membuat ruangan itu terasa semakin sempit dan menyesakkan.

Fathan melempar tas ranselnya ke atas kasur, lalu menjatuhkan diri ke lantai begitu saja. Punggungnya bersandar pada dinding semen yang dingin. Ia memejamkan mata, membiarkan kelelahan fisik dan mental merambat ke setiap jengkal tubuhnya.

"Sepi banget..." bisiknya lirih, suaranya tenggelam oleh suara dengung kulkas kecil milik tetangga kamar sebelah.

❖ ❖ ❖

Di kampung halamannya, jam segini biasanya adalah waktu yang paling hangat. Fathan teringat bagaimana suasana rumah orang tuanya di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Pukul tujuh malam, ibunya pasti sudah selesai menyiapkan makan malam di meja makan kayu sederhana. Bau harum sambal terasi dan sayur bayam buatan ibunya selalu berhasil memanggil selera makan siapa saja.

Ayahnya biasanya duduk di kursi rotan ruang depan sambil membaca koran lokal atau mendengarkan radio transistor tua. Adiknya, Rian, akan berlari-lari kecil membawa buku sekolah, meminta bantuan untuk mengerjakan PR matematika.

Lihat selengkapnya