Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Sawah di Balik Pagar Kota

Suara dengung AC yang terpasang di sudut kamar kos terdengar monoton, mengiringi jarum jam dinding yang berdetak lambat. Akhir pekan di kota besar tidak pernah benar-benar menawarkan ketenangan. Di luar jendela, debu jalanan beterbangan, bergesekan dengan bisingnya knalpot kendaraan yang bersahut-sahutan tanpa jeda. Fathan duduk bersandar di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah layar ponsel yang mati. Layar hitam itu memantulkan wajahnya sendiri—wajah seorang pemuda yang terlihat lelah, dengan bayangan gelap di bawah kelopak mata akibat bermalam-malam kurang tidur.

"Apakah semua kerja keras ini sepadan?" gumam Fathan pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin dari ventilasi.

Kota ini telah menjanjikan masa depan yang gemilang, sebuah lembaran baru bagi mereka yang berani mengadu nasib. Namun, setelah sekian bulan menjadi bagian dari roda penggerak metropolitan, Fathan justru merasa dirinya sedang digilas oleh sistem yang tak berwajah. Setiap hari adalah perlombaan melawan tenggat waktu, kemacetan, dan ekspektasi atasan yang seakan tidak ada habisnya.

Ia bangkit dari duduknya, melangkah pelan menuju jendela kaca yang berdebu. Dari lantai empat bangunan kosnya, pemandangan yang terlihat bukanlah hijaunya dedaunan atau birunya langit lepas, melainkan jajaran atap seng, kabel-kabel listrik yang saling melintang seperti jaring laba-laba raksasa, dan dinding-dinding beton menjulang tinggi yang menghalangi cakrawala. Udara terasa panas dan pengap, membawa aroma aspal basah dan polusi kendaraan.

Rasa rindu kampung halaman atau homesick yang selama ini ia pendam dalam-dalam tiba-tiba menyeruak begitu saja, menghantam dadanya dengan keras. Kerinduan itu bukan sekadar rindu pada rumah atau masakan ibu, melainkan kerinduan yang sangat spesifik: kerinduan pada ruang bernapas.

Fathan teringat pada percakapannya dengan Rian, rekan sekantornya, beberapa hari lalu di pantry kantor.

"Kamu kelihatan pucat, Fan. Kurang tidur?" tanya Rian sambil menuang air panas ke dalam cangkir kopi instannya.

"Begitulah, Yan. Kepala rasanya mau pecah. Beban laporan kemarin belum beres, ditambah revisi dari klien yang minta macam-macam," jawab Fathan lesu, menyandarkan tubuhnya ke meja pantry.

"Makanya, kalau akhir pekan itu jangan cuma di kamar. Main ke mal, atau nongkrong di kafe kekinian. Biar otak fresh," saran Rian.

"Masalahnya, mal dan kafe di kota ini juga penuh sesak. Malah bikin tambah pusing lihat keramaian," keluh Fathan jujur.

Rian hanya tersenyum tipis, menepuk bahu Fathan sekilas sebelum berlalu. "Yah, dinikmati saja. Namanya juga merantau. Lama-lama juga terbiasa dengan ritme kota."

Terbiasa. Kata itu berdenging di kepala Fathan. Apakah ia harus terbiasa dengan kebisingan ini? Apakah menjadi bagian dari mesin kota berarti harus merelakan ketenangan jiwa? Fathan memejamkan matanya rapat-rapat. Di tengah kesunyian kamarnya yang sempit, aroma beton dan asap kendaraan seolah menguap, tergantikan oleh aroma tanah basah sehabis hujan dan angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan sawah membentang luas.

❖ ❖ ❖

Pintu kamar kos berderit pelan saat Fathan kembali duduk di kursinya. Bayangan masa lalu mulai berputar di benaknya, menariknya jauh dari kenyataan ruang sempit berukuran tiga kali tiga meter ini. Ingatannya melompat mundur ke beberapa tahun silam, ke sebuah desa kecil di kaki bukit, tempat di mana hari-hari dimulai bukan dengan bunyi klakson, melainkan dengan kokokan ayam jago dan embun pagi yang masih menempel di ujung-ujung daun padi.

Sawah di desa mereka bukanlah sekadar lahan pertanian tempat mencari nafkah, melainkan sebuah hamparan kehidupan yang bernapas. Fathan teringat bagaimana ia sering berjalan beriringan dengan Bapaknya, Azlan, ketika matahari mulai condong ke barat.

"Bapak, kenapa kita harus selalu meluangkan waktu duduk di pematang sawah setiap sore?" tanya Fathan kecil kala itu, sambil sesekali menendang kerikil kecil di jalan setapak.

Azlan tersenyum hangat, tangan kasarnya yang memegang cangkul diletakkan di atas bahu Fathan. "Sawah ini bukan cuma tempat menanam padi, Nduk—nak. Sawah ini adalah guru yang sabar. Kalau kamu sedang penat dengan dunia, datanglah ke sini. Lihat bagaimana padi tumbuh; semakin berisi, dia akan semakin menunduk. Dan lihatlah luasnya langit di atas sana. Masalah sebesar apa pun yang kamu punya di rumah atau di sekolah, kalau disandingkan dengan luasnya alam ini, rasanya akan terasa lebih ringan."

Kenangan itu begitu tajam, seolah baru saja terjadi kemarin sore. Fathan bisa merasakan kembali kehangatan genggaman tangan bapaknya, mendengar suara gemercik air yang mengalir dari parit-parit kecil di sela-sela petak sawah, serta melihat pantulan langit jingga senja di permukaan air sawah yang baru dibajak.

Kini, kontras antara masa lalu dan masa kini terasa begitu menyiksa. Di kota ini, tidak ada pematang tempat ia bisa melangkah tanpa tergesa-gesa. Tidak ada cakrawala luas yang bisa dipandang untuk meredakan sesak di dada. Yang ada hanyalah tembok-tembok tinggi pembatas antar-gedung, menyisakan secuil langit persegi yang abu-abu.

"Fathan, kamu di dalam?" suara pemilik kos, Bu Siti, membuyarkan lamunannya dari balik pintu.

Fathan mengerjapkan mata, menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Iya, Bu? Ada apa?"

"Ini, ada paket titipan dari kurir kemarin sore, kebetulan ibu lupa kasihkan," jawab Bu Siti sambil mengetuk pintu dua kali.

Fathan membuka pintu, menerima sebuah kotak kardus kecil berukuran sedang. Setelah mengucapkan terima kasih, ia kembali menutup pintu dan meletakkan kotak itu di atas meja belajar. Dengan rasa penasaran, ia merobek lakban cokelat yang merekat di permukaan kotak. Di dalamnya, terselip sebuah amplop surat beraroma khas—aroma rumah—dan beberapa bungkus kecil keripik singkong buatan ibunya.

Ia membuka surat itu terlebih dahulu. Tulisan tangan ibunya yang rapi namun mulai sedikit gemetar menyapa matanya:

“Anakku Fathan, bagaimana kabarmu di sana? Ibu dan bapak di desa selalu mendoakanmu agar senantiasa sehat dan dimudahkan segala urusannya. Bapak kemarin baru saja selesai memanen petak sawah bagian barat. Hasilnya lumayan, cukup untuk kebutuhan kita beberapa bulan ke depan. Bapak bilang, kalau kamu sedang lelah di perantauan, ingatlah bahwa jalan pulang selalu terbuka. Jangan terlalu memorsir tenaga, kesehatan adalah yang utama...”

Lihat selengkapnya