Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Aroma Masakan yang Dirindukan

Malam di ibu kota tidak pernah benar-benar sunyi. Di luar jendela kamar kost Fathan yang berukuran tiga kali tiga meter itu, suara deru kendaraan bermotor berpadu dengan klakson yang bersahutan, menciptakan simfoni monoton yang melelahkan. Fathan duduk di tepi kasurnya yang busanya sudah mulai tipis, menatap layar ponsel dengan pandangan kosong. Notifikasi grup WhatsApp kantor berseliweran, mengingatkannya pada tenggat waktu laporan yang menumpuk untuk esok pagi. Namun, bukan pekerjaan itu yang merayapi pikirannya malam ini; melainkan sebuah sensasi kosong yang menggerus perutnya sejak jam delapan malam tadi.

Di atas meja belajarnya yang sempit, sebuah mangkuk plastik berisi mie instan mengepulkan uap tipis. Kuahnya yang berwarna merah pekat memantulkan cahaya lampu neon putih yang berkedip-kedip lemah. Fathan meraih sumpit kayu, mengaduk mie yang sudah mulai mengembang itu. Ia sudah terbiasa dengan menu ini. Dalam tiga tahun terakhir merantau demi mengejar impian karier, mie instan, nasi bungkus warteg pinggir jalan yang lauknya sering kali sudah dingin, atau roti tawar dengan selai murah telah menjadi makanan sehari-hari yang menemaninya bertahan hidup.

"Sudah makan belum, Fan?" tanya ibunya, Damirah, lewat sambungan telepon singkat tadi sore.

"Sudah, Bu. Tadi Fathan makan di warung dekat kantor," jawab Fathan berbohong. Ia tidak tega mengatakan bahwa uang saku bulanannya sudah menipis, dan ia harus berhemat agar cukup hingga minggu depan.

Kini, suapan pertama mie instan itu menyentuh lidahnya. Rasanya gurih buatan, penuh dengan penguat rasa yang langsung mencubit ujung lidahnya. Tidak ada kehangatan yang sesungguhnya. Hanya ada rasa asin yang tajam dan tekstur mie yang lembek karena terlalu lama direndam air panas. Fathan mengunyahnya pelan, sementara matanya menatap dinding kamar kost yang catnya mulai mengelupas di beberapa bagian. Pikirannya melayang jauh, menembus ratusan kilometer jarak antara kamar sempit ini dan rumah kecilnya di sudut desa.

❖ ❖ ❖

Ingatan itu selalu datang tanpa diundang, menyeruak di celah-celah kesunyian malam. Fathan menutup matanya sejenak, dan seketika aroma harum bawang merah dan cabai yang ditumis dengan minyak kelapa murni seolah menguar memenuhi ruangan kecilnya. Hidungnya berkedut. Ia seperti kembali mendengarkan suara kayu bakar yang berderak di dalam tungku tanah liat di dapur belakang rumah mereka.

Dulu, waktu matahari mulai tenggelam dan azan Magrib mengalun dari surau kampung, dapur rumah Damirah adalah jantung kehidupan. Ibu selalu sibuk bergerak kesana-kemari dengan daster katun sederhana yang ujungnya sering kali bergesekan dengan abu arang. Tangannya yang tidak pernah lelah tampak lihai mengupas bawang, memotong sayur lodeh, atau mengaduk wajan besar yang memuat ikan asin balado kesukaan anak-anaknya.

"Fathan, tolong ambilkan air di gentong, Nak! Sebentar lagi ikannya matang," panggil Ibu kala itu, suaranya selalu lembut namun tegas, mengalahkan suara jangkrik di luar rumah.

Fathan kecil yang sedang asyik bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk bali langsung berlari kecil menuju dapur. Di sana, di atas balai bambu yang menghadap langsung ke halaman belakang yang ditumbuhi pohon pisang, saudara-saudaranya yang lain—Rian dan Dinda—sudah duduk bersila dengan piring seng di depan mereka masing-masing. Suasana hangat itu begitu pekat, seakan dunia luar dengan segala keribetannya tidak pernah ada.

Ibu tidak pernah memasak makanan mewah. Hidangannya sangat sederhana: semangkuk sayur bayam bening dengan irisan temu kunci, sambal terasi yang diulek langsung di atas cobek batu tua, serta tempe goreng tepung yang garing di luar dan lembut di dalam. Namun, ada satu hal istimewa yang selalu dicurahkan Ibu ke dalam setiap masakan itu: cinta yang tulus tanpa syarat.

Ketika Fathan membuka mata kembali ke kamar kostnya, mangkuk mie instan di depannya terasa semakin hambar. Perutnya mungkin terisi, tetapi jiwanya mendadak terasa kosong. Di kota besar ini, ia bisa membeli makanan apa saja jika dompetnya tebal. Ada restoran Jepang, kedai cepat saji Amerika, hingga kafe-kafe kekinian dengan menu western yang harganya setara dengan jatah makan Fathan selama tiga hari. Tapi tidak ada satu pun dari tempat-tempat itu yang mampu menawarkan ketenangan batin yang ia rasakan di balai bambu dapur rumah ibunya dulu.

❖ ❖ ❖

"Mas, kok makannya mie terus? Nanti sakit perut," suara pemilik warung langganannya di ujung gang sempat terngiwang di telinga Fathan siang tadi.

Lihat selengkapnya