Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Ketegasan di Balik Jarak

Langit malam di atas kota rantau menggantung kelabu, tanpa bintang, tanpa sapaan hangat. Hanya deru kendaraan dari jalan raya di bawah jendela kamar kos yang menjadi latar suara konstan. Fathan duduk terpaku di tepi ranjang sempitnya, menatap layar ponsel yang menyala terang di dalam ruangan yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Layar itu menampilkan satu nama yang selalu berhasil mengaduk-aduk perasaannya: Kak Arizah.

Sudah tiga kali panggilan itu berdering tanpa diangkat, bukan karena Fathan sengaja mengabaikannya, melainkan karena ia ragu. Ia tahu betul apa makna dari panggilan malam-malam begini. Arizah bukan tipe kakak yang menelepon sekadar untuk berbasa-basi menanyakan kabar cuaca. Arizah adalah radar moral bagi keluarga mereka, sosok yang selalu bisa mencium aroma keputusasaan bahkan ketika Fathan berusaha menyembunyikannya di balik suara yang dibuat-buat ceria.

"Angkat atau biarkan mati?" gumam Fathan pelan, suaranya terdengar serak di telinganya sendiri.

Hari-hari belakangan ini memang bukan masa yang mudah bagi Fathan. Keputusannya untuk merantau ratusan kilometer meninggalkan kampung halaman ternyata menyisakan beban mental yang jauh lebih berat dari bayangannya semula. Biaya hidup yang tinggi, persaingan kerja yang ketat, serta penolakan demi penolakan yang ia terima dalam beberapa wawancara kerja terakhir telah menggerogoti sisa-sisa kepercayaan dirinya. Di kota sebesar ini, ia merasa seperti sebutir debu yang tidak terlihat oleh siapapun.

Dengan helaan napas panjang yang terasa berat di dadanya, Fathan akhirnya menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Halo, Assalamu'alaikum, Fathan," suara di seberang sana langsung menyapa. Tegas, jernih, dan langsung menghujam ke pusat kesadarannya. Tidak ada basa-basi.

"Wa'alaikumussalam, Kak," jawab Fathan pelan, berusaha sebisa mungkin menjaga nada suaranya agar terdengar datar dan stabil.

"Kamu dari tadi ke mana saja? Kenapa lama sekali mengangkat telepon? Suara kamu kenapa itu? Seperti orang habis kehabisan tenaga," cecar Arizah tanpa jeda, langsung menunjukkan insting tajamnya sebagai seorang kakak yang mengenal adiknya sejak kecil.

Fathan menelan ludahnya yang terasa kelat. "Tidak apa-apa, Kak. Fathan cuma baru selesai beres-beres kamar. Kecapekan sedikit saja."

"Jangan bohong sama Kakak, Fathan. Kita sudah terpisah jarak ratusan kilometer, tapi bukan berarti suara lelahmu bisa menipu telingaku. Ada apa di sana? Cerita sekarang." Arizah tidak memberi ruang bagi Fathan untuk berkelit. Nada bicaranya memancarkan otoritas seorang kakak yang sekaligus berfungsi sebagai pelindung dan pengarah.

Di balik jarak yang membentang luas antara kota tempat Fathan merantau dan rumah tempat Arizah tinggal bersama orang tua mereka, suara itu mendadak terasa begitu dekat. Seolah-olah Arizah sedang berdiri tepat di hadapannya, melipat tangan di dada dengan tatapan tajam menyelidik.

Fathan memejamkan matanya erat-erat. Pertahanan kecil yang ia bangun sepanjang hari tiba-tiba runtuh begitu saja mendengar nada bicara kakaknya yang penuh perhatian namun menuntut kejujuran mutlak.

"Fathan capek, Kak..." bisik Fathan, suaranya mulai bergetar. Kalimat itu akhirnya keluar juga, membuka gerbang bagi segala keluh kesah yang selama ini ia pendam sendirian di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter tersebut.

❖ ❖ ❖

"Capek itu wajar, Fathan. Kamu manusia, bukan mesin. Tapi jangan jadikan rasa capek itu sebagai alasan untuk menyerah dan melupakan tujuan awal kamu menginjakkan kaki di tanah rantau itu," balas Arizah langsung, memotong keluhan Fathan dengan kalimat yang tajam namun penuh penekanan makna.

Fathan meraba dinding kamar kosnya yang dingin. "Bukan cuma capek fisik, Kak. Rasanya berat sekali. Sudah tiga tempat melamar kerja, dan ketiganya menolak. Lamaran dikirim, hasilnya nihil. Fathan merasa seperti tidak punya kemampuan apa-apa. Kenapa dulu Kakak dan Ayah mengizinkan Fathan merantau kalau pada akhirnya hanya akan menjadi beban dan gagal seperti ini?"

"Astaghfirullah, Fathan! Jaga mulutmu!" Suara Arizah di seberang telepon meninggi sepersekian oktaf, menunjukkan ketegasan yang membuat Fathan langsung menciut. "Sejak kapan adikku menjadi seorang pengecut yang baru ditolak tiga kali langsung meragukan keputusan besar hidupnya?"

Fathan terdiam. Napasnya memburu di dalam ruangan yang pengap.

"Dengar, ya," lanjut Arizah dengan nada yang sedikit melunak namun tetap berwibawa. "Kamu berangkat ke sana bukan untuk mencari jalan mulus bertabur bunga. Kamu merantau untuk menempa diri. Ayah dan Ibu merestui langkahmu karena kami percaya kamu punya keteguhan hati. Kalau cuma mental tempe seperti ini yang kamu bawa, lebih baik kamu pulang sekarang dan jadi penonton di kampung halamanmu selamanya. Mau seperti itu?"

Pertanyaan retoris itu menghantam Fathan telak di bagian dada. Pulang dengan kegagalan adalah hal yang paling ia takuti. Bayangan wajah kecewa Ayah dan tatapan pasrah Ibu saat ia pamit berangkat dulu mendadak berkelebat di benaknya. Tidak, ia tidak boleh pulang dengan tangan hampa. Harga dirinya sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu dipertaruhkan di sini.

"Fathan tidak mau pulang dengan kegagalan, Kak," kata Fathan dengan suara parau.

"Kalau tidak mau gagal, jangan cengeng!" Arizah menegur lagi. "Ratusan kilometer jauhnya kamu dari rumah, bukan berarti kamu bisa meleem begitu saja lalu berharap masalah selesai sendiri. Di luar sana, ribuan orang bernasib sama atau bahkan lebih berat dari kamu. Tapi mereka tetap berjuang setiap subuh demi sesuap nasi dan masa depan. Kamu baru diuji sedikit saja sudah mau menyerah?"

Fathan mendengarkan dalam diam. Setiap kata yang diucapkan Arizah terasa seperti cambuk yang menyadarkannya dari lamunan keputusasaan. Jarak ratusan kilometer yang memisahkan mereka sama sekali tidak mengurangi kekuatan pengaruh sang kakak terhadap dirinya. Arizah selalu tahu bagaimana cara menarik Fathan kembali ke jalur yang benar setiap kali adiknya itu mulai tergiur untuk mengambil jalan pintas atau sekadar meratapi nasib.

"Fathan hanya merasa sendirian, Kak. Tidak ada tempat untuk mengadu," aku Fathan jujur, membiarkan kerapuhannya terlihat di hadapan kakaknya sendiri.

Lihat selengkapnya