Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Riuhnya Rumah yang Terkenang

Malam Minggu di ibu kota selalu memiliki ritmenya sendiri. Di luar jendela kamar kos Fathan yang berukuran tiga kali empat meter, deru kendaraan bermotor dan suara bising knalpot racing saling bersahutan tanpa kenal lelah. Lampu-lampu neon dari gedung-gedung tinggi di seberang jalan memantulkan pendar kemerahan yang menembus celah gorden tipis, menciptakan bayangan samar di dinding kamar yang bercat putih kusam. Namun, di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu tidur bercahaya kuning temaram itu, suasananya terasa begitu kontras: sunyi, senyap, dan pekat oleh kesendirian.

Fathan duduk bersila di atas kasur lipatnya yang menempel langsung ke lantai keramik dingin. Di pangkuannya, sebuah laptop terbuka dengan layar menyala menampilkan dokumen pekerjaan yang belum selesai, tetapi matanya tidak lagi menatap deretan angka di sana. Pikirannya telah melompati jarak ratusan kilometer, menerobos batas ruang dan waktu, kembali ke sebuah rumah sederhana di ujung desa. Di sanalah ia membayangkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara malam di kamar kos ini.

"Sedang apa kalian di sana, Gabina, Ghazi?" gumam Fathan pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara kipas angin berputar di sudut kamar.

Di dalam bayangannya, Fathan dapat dengan jelas membayangkan adegan yang sedang berlangsung di ruang keluarga rumah mereka saat ini. Ruangan itu, dengan segala kesederhanaannya, selalu menjadi pusat gravitasi yang menarik seluruh anggota keluarga berkumpul setelah seharian lelah beraktivitas. Di atas karpet bulu tipis yang sudah mulai botak di beberapa bagian, Gabina—adik perempuannya yang beranjak remaja—pasti sedang sibuk merebut remote televisi dari tangan Ghazi, adiknya yang paling bungsu dan paling usil.

"Kembalikan remote-nya, Ghazi! Kamu ini menonton kartun terus dari tadi sore!" protes Gabina dalam bayangan ingatan Fathan, nada suaranya yang melengking khas terdengar begitu hidup di kepala sang kakak.

"Tidak mau! Ini giliranku memilih saluran, Kakak. Tadi kan Kakak sudah menonton drama Korea yang bikin nangis-nangis bombay itu," balas Ghazi sambil menjulurkan lidah, berlari mengelilingi meja tamu kayu jati demi menghindari kejaran sang kakak.

Ibu Siti, yang duduk di kursi rotan sudut ruangan sambil melipat cucian pakaian, pasti akan menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum sabar. "Sudah, jangan bertengkar terus. Nanti remotenya rusak, siapa yang mau membetulkan?"

Sementara itu, Pak Joko—ayah mereka—biasanya hanya duduk tenang di kursi panjang sambil menyeruput segelas teh tubruk panas, menikmati tingkah laku kedua anak bungsunya yang selalu berhasil menghidupkan suasana rumah. Tawa lepas mereka, riuhnya canda tawa yang tumpah di ruangan sempit itu, adalah sebuah kemewahan mutlak yang tidak bisa dibeli dengan lembaran uang rupiah di kota besar.

Fathan menghela napas panjang, meresapi rasa rindu yang tiba-tiba menikam dadanya dengan cukup telak. Di kota ini, ia dikelilingi oleh jutaan manusia, namun malam minggu terasa begitu hampa. Tidak ada suara langkah kaki yang berlari di lorong rumah, tidak ada suara ribut memperebutkan saluran televisi, dan yang paling penting, tidak ada tawa renyah Gabina dan Ghazi yang biasa menjadi penawar penat setelah seminggu penuh berkutat dengan tekanan pekerjaan kantor yang menguras tenaga dan pikiran.

❖ ❖ ❖

Ingatan Fathan kemudian terlempar mundur ke beberapa minggu lalu, tepat sebelum ia memutuskan mengambil cuti panjang dan pulang ke desa untuk menata ulang hidupnya. Saat itu, hari baru saja beranjak malam ketika ia masih terjebak dalam rutinitas melelahkan di rumah. Ruang keluarga mendadak berubah menjadi panggung komedi kecil berkat ulah konyol Gabina dan Ghazi yang berhasil membuat seisi rumah terbahak-bahak tanpa henti.

Malam itu, cuaca di luar sangat dingin karena hujan gerimis turun sejak sore hari. Udara lembap membuat suasana rumah terasa malas, namun energi kedua anak bungsu tersebut justru seolah tak pernah ada habisnya. Gabina yang baru saja pulang dari kegiatan ekstrakurikuler teater di sekolahnya mendadak memiliki ide gila untuk mementaskan sebuah drama improvisasi singkat di tengah ruang keluarga.

"Perhatian, perhatian kepada seluruh penonton yang mulia! Malam ini kita kedatangan bintang tamu spesial dari planet Mars!" seru Gabina dengan suara lantang yang dibuat-buat, sambil menggunakan lampu senter ponsel sebagai pengganti lampu panggung sorot.

Ghazi, yang saat itu sedang asyik memakan pisang goreng buatan Ibu Siti, langsung mendongak dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. Alih-alih menjadi penonton yang pasif, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun itu langsung bangkit berdiri, menggunakan handuk mandi warna oranye yang disampirkan di bahunya sebagai jubah superhero.

"Aku bukan makhluk Mars! Aku adalah Kapten PISANG, penyelamat galaksi dari serangan rasa lapar yang kejam!"teriak Ghazi dengan gaya kaku, berjalan pincang menyerupai robot rusak di atas karpet.

Fathan, yang saat itu sedang duduk di sofa sudut sambil merapikan berkas kantor di laptopnya, sontak menoleh. Bibirnya langsung tertarik membentuk senyuman lebar melihat aksi konyol kedua adiknya.

"Kapten Pisang? Wah, musuhmu pasti pisang molen di warung depan dong, Ghazi?" seloroh Fathan dari sudut sofa, ikut melempar candaan untuk meramaikan suasana.

"Bukan, Kak Fathan! Musuhku adalah monster kebosanan yang sedang melanda Kakak karena kerja terus setiap hari!" balas Ghazi spontan, yang langsung disambut oleh tawa meledak dari Ibu Siti dan Pak Joko.

Gabina tidak mau kalah. Ia segera mengambil topi caping milik ayahnya yang tergantung di balik pintu, lalu mengenakannya terbalik di atas kepalanya. Dengan menggunakan gagang sapu sebagai tongkat sihir, ia berputar-putar di hadapan Ghazi sambil merapalkan mantra-mantra ngawur ciptaannya sendiri.

"Simsalabim abrakadabra! Berubahlah kamu menjadi seekor katak sawah yang suka bernyanyi di malam hari!" seru Gabina dengan ekspresi wajah dramatis yang dibuat-buat semirip mungkin dengan pesinetron papan atas.

Ghazi langsung menjatuhkan diri ke lantai karpet, berpura-pura kejang-kejang lucu layaknya seekor katak yang terkena sihir sakti, lalu mengeluarkan suara 'Kecipak-kecipuk, oek-oek!' dengan sangat keras. Aksi totalitas tanpa beban itu membuat Gabina sendiri tak kuasa menahan tawanya. Gadis itu terjongkok di lantai sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu kencang tertawa.

"Aduh, perutku sakit sekali, Ghazi! Aktingmu benar-benar buruk tapi lucu!" kata Gabina di sela-sela tawanya yang terbahak-bahak.

Pak Joko, yang duduk di kursi panjang, tertawa lepas hingga bahunya terguncang hebat. "Ada-ada saja kelakuan kalian berdua. Sudah, jangan bikin lantai kotor dengan pura-pura jadi katak begitu."

Lihat selengkapnya