Matahari pagi di desa belum sepenuhnya meninggi ketika Azlan melangkah keluar dari teras rumah, mengenakan topi bambu usang dan membawa cangkul kecil di bahunya. Udara terasa lembap, menyisakan sisa-sisa gerimis yang turun sepanjang malam. Di musim panen kali ini, langit seolah tidak bersahabat. Awan hitam menggantung rendah di atas petak-petak sawah, mengancam jerih payah para petani yang telah menanti selama berbulan-bulan.
Di dalam rumah, Damirah—atau yang akrab disapa Ibu oleh anak-anak mereka—tengah sibuk merapikan dapur setelah menyiapkan sarapan pagi. Suara gemerincing piring beradu dengan deru angin luar menciptakan irama desa yang khas. Namun, di balik kesibukan pagi itu, ada garis kecemasan yang tersirat di wajah Damirah. Semalam, suaminya pulang dengan wajah lelah setelah mengecek kondisi irigasi sawah di ujung dusun. Saluran air utama meluap akibat curah hujan yang terlalu tinggi, merendam sebagian besar padi yang siap dipanen.
Bagi keluarga Azlan dan Damirah, hasil panen bukan sekadar angka di atas kertas atau komoditas dagang semata. Sawah adalah sumber kehidupan utama, napas ekonomi keluarga, sekaligus titipan amanah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Ketika alam mulai menunjukkan ketidakpastiannya, di situlah ketahanan sebuah keluarga diuji secara nyata.
"Pak, apa tidak sebaiknya sarapan dulu sebelum ke sawah? Kelihatannya mendung di luar tidak akan segera reda," ujar Damirah dari ambang pintu dapur, membawa secangkir kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis.
Azlan menghentikan langkahnya, menoleh ke arah istrinya dengan senyuman tipis yang selalu berhasil menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. Lelaki paruh baya itu meletakkan cangkulnya bersandar di dinding luar, lalu mendekati Damirah.
"Iya, Bu. Mari kita makan bersama sebentar. Anak-anak sudah bangun?" tanya Azlan sambil menerima cangkir kopi dari tangan istrinya.
"Fathan dan kakaknya sedang bersiap di kamar belakang. Mereka sepertinya tahu kalau suasana hati bapaknya sedang memikirkan sawah," jawab Damirah lirih, suaranya menyiratkan empati yang mendalam terhadap beban pikiran suaminya.
Azlan menarik napas panjang, menghirup aroma kopi hitam bercampur udara pagi yang basah. Sebagai kepala keluarga, ia tahu betul bahwa kepemimpinannya tidak hanya diuji saat keadaan lapang, melainkan justru ketika badai kecil mulai menghantam sendi-sendi kehidupan mereka. Di hadapan istri dan anak-anaknya, Azlan harus tetap menjadi pilar yang kokoh, tidak mudah goyah oleh cuaca buruk atau kegagalan panen yang berada di luar kendali manusia.
"Jangan terlalu cemas, Bu," ucap Azlan menenangkan. "Apa pun yang terjadi hari ini, baik atau buruk hasil panen kita, itu adalah bagian dari takdir yang harus kita hadapi dengan kepala dingin. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi ujian ini bersama-sama sebagai satu kesatuan keluarga."
Damirah mengangguk pelan, merasakan kehangatan dari keteguhan iman suaminya. Ia tahu, di balik sosok Azlan yang tenang, tersimpan tanggung jawab yang berat untuk memastikan seluruh anggota keluarganya tetap bisa bertahan hidup dan melanjutkan pendidikan anak-anak mereka.
Tak lama berselang, langkah kaki berderap mendekati ruang tengah. Fathan bersama kakaknya muncul dengan seragam sekolah yang rapi, membawa tas ransel di bahu masing-masing. Suasana rumah yang tadinya diliputi kekhawatiran mendadak mencair oleh kehadiran keceriaan anak-anak muda tersebut.
"Pagi, Pak, Bu!" sapa Fathan ceria sambil menyalami tangan kedua orang tuanya secara bergantian. "Wah, kopi hitam dan sarapan sudah siap. Bau ikannya harum sekali, Bu!"
"Pagi juga, Nak. Ayo, cepat duduk, kita sarapan bersama sebelum kalian berangkat ke sekolah," ajak Damirah, mencoba menyembunyikan sisa-sisa kecemasannya di balik senyuman tulus seorang ibu.
Di meja makan sederhana itu, keluarga kecil tersebut berkumpul. Tidak ada keluh kesah berlebihan yang diucapkan di depan anak-anak. Azlan memimpin doa pagi dengan khusyuk, menyelipkan permohonan agar Allah senantiasa memberikan keberkahan dan ketabahan atas segala rezeki yang diberikan hari ini. Sarapan berlangsung hangat, seolah di luar sana tidak ada ancaman gagal panen yang sedang mengintai masa depan keluarga mereka.
❖ ❖ ❖
Setelah anak-anak berangkat menuju sekolah dengan sepeda ontel kesayangan mereka, suasana rumah kembali sunyi. Hanya tersisa Azlan dan Damirah di ruang tamu. Saat itulah ketegangan yang sempat ditutupi di depan anak-anak mulai mencuat ke permukaan secara nyata.
Azlan bangkit dari kursi, mengenakan kembali topi bambunya, dan bersiap melangkah menuju sawah. Damirah menyusul langkah suaminya hingga ke teras depan, membawa sebuah handuk kecil dan sebotol air minum untuk dibawanya ke ladang.
"Pak, benar kata Pak RT semalam... air di saluran irigasi bagian timur meluap cukup parah. Banyak petani lain yang juga mengeluhkan hal serupa. Kalau airnya tidak segera dialihkan, padi kita bisa busuk sebelum sempat dipanen minggu depan," kata Damirah dengan nada cemas, jemarinya meremas ujung kain kebaya yang dikenakannya.
Azlan berhenti sejenak, membalikkan badannya menghadap sang istri. Ia menatap mata Damirah lekat-lekat, mencoba menularkan ketenangan batin yang ia miliki kepada perempuan yang telah mendampinginya selama belasan tahun itu.
"Bapak tahu, Bu. Semalam Bapak sudah memikirkan beberapa cara untuk menyelamatkan sebagian tanaman padi kita. Memang benar cuaca sedang tidak bersahabat, tapi putus asa bukanlah pilihan bagi seorang petani, apalagi bagi seorang pemimpin keluarga," ujar Azlan dengan suara yang tegas namun penuh kelembutan.
Damirah menghela napas panjang. Ia tahu betul watak suaminya. Azlan bukan tipe lelaki yang suka mengeluh pada keadaan atau menyalahkan takdir tanpa berusaha terlebih dahulu. Semakin berat ujian yang datang, biasanya justru semakin tenang dan terarah langkah yang diambil oleh suaminya itu.
"Apa yang akan Bapak lakukan di sana nanti? Apakah perlu meminta bantuan warga desa yang lain?" tanya Damirah menyelidik.
"Tentu saja, Bu. Inilah indahnya kehidupan bermasyarakat di desa kita. Masalah seperti ini tidak bisa diselesaikan sendirian. Nanti di sawah, Bapak akan berkoordinasi dengan Pak RT dan para petani lainnya untuk membuka saluran air darurat menuju sungai pembuangan. Gotong royong adalah kunci utamanya," jawab Azlan sambil tersenyum menyemangati.
Mendengar penjelasan tersebut, rasa cemas di hati Damirah sedikit demi sedikit mulai mereda. Ia menyadari bahwa peran seorang istri di rumah bukan sekadar ikut merasa khawatir, melainkan menjadi penenang dan tempat pulang yang paling nyaman ketika suami berjuang di medan luar.
"Hati-hati di jalan, Pak. Jangan terlalu memaksakan diri jika tenaga sudah terkuras. Makanan siang nanti akan Ibu antarkan langsung ke sawah bersama Fathan sepulang sekolah," pesan Damirah sambil merapikan kerah baju koko suaminya.
"Baik, Bu. Terima kasih atas dukungannya. Doakan agar ikhtiar kita hari ini diberkahi kelancaran," balas Azlan sebelum melangkah menuruni anak tangga rumah, berjalan menyusuri jalan setapak desa menuju hamparan sawah yang terbentang luas di kejauhan.