Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Langkah Kecil Gabina dan Ghazi

Sore hari di desa selalu menghadirkan panorama yang menenangkan. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah seusai hujan gerimis yang sempat turun sesaat tadi siang. Daun-daun pisang di pekarangan belakang rumah melambai-lambai lembut, bergesekan satu sama lain menghasilkan suara gemerisik yang khas. Di tengah ketenangan suasana pedesaan tersebut, suasana di dalam rumah justru tampak sangat sibuk dan dinamis, kontras dengan kedamaian di luar.

Ibu sedang tampak kerepotan di area dapur belakang. Beliau baru saja pulang dari kegiatan musyawarah warga di balai desa, namun setibanya di rumah, cucian baju di mesin cuci ternyata belum sempat dipindahkan ke tempat jemuran, sementara adonan kue pesanan tetangga untuk acara arisan besok pagi harus segera disiapkan. Keringat tipis tampak membasahi pelipis Ibu. Di saat bersamaan, dua orang anak bungsu keluarga itu, Gabina dan Ghazi, baru saja pulang dari sekolah dengan membawa setumpuk tugas kelompok dan PR yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Gabina melangkah masuk ke ruang tengah sambil menyeret tas ranselnya dengan muka cemberut. "Ah, Ghazi ini gimana sih! Tadi waktu di jalan malah sengaja jalan lambat-lambat, jadi keburu sore begini. Padahal tugas kelompok biologi kita harus selesai sebelum magrib!" protes Gabina dengan nada suara yang meninggi, melampiaskan rasa kesalnya kepada sang kakak laki-laki.

Ghazi, yang berjalan tepat di belakang adiknya, langsung menghentikan langkah dan membalas dengan tatapan tidak kalah sengit. "Eh, jangan nyalahin aku ya, Gabina! Kakak kan tadi harus nungguin kamu ngobrol dulu sama temenmu di gerbang sekolah hampir setengah jam. Kamu sendiri yang lelet, giliran udah mepet gini malah panik sendiri!" balas Ghazi tidak mau kalah.

Ketegangan kecil itu langsung mencuat di ruang keluarga yang biasanya hangat. Gabina melipat kedua tangannya di dada, membuang muka ke arah jendela dengan napas memburu karena kesal. Sementara itu, Ghazi melemparkan buku-buku pelajarannya ke atas meja dengan kasar, membuat suara gedebuk pelan yang mengusik ketenangan ruangan. Di dapur, Ibu yang mendengar keributan kecil tersebut hanya bisa menghela napas panjang, merasa kewalahan karena tenaga dan pikirannya sudah terkuras habis seharian mengurus urusan luar rumah.

Perselisihan antara dua saudara kandung yang terpaut usia dua tahun itu sering kali meledak untuk hal-hal sepele. Bagi Gabina, Ghazi adalah sosok kakak yang sering menyebalkan dan kurang bisa diandalkan dalam keadaan darurat. Sebaliknya, bagi Ghazi, Gabina adalah adik yang keras kepala, tidak sabaran, dan selalu menuntut segalanya berjalan instan tanpa mau melihat situasi orang lain.

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tengah mendadak senyap sesaat setelah benturan argumen kecil itu mereda oleh rasa canggung. Ghazi memilih duduk di lantai bersandar pada sofa, membuka buku paket biologinya dengan ekspresi wajah yang masih jengkel. Di sisi lain sofa, Gabina mengeluarkan lembar tugas dari dalam tasnya dengan kasar, mencoret-coret kertas buram menggunakan pulpen demi melampiaskan kekesalannya.

"Sudah, jangan diterusin bertengkarnya. Suara kalian sampai kedengaran ke dapur," sebuah suara lembut menyelak di antara keheningan yang kurang mengenakkan itu.

Arizah melangkah masuk dari arah dapur membawa segelas air hangat untuk Ibu yang sedang kelelahan. Sebagai anak tertua yang selalu menjadi pilar ketenangan di rumah, Arizah tidak pernah tinggal diam melihat adik-adiknya mulai bersitegang. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil, lalu mendekati area tempat Gabina dan Ghazi duduk bersebelahan namun saling membuang muka.

"Kalian ini sudah besar, tapi kalau ada masalah sedikit langsung saling menyalahkan," kata Arizah dengan nada tenang namun tegas. Ia mendudukkan diri di antara mereka berdua, merapikan lembar tugas Gabina yang nyaris terlipat kusut.

"Kak, Ghazi tuh yang mulai duluan," cerca Gabina cepat, mencoba membela diri dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena kelelahan dan tekanan tugas. "Tugas biologinya banyak banget, terus harus bikin laporan praktikum tentang struktur sel tumbuhan. Kalau nggak selesai malam ini, besok pagi kita pasti dihukum Bu Guru."

Ghazi mendengus pelan, menatap kakaknya dengan pandangan memohon pemakluman. "Bukan gitu, Kak. Aku bukannya nggak mau cepet-cepet pulang. Tadi ban sepeda rantainya nyaris lepas, jadi aku harus benerin dulu di bengkel pak Slamet sebentar. Kalau dipaksain ngebut, malah bahaya di jalan."

Arizah mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak dengan saksama, tanpa memotong atau memihak salah satu. Ia tahu persis karakter adik-adiknya. Di balik pertengkaran kecil yang sering terjadi, sebenarnya tersimpan rasa saling peduli yang kuat, hanya saja terkadang ego remaja menutupi cara mereka berkomunikasi dengan baik.

Lihat selengkapnya