Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Surat dari Kota

Suasana bising di pusat kota seolah bersekongkol untuk meremukkan sisa-sisa kewarasan Fathan hari itu. Pukul tiga sore, langit di atas distrik perkantoran itu berubah kelabu pekat, memantulkan warna baja yang dingin dan mengancam. Di dalam bilik kubikal kantornya yang sempit, Fathan menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Baris-baris data di Excel tampak berbayang, melebur menjadi satu kekacauan visual yang mencerminkan isi kepalanya saat ini. Proposal proyek yang telah ia garap selama tiga minggu penuh, yang ia curigai menyita sebagian besar waktu tidurnya, ditolak mentah-mentah oleh sang manajer pemasaran hanya dalam waktu kurang dari lima menit.

"Revisi total, Fathan. Ini terlalu kaku dan tidak punya daya jual," ucap Pak Bram tadi pagi dengan nada datar yang terkesan meremehkan, sebelum melempar berkas itu kembali ke atas meja Fathan.

Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang macet di nada yang sama. Fathan merasa seluruh tenaga di tubuhnya tersedot habis. Beban hidup di perantauan, tekanan finansial yang terus menghimpit, ditambah kegagalan profesional yang bertubi-tubi dalam sebulan terakhir, membuatnya merasa berada di titik terendah. Ia menelungkupkan wajahnya di atas meja kerja, membiarkan dinginnya permukaan kayu menyerap panas dari keningnya yang berdenyut nyeri.

Di sekelilingnya, rekan-rekan kerja berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Ada yang berdebat lewat sambungan telepon, ada yang mengetik dengan kecepatan tinggi, dan ada pula yang tertawa lepas karena lelucon ringan. Namun, Fathan merasa dirinya terisolasi di dalam sebuah gelembung kedap udara yang menyesakkan. Rasa lelah yang teramat sangat menjalar dari ujung kaki hingga ke pangkal lehernya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama bertahan di kota besar ini, sebuah bisikan lemah muncul di benaknya: Menyerahlah. Pulang saja sekarang. Tinggalkan semua mimpi bodoh ini.

Keinginan untuk membereskan barang-barang ke dalam ransel, berjalan keluar gedung, dan langsung menuju stasiun kereta demi memesan tiket pulang ke kampung halaman begitu menggebu. Fathan bahkan bisa membayangkan betapa tenangnya udara desa, betapa lembutnya teras rumah tempat ia bisa meluruskan kaki tanpa harus memikirkan target penjualan atau tenggat waktu yang tidak masuk akal. Namun, di saat bersamaan, rasa gengsi dan tanggung jawab besar berbenturan keras di dalam dadanya.

Ia menarik napas panjang, mencoba meredakan gemetar di ujung jemarinya. Udara AC kantor yang kering terasa menusuk tenggorokan. Fathan menegakkan kembali punggungnya, lalu meraih ponsel yang tergeletak diam di samping cangkir kopi kosong. Layar ponsel itu gelap, mencerminkan wajahnya yang kusam, lelah, dan tampak jauh lebih tua dari usianya yang sebenarnya.

"Apakah aku memang tidak becus?" gumam Fathan pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara deru mesin pendingin ruangan.

❖ ❖ ❖

Kegagalan di kantor bukanlah satu-satunya hal yang merontokkan semangat Fathan hari itu. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta rel listrik yang padat, ia harus berdiri berdesakan, terjepit di antara ratusan penumpang lain yang wajahnya juga sama lelahnya. Bau keringat, udara pengap, dan guncangan gerbong yang keras membuat kepala Fathan semakin pening. Sesampainya di kosannya yang berukuran tiga kali tiga meter, ia langsung menjatuhkan diri ke atas kasur busa tipis tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.

Kamar kos itu sunyi, terlalu sunyi. Hanya ada suara dengungan kipas angin plastik berkarat yang berputar lemah di sudut ruangan, mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali baling-balingnya berputar. Fathan menatap langit-langit kamar yang bernoda kecoklatan akibat rembesan air hujan musim lalu. Pikirannya melayang jauh, menerobos jarak ratusan kilometer antara kota metropolitan yang bising ini dan rumah masa kecilnya yang tenang di desa.

"Kenapa rasanya begitu berat?" bisiknya lagi, matanya terasa panas. Ada air mata kejantanan yang mendesak hendak keluar, buah dari akumulasi kepenatan yang tidak lagi sanggup ia bendung.

Di kota ini, Fathan merasa dirinya hanyalah sebutir debu yang tidak terlihat. Tidak ada yang peduli apakah ia makan dengan teratur, apakah ia bisa tidur dengan nyenyak, atau apakah ia sedang memikul beban mental yang hampir mematahkan punggungnya. Semua orang berlari mengejar ambisi masing-masing, saling sikut tanpa sempat menoleh ke belakang. Di tempat rantau ini, kegagalan sekecil apa pun harus ditanggung sendiri tanpa ada tempat untuk bersandar.

Fathan bangkit dari tidurnya dengan gerakan lunglai. Ia berjalan menuju meja kecil di dekat jendela, berniat membuka laptop untuk merevisi proposal yang ditolak tadi. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol daya pada laptopnya, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar pelan, mengeluarkan bunyi notifikasi pesan singkat yang memecah keheningan kamar.

Sebuah pesan masuk. Bukan dari rekan kantor, bukan pula dari klien yang menagih pekerjaan, melainkan sebuah pesan dari nomor yang sangat ia hafal di luar kepala: Bapak.

Fathan menelan ludah yang terasa kelat. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, seolah takut bahwa pesan tersebut membawa kabar buruk dari kampung. Dengan jari yang sedikit ragu, ia membuka aplikasi perpesanan dan membaca rentetan kalimat yang tertera di layar kecil itu. Pesan yang tidak panjang, namun ditulis dengan ketulusan yang langsung menghujam jantungnya.

Lihat selengkapnya