Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Tetangga adalah Saudara

Matahari akhir pekan merangkak naik perlahan di atas ufuk timur desa, memancarkan sinarnya yang hangat dan keemasan menembus celah-celah dedaunan pohon kelapa yang melambai-lambai ditiup angin pagi. Suasana pagi di pedesaan selalu memiliki magis tersendiri yang mampu menenangkan siapa saja yang menyaksikannya. Di teras depan rumah sederhananya, Fathan duduk termenung di atas kursi kayu usang sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat yang mengepulkan uap tipis ke udara. Aromanya yang khas berpadu sempurna dengan bau tanah basah sisa embun pagi, menciptakan ketenangan yang sudah lama tidak ia rasakan di tengah kerasnya rimba beton kota besar.

Pandangan mata Fathan menerawang jauh melewati halaman depan yang kini ditumbuhi beberapa tanaman hias dan pot bunga milik ibunya. Di seberang jalan setapak, terlihat beberapa warga desa sudah mulai beraktivitas dengan santai. Ada Pak Mangku yang sedang mendorong gerobak berisi hasil panen singkong, dan beberapa ibu tetangga yang berjalan beriringan sambil membawa bakul bambu menuju pasar kecamatan, saling melempar senyum ramah dan sapaan hangat yang tulus. Pemandangan sederhana itu mendadak memicu gelombang memori di dalam kepala Fathan, membawanya melayang pada sebuah kilas balik mendalam tentang bagaimana kehidupan sosial di desa ini telah mengubah cara pandangnya terhadap arti hidup bermasyarakat.

Fathan teringat persis pada minggu pertama kepindahan keluarganya ke desa tersebut, ketika ketakutan dan kecurigaan masih mendominasi benaknya akibat trauma tekanan hidup di kota. Dulu, Fathan mengira bahwa manusia di mana pun sama saja—penuh perhitungan, egois, dan hanya peduli pada urusan masing-masing. Namun, desa ini membuktikan hal yang sebaliknya. Di sini, ungkapan bahwa tetangga adalah saudara terdekat bukan sekadar slogan kosong di dinding balai desa, melainkan sebuah praktik nyata yang hidup dan bernapas dalam keseharian warganya.

Ia teringat hari di mana keluarganya baru saja tiba dengan truk pindahan yang muatannya tidak seberapa. Belum sempat barang-barang diturunkan sepenuhnya, tiga orang pemuda desa tetangga—yang bahkan belum kenal nama mereka—langsung datang membawa air kendi dan menawarkan tenaga tanpa diminta. Mereka mengangkat kardus-kardus berat, membantu memasang lemari tua yang hampir roboh, dan menyambut keluarga Azlan dengan senyuman lebar tanpa ada motif tersembunyi. Tidak ada pertanyaan interogatif tentang status sosial atau latar belakang utang piutang keluarga mereka; yang ada hanyalah uluran tangan tulus yang meringankan beban pundak ayahnya yang sudah mulai membungkuk.

"Pagi, Fathan! Tumben sudah duduk melamun di teras pagi-pagi begini," sebuah suara ramah menyapa dari arah samping, membuyarkan lamunan panjang pemuda itu.

Fathan terperanjat kecil, lalu menoleh dan mendapati Pak RT setempat, Pak Slamet, tengah berjalan pelan melintasi pagar bambu rumahnya sambil mengenakan topi koboi kain khas petani dan membawa sabit kecil di bahunya.

"Eh, pagi juga, Pak RT. Silakan mampir dulu, ngopi bareng," balas Fathan sambil tersenyum ramah, berdiri sejenak untuk menyambut kedatangan tetua kampung yang sangat disegani tersebut.

"Wah, kebetulan sekali aroma kopi hitamnya sampai ke jalan bikin saya tergoda," jawab Pak Slamet tertawa renyah, lalu melangkah masuk ke halaman dan duduk di kursi kayu kosong di samping Fathan. "Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu? Sehat semuanya?"

"Alhamdulillah sehat, Pak. Ayah lagi di belakang merapikan kandang ayam, kalau Ibu sedang menyiapkan sarapan," jawab Fathan sopan sambil menuangkan s kopi ke dalam cangkir bersih lainnya untuk Pak Slamet.

Interaksi singkat yang penuh kehangatan itu bagaikan cerminan kecil dari ribuan momen serupa yang dialami Fathan selama tinggal di desa. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kehidupannya di kota besar dulu, di mana bertahun-tahun tinggal di satu gedung apartemen yang sama bahkan tidak membuat Fathan mengenal nama tetangga sebelah pintunya sendiri.

❖ ❖ ❖

Kenangan Fathan tentang masa-masa hidup di kota besar selalu menyisakan rasa sesak di dadanya. Di kota, manusia hidup berdesak-desakan di dalam gedung tinggi, namun jiwa mereka terisolasi di balik pintu-pintu besi yang terkunci rapat. Setiap orang berlari mengejar bayang-bayang kesuksesan material, mengabaikan kehadiran sesama manusia di sekitarnya. Fathan ingat betul bagaimana keluarga mereka pernah mengalami masa-masa paling kritis secara finansial di kota, ketika usaha ayahnya bangkrut dan tumpukan surat peringatan utang berdatangan setiap hari.

Pada masa-masa kelam itu, tidak ada satu pun tetangga kota yang datang menawarkan bantuan atau sekadar menanyakan kabar. Yang ada hanyalah tatapan curiga, ketus, atau bahkan cibiran sinis di balik punggung ketika keluarga mereka terlihat kesulitan membayar iuran kebersihan lingkungan. Rasa individualisme yang akut telah merusak jalinan empati sosial di perkotaan. Setiap individu dipaksa untuk bertahan hidup sendiri, menjadikan orang lain sebagai pesaing alih-alih sebagai saudara.

"Fathan, melamun lagi, Nak?" tanya Pak Slamet sambil menyeruput kopi hangat buatan Fathan dengan nikmat, membuyarkan kembali kilas balik pahit yang sempat menghantui pikiran pemuda tersebut.

Fathan menggeleng pelan sambil tersenyum kikuk. "Ah, tidak apa-apa, Pak. Saya cuma sedang membandingkan suasana pagi di sini dengan waktu kami masih tinggal di kota dulu. Jauh banget bedanya."

Pak Slamet meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja kayu, lalu menatap Fathan dengan pandangan bijak seorang orang tua yang telah makan asam garam kehidupan. "Namanya juga kota besar, Fathan. Di sana itu roda ekonomi berputar begitu cepat sampai-sampai orang tidak sempat lagi menengok kanan kiri. Semua orang sibuk dengan urusan perut dan gengsi masing-masing. Kalau tidak punya uang, ya dianggap angin lalu."

"Benar juga kata bapak," timpal Fathan pelan. "Dulu waktu kami jatuh di kota, rasanya dunia ini begitu kejam dan sempit. Kami merasa sendirian menanggung semuanya, seolah-olah kesalahan kecil bisa langsung menghancurkan hidup kami tanpa ada yang peduli."

"Makanya, begitu pindah ke sini, Ayahmu sempat ragu apakah kalian bisa betah," lanjut Pak Slamet sambil menepuk pelan bahu Fathan. "Tapi bapak selalu bilang ke warga, di desa kita ini, hukum tertinggi bukan soal siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling peduli dengan tetangganya. Kalau ada yang susah, kita pikul bersama. Kalau ada yang senang, kita syukuri bersama. Itulah indahnya hidup bermasyarakat."

Kata-kata Pak Slamet itu meresap dalam ke lubuk hati Fathan. Ia teringat kejadian beberapa bulan lalu ketika ibunya jatuh sakit mendadak di tengah malam karena kelelahan mengurus rumah baru. Di kota, memanggil ambulans atau mencari bantuan medis darurat di tengah malam butuh biaya besar dan prosedur yang rumit. Namun di desa ini, begitu mendengar kabar dari ayahnya yang mengetuk rumah tetangga terdekat, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tiga orang tetangga langsung datang membawa tandu darurat, menyiapkan mobil pikap bak terbuka milik warga lain, dan mengantar ibunya ke puskesmas kecamatan tanpa meminta sepeser pun imbalan.

Bahkan, keesokan harinya, rumah mereka mendadak penuh dengan rantang makanan, buah-buahan segar dari kebun tetangga, dan tawaran bantuan untuk menjaga rumah serta mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Pengalaman traumatis itu membuka mata Fathan bahwa ikatan sosial yang tulus adalah benteng pertahanan terbaik bagi manusia di saat krisis melanda.

Lihat selengkapnya