Angin malam di pengujung bulan berembus kencang, membawa debu jalanan dan bau bensin yang pekat menembus celah ventilasi kamar kost Fathan yang sempit. Di atas meja belajar plastik berwarna merah, tumpukan kertas laporan kerja paruh waktu dan modul kuliah berserakan tanpa aturan, diterangi oleh cahaya lampu meja neon yang berpendar kekuningan. Fathan duduk membungkuk di kursi kayu yang keras, matanya menatap nanar ke layar laptop yang menampilkan barisan angka laporan keuangan yang tampak berputar-putar di kepalanya.
Sudah empat minggu penuh ia menjalani rutinitas ganda yang melelahkan: kuliah di pagi hingga siang hari, lalu melanjutkan bekerja di sebuah kafe kecil di pusat kota dari sore hingga tengah malam. Tubuhnya yang tadinya bugar kini tampak semakin kurus, pipinya tirus, dan lingkaran hitam tebal membingkai kedua matanya akibat kurang tidur yang kronis.
"Fathan, pastikan laporan stok bahan baku kafe selesai sebelum besok pagi ya," pesan manajer kafe siang tadi masih terngiang-ngiang dengan jelas di dalam kepalanya, menambah beban psikologis yang menghimpit dadanya.
Fathan mengangkat tangan kanannya untuk memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut nyeri. Kepalanya terasa berat, seolah ada batu besar yang menimpa tempurung kepalanya. Suhu tubuhnya mulai terasa hangat sejak sore tadi, namun ia mengabaikannya karena mengira itu hanya rasa lelah biasa akibat terlalu lama menatap layar komputer. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, namun udara yang dihirupnya justru terasa hampa dan menyesakkan rongga dadanya.
Di sudut ruangan, jarum jam dinding menunjuk tepat pukul sebelas malam. Tenggorokannya terasa kering, panas, dan sakit setiap kali ia mencoba menelan ludah. Fathan bangkit dari kursi dengan gerakan lambat dan sempoyongan. Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap gulita selama beberapa detik, membuatnya harus mencengkeram tepi meja belajar erat-erat agar tidak jatuh tersungkur ke lantai keramik yang dingin.
"Astaga... ada apa dengan tubuhku?" bisik Fathan dengan suara serak, hampir tidak terdengar di tengah sunyinya malam kamar kost tersebut.
Ia menyeret kakinya yang terasa begitu berat menuju kamar mandi luar di ujung lorong untuk membasuh muka. Air keran yang mengalir terasa begitu dingin menyentuh kulit wajahnya yang panas, namun itu sama sekali tidak meredakan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Ketika ia kembali ke dalam kamarnya, rasa dingin yang menusuk tulang tiba-tiba menyerang sekujur tubuhnya, membuatnya menggigil hebat meskipun ia sudah mengenakan jaket tebal berlapis dua.
Fathan menyadari bahwa pertahanan fisik yang ia banggakan selama ini akhirnya jebol juga. Kelelahan yang menumpuk selama berminggu-minggu tanpa istirahat yang layak kini menagih bayarannya dengan kontan, meruntuhkan ketahanan tubuh pemuda rantau itu tanpa ampun di tengah kesunyian kota yang tak peduli.
❖ ❖ ❖
Serangan demam tinggi datang dengan cepat, melumpuhkan sekujur sendi dan otot Fathan hingga ia tidak sanggup lagi berdiri tegak. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia merangkak naik ke atas kasur busa tipisnya, lalu menarik selimut wol usang hingga menutupi seluruh tubuhnya yang bergetar hebat karena menggigil. Rasanya sekujur tulangnya diremukkan secara perlahan, sementara keringat dingin mulai bercucuran membasahi kemeja flanel yang ia kenakan.
"Ya Allah... dingin sekali," rintih Fathan di balik selimut, giginya beradu mengeluarkan suara ketukan kecil yang konstan.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, kesunyian terasa begitu menekan dada. Tidak ada siapa pun yang menyadari kondisinya. Di luar pintu kamarnya, lorong lantai dua kost tampak sepi karena para penghuni lain telah terlelap atau belum pulang bekerja. Fathan meraba saku celananya dengan tangan yang gemetar untuk mengambil ponsel pintar yang layarnya sudah retak di bagian sudut.
Ia membuka aplikasi pesan singkat, berniat untuk mengirim pesan kepada ibunya di kampung halaman. Namun, begitu ia melihat jam di layar ponsel yang menunjukkan pukul setengah dua malam, jari-jarinya mendadak berhenti bergerak di atas papan ketik virtual.
"Jangan... jangan buat ibu khawatir," gumam Fathan pelan pada dirinya sendiri. Ia tahu persis bagaimana kondisi kesehatan ibunya di desa yang sering mendadak pusing jika terlalu banyak memikirkan anak-anaknya. Jika ia menelepon dan mengabarkan bahwa dirinya sedang terbaring sakit parah seorang diri di kota, ibunya pasti akan panik luar biasa dan tidak bisa tidur sepanjang malam.
Fathan memilih untuk mematikan kembali layar ponselnya dan meletakkannya di samping bantal. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba menahan rasa sakit yang bergemuruh di sekujur tubuhnya. Pikirannya melayang kembali ke masa-masa ia masih tinggal di rumah orang tuanya di desa.
Setiap kali ia jatuh sakit atau sekadar mengalami demam ringan saat kecil, rumah itu selalu berubah menjadi tempat perlindungan yang paling aman di dunia. Ibunya pasti akan langsung sigap datang membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengompres keningnya yang panas. Ayahnya akan berjalan mondar-mandir mencari tanaman herbal di pekarangan belakang atau membelikan obat di warung kelontong terdekat, lalu duduk berjam-jam di sisi tempat tidur sambil mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Fathan, minum dulu teh hangat buatan ibu biar badannya enakan," suara lembut ibunya terngiang jelas di telinga batinnya, begitu nyata hingga ia hampir bisa mencium aroma teh manis bercampur jahe merah yang menenangkan.