Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Keputusan untuk Pulang

Layar monitor di meja kerja Fathan menampilkan sisa waktu kerja yang tinggal menghitung menit. Pukul 16.50 sore, hari Jumat di penghujung bulan yang terasa begitu panjang. Suara ketukan kibor dari rekan-rekan sekantor mulai melambat, digantikan oleh suara beres-beres meja dan obrolan ringan tentang rencana akhir pekan. Di sudut ruangan, Pak Hartono, atasannya, tampak berdiri sambil merapikan jas kerjanya sebelum bersiap meninggalkan ruangan.

Fathan menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Di hadapannya, sebuah lembar permohonan cuti elektronik masih terbuka di layar komputer, menunggu satu klik terakhir pada tombol "Kirim". Ada keraguan kecil yang sempat singgah di benaknya—apakah pekerjaannya sudah cukup aman untuk ditinggal selama beberapa hari? Apakah laporan keuangan cabang utara yang ia kejar seminggu belakangan tidak akan menimbulkan masalah baru saat ia tinggalkan?

Namun, keraguan itu langsung ditepis oleh bayangan kalender dinding di kamar kost-nya yang telah ia tandai dengan lingkaran merah tebal. Libur panjang akhir pekan ini berpadu dengan hak cuti tahunannya yang belum tersentuh.

"Fathan, jadi ambil cuti minggu depan?" suara rekan semejanya, Dimas, membuyarkan lamunan Fathan. Dimas menoleh sambil merapikan dokumen ke dalam tas ranselnya.

"Jadi, Dim. Ini tinggal klik kirim aja," jawab Fathan dengan senyum tipis yang tak mampu ia sembunyikan dari wajahnya.

"Wah, mantap! Mau ke mana nih? Liburan ke Bali atau Lombok?" tanya Dimas penasaran, merespons dengan nada bercanda khas anak muda kota.

"Enggak jauh-jauh, Dim. Cuma mau pulang kampung. Udah beberapa bulan ini nggak nengok rumah di desa," balas Fathan, sementara jemarinya akhirnya bergerak memindahkan kursor tetikus dan mengeklik tombol pengajuan cuti.

Notifikasi: Pengajuan cuti Anda telah berhasil dikirim dan disetujui secara otomatis oleh sistem.

Sebuah kelegaan seketika menjalar ke seluruh aliran darahnya. Beban berat yang selama ini menumpuk di pundaknya seolah terangkat separuh. Tidak ada lagi tumpukan surel mendesak, tidak ada lagi dering telepon klien yang memekakkan telinga untuk beberapa hari ke depan. Yang ada di dalam kepalanya kini hanyalah bayangan jalanan desa, udara pagi yang sejuk tanpa polusi, dan tentu saja wajah kedua orang tuanya.

Ia segera membereskan meja kerjanya dengan gerakan gesit yang tidak biasa. Berkas-berkas dirapikan ke dalam laci, laptop kantor dimasukkan ke dalam tas pelindung, dan cangkir kopi kosong miliknya diletakkan di dekat wastafel pantry.

"Duluan ya, Dim! Selamat menikmati akhir pekan panjang!" seru Fathan setengah berlari kecil menuju pintu keluar kantor.

"Iya, Fathan! Hati-hati di jalan, salam buat keluarga di kampung!" balas Dimas melambaikan tangan.

Langkah kaki Fathan terasa begitu ringan saat ia menuruni anak tangga gedung perkantoran. Udara senja ibu kota yang biasanya terasa pengap dan melelahkan, sore ini mendadak terasa bersahabat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan kilau jingga di atas aspal basah sisa hujan siang tadi. Fathan berjalan menuju halte bus dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Kali ini, ia tidak lagi merasa menjadi bagian dari gerombolan orang lelah yang berjalan tanpa arah. Ia memiliki tujuan. Ia memiliki rumah yang sedang menunggunya pulang.

❖ ❖ ❖

Sesampainya di kamar kost, suasana hening yang biasanya terasa menyesakkan kini berubah menjadi ruang penuh antisipasi. Fathan melempar tas kerjanya ke atas kasur dengan penuh semangat. Ia segera menarik sebuah koper kain berukuran sedang dari kolong tempat tidur—koper yang sama yang ia bawa saat pertama kali datang merantau dengan sejuta kecemasan di dada beberapa bulan lalu.

Kini, koper itu bukan lagi simbol keterasingan, melainkan kendaraan menuju kehangatan.

"Pertama, baju ganti secukupnya. Jangan kebanyakan, nanti berat di jalan," gumam Fathan pada dirinya sendiri, mulai membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa helai kemeja serta celana santai.

Ia melipat pakaian-pakaian itu dengan teliti, menyusunnya rapi di dalam kompartemen koper. Di sela-sela kegiatannya, pikirannya sudah terbang mendahului kendaraan yang akan membawanya melintasi ratusan kilometer jalan darat dan rel kereta api. Ia membayangkan bagaimana ekspresi ibunya nanti ketika melihatnya tiba-tiba muncul di ambang pintu rumah. Apakah ibunya akan menjatuhkan panci di dapur karena terkejut? Apakah ayahnya akan tersenyum lebar sambil melepaskan kacamata bacanya?

Rasa antusias itu bergemuruh di dalam dadanya, menciptakan sensasi deg-degan yang menyenangkan, jauh berbeda dari debaran jantung penuh tekanan saat ia menghadapi deadline di kantor.

Ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari grup keluarga, kali ini dari sang adik, Rian.

Fathan tertawa kecil membaca pesan tersebut. Ia segera mengetik balasannya dengan penuh semangat.

Melihat balasan dari ibunya, dada Fathan terasa menghangat. Ada aliran kebahagiaan murni yang merayap naik, menghapus seketika sisa-sisa keletihan fisik yang sempat mendera tubuhnya sepanjang minggu kerja kemarin. Ia merasa seperti seorang anak kecil yang tidak sabar menunggu hari raya tiba.

Ia melanjutkan packing-nya. Oleh-oleh berupa kue khas kota perantauan dan beberapa bungkus kopi pilihan untuk ayahnya ia tata dengan hati-hati di bagian atas koper agar tidak hancur selama perjalanan.

Namun, di balik gelombang antusiasme itu, terselip pula sedikit kecemasan logistik. Besok adalah hari Sabtu, puncak dari libur panjang akhir pekan. Bisa dipastikan stasiun kereta api akan dipadati oleh ribuan perantau lain yang memiliki niat serupa: pulang ke pelukan keluarga.

"Semoga tidak kehabisan tiket tambahan, atau antreannya tidak terlalu panjang," batin Fathan sambil memastikan dompet, kartu identitas, dan tiket kereta digital di ponselnya sudah tersimpan dengan aman di dalam tas kecil yang akan ia bawa di dada.

❖ ❖ ❖

Malam semakin larut, namun kantuk enggan menghampiri mata Fathan. Ia duduk bersila di atas lantai kamarnya yang kini dikelilingi oleh barang-barang yang sudah siap dimasukkan ke dalam koper. Di atas meja kecil, tiket kereta api keberangkatan pukul 07.15 pagi esok hari tertera jelas di layar ponselnya.

Ia memandangi tiket itu sambil tersenyum sendiri. Perjalanan pulang ini terasa begitu sakral. Selama berbulan-bulan, ia hidup dalam ritme mesin kota besar—bangun pagi, berdesakan di transportasi umum, bekerja di balik kubikel sempit, lalu pulang ke kamar kost yang sunyi. Ia telah terbiasa menelan setiap kepenatan seorang diri, menjadi dewasa secara paksa di tengah riuhnya orang-orang asing.

Tetapi malam ini, batasan-batasan itu terasa runtuh. Besok, ia tidak lagi menjadi "Fathan si anak rantau yang kesepian". Besok, ia akan kembali menjadi "Fathan, anak laki-laki satu-satunya di rumah keluarga".

"Rasanya baru kemarin aku melambaikan tangan di stasiun saat keberangkatan dulu," kenang Fathan pelan, menatap langit-langit kamar kost yang bercat putih kusam.

Ingatannya melayang pada hari pertama ia menginjakkan kaki di kota ini. Rasa takut, minder, dan kebingungan bercampur menjadi satu. Kota besar menyambutnya dengan tangan besi, memaksa siapa pun untuk berlari kencang atau tergilas oleh zaman. Dan ia telah berlari. Ia telah bertahan sejauh ini.

Lihat selengkapnya