Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Pintu Gerbang Rindu

Matahari tengah berada di puncaknya, menggantung angkuh di langit biru yang luas tanpa awan sedikit pun. Sinar teriknya memantul di permukaan air yang menggenang di petak-petak sawah, menciptakan hamparan cermin raksasa yang menyilaukan mata. Fathan menarik napas panjang, membiarkan udara desa yang kaya akan aroma tanah basah, sisa embun yang menguap, dan wangi padi yang mulai menguning masuk memenuhi paru-parunya. Ini adalah oksigen yang berbeda, sangat jauh dari udara kota yang ia hirup selama berbulan-bulan, yang selalu tercampur dengan debu knalpot dan aroma polusi yang menyesakkan.

Langkah kaki Fathan terasa ringan, meski tas punggung yang ia bawa terasa cukup berat karena penuh dengan oleh-oleh yang ia beli dengan susah payah dari sisa tabungan gajinya. Jalan setapak berbatu di pematang sawah ini adalah jalur yang ia lewati ribuan kali semasa kecil. Dulu, ia sering berlari di sini tanpa alas kaki, mengejar capung atau sekadar berlomba dengan Rian hingga napasnya tersengal. Kini, sepatu ketsnya yang sudah berdebu tebal tampak kontras dengan hijaunya padi di kanan kiri.

"Sudah hampir sampai," gumamnya pada diri sendiri, suaranya hampir hilang ditelan desiran angin yang menggoyang dedaunan pohon kelapa di kejauhan.

Pohon-pohon besar yang menjadi penanda masuk ke wilayah rumahnya sudah terlihat. Ada pohon mangga gadung di depan pintu gerbang kayu yang catnya sudah memudar dimakan usia. Fathan berhenti sejenak, menatap ke arah halaman depan rumahnya yang luas. Rumah itu masih sama, sebuah bangunan kayu bergaya tradisional dengan dinding yang terbuat dari papan kayu jati yang sudah menghitam karena cuaca. Halaman depan itu tampak bersih, tersapu rapi dengan sapu lidi, persis seperti kebiasaan Damirah yang tidak tahan melihat setitik sampah pun berserakan di depan rumahnya.

Keheningan desa siang itu terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk stasiun kereta atau terminal bus yang baru saja ia tinggalkan. Tidak ada suara klakson, tidak ada teriakan pedagang asongan, hanya ada kicauan burung gereja yang bersahutan dan sesekali suara gesekan daun pisang tertiup angin sepoi-sepoi. Fathan merasakan dadanya yang semula terasa sesak oleh beban pekerjaan dan ambisi kota, perlahan mulai mengembang kembali. Rasa lelah yang sempat menumpuk di pundaknya selama perjalanan delapan jam di atas kereta ekonomi kini perlahan luntur, seolah terhapus oleh magisnya ketenangan desa.

Ia mulai melangkah kembali, kali ini dengan tempo yang lebih cepat. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena kelelahan, melainkan karena antusiasme yang membuncah. Ia membayangkan bagaimana reaksi penghuni rumah saat melihatnya datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia ingin memberikan kejutan, sebuah kejutan manis yang akan memecah kesunyian siang hari di rumah itu. Dengan tangan yang sedikit berkeringat, ia mencengkeram erat tali tasnya, siap untuk melangkah melintasi ambang pintu yang selama ini hanya bisa ia kunjungi dalam mimpi-mimpinya yang paling dalam.

❖ ❖ ❖

Saat Fathan sudah menapak di halaman depan, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenal dari arah teras rumah. Itu adalah suara tawa renyah Gabina dan Ghazi, dua adiknya yang kini pasti sudah beranjak remaja. Mereka tampak sedang duduk di kursi kayu panjang, sibuk dengan buku-buku pelajaran sekolah yang berserakan.

"Kak, lihat ini, apa jawabannya benar?" tanya Ghazi dengan nada antusias.

"Bukan begitu, Ghazi. Kamu harus teliti membaca soalnya," sahut suara lembut Gabina, yang segera diikuti oleh derai tawa mereka berdua.

Fathan tersenyum lebar. Ia memilih untuk tidak langsung memanggil. Ia ingin menikmati momen ini lebih lama, sebuah pemandangan kehidupan yang normal dan damai yang sangat jarang ia temukan di tengah kerasnya tuntutan pekerjaan di kota. Ia berjalan mengendap-endap, menghindari tumpukan ranting kering di tanah agar suaranya tidak terdengar. Tepat saat ia hampir mencapai tangga teras, seekor ayam jago tiba-tiba berlari melintas di depannya dengan suara kokok yang memecah ketenangan.

"Lho, ada siapa itu?" seru Gabina yang langsung menoleh ke arah halaman.

Mata kedua adiknya itu membelalak lebar saat melihat sosok Fathan berdiri mematung di sana dengan ransel besar di punggungnya. Untuk sesaat, mereka terdiam, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Kak Fathan!" teriak Ghazi lebih dulu, melompat dari kursinya dan berlari sekuat tenaga ke arah kakaknya.

"Mas Fathan?" Gabina menyusul di belakangnya, wajahnya dipenuhi raut takjub.

Dalam sekejap, Fathan sudah dikepung oleh kedua adiknya. Ghazi langsung memeluk pinggangnya dengan erat, sementara Gabina menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pelukan itu begitu kuat dan tulus, sebuah sambutan yang tidak akan pernah ia dapatkan di lobi kantor yang dingin atau di apartemen sewaan yang asing. Di mata mereka, Fathan adalah pahlawan, sosok kakak yang sedang berjuang di kota untuk masa depan keluarga.

"Kapan sampai, Kak? Kok tidak bilang kalau mau pulang?" cecar Gabina sambil membantu Fathan melepas tas berat dari punggungnya.

Lihat selengkapnya