Langit sore di desa kelahirannya merona jingga, memantulkan bias cahaya matahari yang perlahan tergelincir di balik jajaran bukit hijau. Udara desa yang sejuk dan kaya akan aroma tanah basah serta jerami menyambut langkah Fathan begitu ia menjejakkan kaki di halaman rumah. Setelah berbulan-bulan bergulat dengan debu jalanan, kebisingan kendaraan kota, dan kerasnya tekanan mental di perantauan, akhirnya ia bisa kembali berdiri di tempat di mana segala mimpi dan tekadnya bermula.
Langkah kakinya terasa ringan namun menyimpan debar halus di dada. Ada rasa rindu yang teramat sangat, bercampur dengan kelegaan luar biasa karena ia pulang bukan sebagai seorang pecundang yang menyerah, melainkan sebagai seorang pemuda yang berhasil bertahan, belajar, dan membawa pulang buah dari keteguhan yang sempat hampir runtuh di tanah rantau.
Dari ambang pintu depan, suara derap langkah kaki berat terdengar mendekat. Sesosok pria paruh baya dengan garis-garis ketegasan di wajahnya dan sisa peluh di kening muncul menyambut kepulangannya. Bapak (Azlan), sosok pemimpin keluarga yang selama ini menjadi pilar utama penopang hidup mereka, berdiri di sana dengan sorot mata yang memancarkan wibawa luar biasa. Tidak ada senyum lebar yang berlebihan, tetapi ada kehangatan yang terpancar jelas dari tatapan matanya yang teduh namun tajam.
"Assalamu'alaikum, Bapak," sapa Fathan dengan suara bergetar, langsung melangkah maju dan meraih tangan kasar pria paruh baya itu untuk dicium dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Fathan," jawab Azlan dengan suara baritonnya yang tenang, berat, dan penuh wibawa. Tanpa banyak bicara, tangan kekar Azlan yang biasa bekerja keras mengolah tanah dan menghidupi keluarga itu terulur merengkuh tubuh Fathan. Ia menarik anak laki-lakinya itu kedalam sebuah pelukan hangat yang begitu kokoh.
Bagi Fathan, pelukan seorang pemimpin keluarga ini selalu memiliki kekuatan magis. Di dalam deapan lengan Bapaknya, segala lelah perjalanan ratusan kilometer, rasa penat dari penolakan-penolakan kerja di kota, hingga keraguan yang sempat membayangi pikirannya seolah lenyap seketika. Pelukan itu menegaskan bahwa bagaimanapun dunia luar memperlakukannya dengan kejam, rumah ini adalah tempat di mana ia selalu diterima dan diakui sebagai seorang pejuang.
"Kamu sudah tumbuh semakin dewasa, Nak,"bisik Azlan tepat di telinga Fathan, suaranya mengandung getar kebanggaan yang jarang sekali ia tunjukkan secara terbuka. "Bapak tahu merantau itu tidak pernah mudah. Tapi kamu telah membuktikan bahwa kamu mampu bertahan melewati badai pertamamu di sana."
Fathan mengeratkan pelukannya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Air mata haru hampir menetes di sudut matanya, namun ia berusaha menahannya demi menjaga wibawanya di hadapan sang ayah. "Terima kasih, Pak. Berkat doa dan didikan Bapak selama ini, Fathan bisa bertahan sampai detik ini."
Azlan melepaskan pelukan itu perlahan, menepuk-nepuk pundak Fathan dengan mantap. "Masuklah ke dalam. Kakakmu sudah menyiapkan air hangat dan makanan di meja. Perjalananmu panjang, istirahatkan dirimu sejenak."
❖ ❖ ❖
Sebelum Fathan sempat melangkah lebih jauh melewati ruang tamu, derap langkah ringan yang khas terdengar dari arah dapur. Sosok seorang perempuan muda dengan kerudung sederhana tersenyum manis menghampiri mereka. Arizah, kakak perempuan sekaligus penasihat moral yang suaranya pernah menyelamatkan Fathan dari keputusasaan di malam-malam dingin perantauan, berdiri dengan tatapan mata yang berbinar-binar penuh kebanggaan.
Senyuman itu begitu tulus, menyiratkan betapa ia sangat menghargai proses perjuangan yang telah dilalui oleh adiknya. Jarak ratusan kilometer yang selama ini memisahkan mereka seolah tidak pernah ada ketika melihat bagaimana Fathan kini pulang dengan postur yang lebih tegap dan mental yang jauh lebih matang.
"Wah, lihat siapa yang sudah pulang dengan selamat," sapa Arizah dengan nada riang namun tetap menyiratkan ketegasan seorang kakak. "Kira-kira, mental 'tempe' yang kamu bawa waktu pertama kali berangkat dulu sudah berubah jadi mental baja belum?"
Fathan tertawa kecil, rasa canggung yang sempat hinggap seketika mencair mendengar candaan khas kakaknya itu. "Sudah dong, Kak. Kalau tidak, mungkin sekarang Fathan sudah jadi gelandangan di kota orang," balas Fathan dengan senyuman lebar.
Arizah mendekat, lalu dengan sengaja menepuk pelan lengan Fathan. "Bagus kalau sadar. Makanya, jangan pernah meremehkan nasihat orang yang lebih tua lagi, ya. Telepon panjang kita malam-malam dulu itu ternyata mempan juga menyadarkan kepala batu kamu."
"Ampun, Kak. Ampun. Fathan ingat betul setiap omelan Kakak waktu itu. Bahkan suara Kakak sempat terngiang-ngiang setiap kali Fathan mau nyerah di hadapan bos-bos perusahaan," aku Fathan jujur, membuat Arizah terkekeh pelan.
Suasana di ruang keluarga itu mendadak menjadi sangat hidup. Kehadiran Fathan melengkapi kembali formasi keluarga kecil mereka yang sempat terasa lengang selama beberapa bulan terakhir ditinggal merantau. Azlan berjalan mendahului mereka menuju sofa kayu jati tua di ruang keluarga, sementara Arizah memberi isyarat kepada Fathan untuk segera mengikuti sang ayah.
"Mari duduk, Fathan. Jangan biarkan bapakmu menunggu lama. Beliau baru saja pulang dari kebun, tapi matanya sudah berbinar sejak tadi mendengar kabar kamu turun dari bus," kata Arizah lembut sambil merapikan beberapa buku catatan yang tergeletak di atas meja.
Fathan mengangguk, lalu berjalan menyusul Azlan dan duduk bersila di atas karpet ruang keluarga. Aroma teh hangat yang baru diseduh oleh Arizah mulai mengepul di atas meja, menyebarkan wangi melati yang menenangkan. Ruangan ini menyimpan ribuan kenangan masa kecil Fathan, tempat di mana ia diajarkan arti tanggung jawab, kerja keras, dan pentingnya menjaga harga diri seorang laki-laki.
"Bagaimana pekerjaanmu di sana sekarang, Fathan? Apakah sudah mulai ada titik terang setelah sekian banyak hambatan di awal?" tanya Azlan langsung membuka obrolan begitu mereka semua duduk dengan nyaman. Suara berat sang ayah langsung memusatkan perhatian kedua anaknya.
❖ ❖ ❖