Matahari perlahan-lahan tenggelam di balik garis horizon barat, meninggalkan gradasi warna jingga kemerahan yang berangsur-angsur melebur ke dalam pekatnya malam. Di desa yang tenang, malam tidak pernah datang dengan kebisingan mesin atau kilau lampu neon yang menyilaukan mata, melainkan disambut oleh simfoni alam berupa suara jangkrik, kepak sayap kelelawar malam, dan tiupan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma tanah basah seusai disiram gerimis sore tadi. Di tengah suasana yang damai itu, sebuah rumah sederhana berdinding bata putih memancarkan cahaya kekuningan yang hangat dari celah-celah jendela kayunya.
Di ruang keluarga yang menyatu dengan area dapur, denyut kehidupan keluarga Fathan berpusat di satu tempat yang paling dirindukan: meja makan kayu jati tua yang permukaannya sudah mulai mengkilap karena puluhan tahun pemakaian. Meja itu tidak besar, namun malam ini tampak penuh dan meriah oleh kehadiran seluruh anggota keluarga yang berkumpul secara lengkap tanpa ada yang kurang satupun. Pak Joko duduk di ujung meja dengan senyuman khasnya, sementara Ibu Siti sibuk mondar-mandir dari kompor ke meja membawa mangkuk-mangkuk tanah liat berisi hidangan yang masih mengepulkan asap tipis.
Fathan, yang baru saja tiba dari perantauannya beberapa hari lalu, duduk di kursi kayu di sisi kanan meja. Di hadapannya, aroma masakan rumahan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan di dalam kamar kos sempit di ibu kota kini menyeruak masuk ke indra penciumannya dengan begitu nyata. Bau harum bawang putih goreng yang ditaburkan di atas sayur sop, wangi khas sambal terasi mentah buatan tangan ibunya, serta gurihnya ikan asin gabus goreng berpadu menjadi satu, menciptakan sebuah aroma rindu yang seketika membuat perutnya berkeroncong.
"Ayo, Fath, jangan hanya dipandangi sajiannya. Ambil nasi secukupnya sebelum keburu dingin," ujar Ibu Siti lembut sambil meletakkan piring besar berisi nasi putih pulen hangat di tengah-tengah meja makan.
Fathan tersenyum lebar, menatap wajah ibunya yang tampak begitu berbinar-binar malam ini. "Iya, Bu. Dari tadi siang aku sudah membayangkan saat-saat bisa makan bersama lagi di meja ini."
"Makanya, jangan terlalu lama di kota terus. Badanmu terlihat agak kurus, Fath. Kurang makan sayur segar dan kurang tidur yang cukup, ya?" timpal Pak Joko sambil mengambil sepotong tahu goreng dan meletakkannya di atas piringnya sendiri.
"Pekerjaan di Jakarta memang menuntut banyak energi, Ayah, tapi sekarang aku sudah membuat aturan baru untuk timku agar tidak ada lagi lembur sampai larut malam," jawab Fathan membela diri sambil tertawa kecil, mengambil sendok nasi dan mulai menyendok porsi yang cukup besar ke piringnya.
Suasana di sekitar meja makan itu langsung terasa begitu hidup dan hangat. Di ujung seberang, Gabina dan Ghazi—dua adik bungsu Fathan—sudah saling berebut mangkuk sambal terasi dengan gestur jenaka yang mengundang senyum siapa saja yang melihatnya. Tidak ada batasan formalitas, tidak ada kecanggungan, dan yang paling penting, tidak ada bayang-bayang tekanan pekerjaan atau target perusahaan yang mengekang pikiran Fathan. Di bawah temaram cahaya bohlam kuning gantung di atas meja makan, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan kesempatan bagi setiap anggota keluarga untuk menikmati detik demi detik kebersamaan yang sangat berharga ini.
❖ ❖ ❖
Hidangan sederhana yang tersaji di atas meja malam itu bukanlah makanan mewah dari restoran bintang lima di ibu kota. Tidak ada daging wagyu mahal, tidak ada saus jamur truffle berharga jutaan rupiah, dan tidak ada tata hidangan artistik bertingkat. Namun, bagi Fathan, setiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulutnya malam ini memiliki cita rasa yang jauh melampaui hidangan termahal manapun di dunia.
Ibu Siti mengambilkan sesendok penuh sayur bening bayam dengan irisan jagung manis, lalu menaruhnya ke mangkuk kecil Fathan. "Makan yang banyak, Nak. Ini bayam baru dipetik tadi sore dari kebun belakang rumah bibimu. Masih segar sekali."
Fathan mengangguk penuh rasa terima kasih, lalu mencicipi kuah sayur bayam tersebut. Rasa gurih yang pas, berpadu dengan kesegaran daun bayam dan manisnya jagung, langsung menghangatkan tenggorokannya. Ia kemudian mencocol sepotong ikan asin gabus ke dalam sambal terasi mentah yang pedasnya menggigit lidah, lalu menyantapnya bersama nasi putih hangat. Sensasi rasanya meledak di dalam mulut, menciptakan perpaduan rasa rindu, nostalgia, dan kebahagiaan yang sangat murni.
"Bagaimana, Mas? Masakan Ibu masih enak seperti dulu, atau lidahmu sudah terbiasa dengan makanan cepat saji di Jakarta?" seloroh Gabina di sela-sela kunyahannya, menatap sang kakak dengan mata berbinar jahil.
Fathan menelan makanannya sambil tersenyum lebar. "Mana bisa masakan restoran cepat saji menandingi masakan Ibu, Gabina? Sampai kapan pun, masakan Ibu adalah juara nomor satu di seluruh dunia."
Mendengar pujian itu, Ibu Siti tersipu malu sambil mengibas-ngibaskan tangannya pelan. "Ah, kamu ini Fathan, kalau memuji ibumu selalu berlebihan. Padahal ini hanya masakan desa biasa dari bahan-bahan seadanya."
"Justru karena sederhana itulah istimewanya, Bu," sahut Pak Joko menimpali sambil menuangkan air putih dari kendi tanah liat ke dalam gelas-gelas kaca milik anak-anaknya. "Di kota, orang-orang bisa membeli apa saja dengan uang, tapi mereka tidak bisa membeli ketulusan yang diaduk ke dalam masakan seorang ibu untuk anak-anaknya."
Obrolan di meja makan itu terus mengalir secara natural, diselingi oleh gelak tawa renyah dari Ghazi yang sengaja membuat lelucon konyol tentang bentuk tahu goreng yang mirip kepala robot alien. Suasana makan malam berubah menjadi sebuah perayaan kecil atas kepulangan Fathan dan keutuhan keluarga yang jarang bisa berkumpul secara lengkap akibat jarak dan kesibukan.
Fathan menghentikan sejenak aktivitas makannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja makan, memperhatikan satu per satu wajah orang-orang yang paling ia cintai. Ia melihat kerutan di ujung mata ayahnya yang bertambah seiring bertambahnya usia, melihat guratan kelegaan di wajah ibunya yang tidak lagi menyimpan cemas, serta melihat keceriaan murni yang terpancar dari tawa adik-adiknya. Di saat-saat seperti inilah Fathan menyadari sebuah kebenaran hakiki tentang arti hidup yang sempat ia lupakan selama bertahun-tahun di rantau.
Selama ini, ia mengira bahwa kebahagiaan sejati dapat diukur dari seberapa tinggi jabatan yang ia capai, seberapa besar angka saldo di rekening banknya, atau seberapa megah tempat tinggal yang ia miliki di kota besar. Namun, duduk di kursi kayu usang ini, di bawah atap rumah sederhana yang mulai berlumut, Fathan merasakan kepuasan batin yang jauh lebih dalam dibandingkan pencapaian material apa pun. Kebahagiaan ternyata sesederhana duduk bersama orang-orang tercinta di sekeliling meja makan, berbagi cerita hari itu, dan mensyukuri setiap butir nasi yang tersaji di atas piring.
❖ ❖ ❖
Suasana makan malam yang tadinya penuh dengan canda tawa riuh mendadak sedikit melambat ketika piring-piring mulai kosong dan sisa-sisa makanan mulai dirapikan ke pinggir meja. Ibu Siti mulai menuangkan air hangat ke dalam cangkir-cangkir kecil untuk suaminya dan Fathan, sementara Gabina dan Ghazi mulai berdebat kecil tentang siapa yang bertugas mencuci piring malam ini—sebuah rutinitas rumah tangga yang justru sangat dirindukan oleh Fathan.
"Giliran Kak Gabina yang cuci piring malam ini! Kemarin kan sudah bagianku saat sore hari," protes Ghazi dengan bibir mengerucut pura-pura ngambek.