Pulang ke Pelukan Desa

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Refleksi di Teras Rumah

Sore hari merayap turun dengan anggun, membasuh langit desa yang luas dengan sapuan warna jingga keemasan yang berpadu sempurna dengan semburat ungu tua. Udara desa berembus pelan, membawa aroma khas jerami basah yang berpadu dengan wangi tanah sehabis hujan siang tadi. Di teras rumah kayu yang sudah menua namun kokoh itu, Fathan duduk sendiri di atas kursi rotan kesayangannya. Hari ini adalah senja terakhir sebelum ia harus kembali berkemas, meninggalkan pelukan hangat rumah, dan kembali menyongsong kerasnya roda kehidupan di kota metropolitan esok pagi.

Koper hitam miliknya sudah berdiri tegak di dekat pintu depan, seolah menjadi pengingat yang kejam bahwa waktu liburnya telah habis tersita. Tas ransel kerja yang biasa menemaninya berdesakan di kereta rel listrik juga sudah siap di atas meja sudut. Namun, pandangan Fathan justru terpaku jauh ke luar pagar, menatap jalanan desa yang lengang. Sesekali lewat seorang petani yang berjalan memikul cangkul di bahunya sambil melambaikan tangan menyapa. Fathan membalasnya dengan senyuman ramah dan anggukan kepala.

Di tempat inilah, di teras rumah yang menjadi saksi bisu pertumbuhan hidupnya, segala ingatan berkelebat silih berganti di dalam kepalanya. Fathan memejamkan matanya sejenak, membiarkan angin sore menyapu helaian rambutnya dan mendinginkan kulit wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba merekam sebanyak mungkin aroma desa yang sebentar lagi harus ia tukar kembali dengan polusi, asap knalpot, dan debu jalanan ibu kota.

"Lagi ngelamun apa, Nak? Kok sendirian aja dari tadi?" suara lembut Ibu menginterupsi keheningan, membuyarkan lamunan panjang Fathan.

Fathan membuka matanya, menoleh ke arah pintu dan mendapati ibunya berdiri membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat serta piring kecil berisi pisang goreng buatan tangan beliau sendiri. Ibu melangkah pelan, lalu meletakkan nampan tersebut di atas meja kayu kecil di hadapan Fathan sebelum ikut duduk di kursi sebelah.

"Enggak, Bu. Fathan cuma lagi merhatiin sore ini. Rasanya baru kemarin Fathan turun dari bus dengan muka babak belur karena stres kerjaan, sekarang udah mau balik lagi aja," jawab Fathan pelan sambil tersenyum tipis.

Ibu menatap sang anak sulung dengan tatapan penuh kehangatan, sorot mata yang selalu berhasil meredakan segala ketakutan di hati Fathan. "Waktu itu memang cepat berlalu kalau kita jalani dengan ikhlas, Fathan. Yang penting, selama kamu di sini, tenaga dan hatimu sudah terisi penuh lagi."

Fathan mengangguk pelan. Ia meraih cangkir teh hangat yang disodorkan ibunya, menikmati uap tipis yang mengepul membawa aroma melati yang menenangkan. Perjalanan hidupnya selama ini terbentang luas di dalam pikirannya, sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan keringat, air mata, kegagalan kecil, hingga kemenangan-kemenangan kecil yang dirayakan secara sederhana di rumah ini.

❖ ❖ ❖

"Bapak mana, Bu?" tanya Fathan setelah meneguk sedikit teh manisnya yang terasa manis pas di lidah.

"Lagi di belakang, beresin kandang kambing sebentar. Sebentar lagi juga kesini," jawab Ibu sambil mengambil sepotong pisang goreng hangat, lalu menyodorkannya ke piring Fathan. "Makan dulu masi hangat, nanti keburu dingin gak enak rasanya."

Fathan mengambil pisang goreng itu, menggigitnya pelan. Rasa manis pisang berpadu dengan tepung crispy yang gurih langsung memenuhi rongga mulutnya. Tidak ada makanan di restoran mewah kota mana pun yang bisa menandingi rasa pisang goreng buatan Ibu. Makanan sederhana ini selalu menyimpan rasa rindu yang mendalam setiap kali Fathan berada jauh di perantauan.

"Fathan sering mikir, Bu..." ucap Fathan memulai kembali percakapan, suaranya terdengar sedikit parau karena gelombang emosi yang tiba-tiba bergemuruh di dadanya. "Kenapa hidup di kota itu rasanya melelahkan sekali? Kenapa setiap hari kita harus berlari mengejar sesuatu yang kadang-kadang kita sendiri tidak tahu bentuknya?"

Ibu tersenyum bijak, jemputannya yang sudah keriput mengusap lembut punggung tangan Fathan. "Namanya juga merantau, Nak. Kamu sedang mencari jalannya sendiri di dunia luar. Kota besar itu ibarat kawah candradimuka, tempat kamu diuji, ditempa, dan dibentuk supaya menjadi manusia yang tahan banting. Kalau hidupmu lempeng-lempeng saja tanpa tantangan, kamu tidak akan pernah tahu seberapa kuat otot mental yang kamu punya."

"Tapi kadang lelahnya itu sampai ke tulang, Bu," aku Fathan jujur, meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. "Waktu proposal Fathan ditolak, waktu gaji pas-pasan buat bayar kos dan cicilan, Fathan sempat mikir buat nyerah aja. Mau pulang kampung terus jadi petani kayak Bapak."

Mendengar pengakuan itu, Ibu tidak marah atau meremehkan. Beliau justru tertawa kecil, suara tawa yang sarat akan pengalaman hidup puluhan tahun. "Pulang kampung itu bukan bentuk kegagalan, Fathan. Rumah ini selalu terbuka lebar buat kamu kapanpun kamu mau pulang. Tapi, Bapak dan Ibu tahu persis anak sulung kami ini punya tekad yang kuat. Kamu bukan tipe orang yang lari dari medan perang sebelum pertempuran selesai."

"Ibu benar..." gumam Fathan menatap nanar ke arah halaman depan. "Fathan memang tidak mau menyerah begitu saja. Terutama setelah Fathan ingat wajah Bapak dan Ibu, serta tingkah konyol Gabina dan Ghazi."

Kehadiran keluarga di desa, dengan segala kesederhanaan dan ketulusan mereka, adalah jangkar yang menahan kapal kecil Fathan agar tidak hancur diterjang badai ombak di lautan kota yang kejam. Cinta tanpa syarat yang diberikan oleh orang tua dan saudara-saudaranya merupakan bahan bakar tak kasat mata yang membuat Fathan selalu sanggup bangkit setiap kali ia terjatuh.

❖ ❖ ❖

Tak lama kemudian, Bapak muncul dari arah samping rumah, berjalan pelan sambil menepuk-nepuk debu di celana kainnya yang sudah agak pudar. Pria paruh baya itu tersenyum melihat anak sulungnya sedang duduk berdua dengan ibunya di teras. Bapak melangkah mendekat, lalu menarik kursi kayu bambu dan mendudukkan diri di sisi lain meja.

Lihat selengkapnya