Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Simfoni Pagi di Rumah Tua

Cahaya matahari pagi merangsek masuk melalui celah-celah genting tua dan jendela kayu jati yang catnya mulai mengelupas. Rumah peninggalan kakek di sudut kota lama ini selalu menyambut hari dengan cara yang sama: gaduh, hangat, dan penuh kehidupan. Aroma kopi tubruk bercampur wangi mentega yang meleleh di atas wajan menggantung di udara, mengusir sisa-sisa dingin malam yang mendekam di sudut-sudut ruangan.

Di dapur yang luas namun tampak usang itu, Bi Turi mondar-mandir dengan lincah, membalik deretan panekuk di atas teflon sambil bersenandung kecil. Tangannya yang keriput namun cekatan tidak pernah berhenti bergerak.

"Fita, jangan ambil keju itu sebelum semuanya siap di meja!" suara Bi Turi meninggi, setengah memperingatkan, saat melihat jemari kecil mencuri sepotong keju cheddar dari piring saji.

Seorang anak perempuan berambut sebahu dengan kuncir kuda—Fita—tertawa kecil sambil memasukkan potongan keju itu ke dalam mulutnya. Kembarannya, Gita, muncul sedetik kemudian dari balik lemari es dengan membawa sebotol selai stroberi.

"Biarin, Bi! Fita lapar, semalam dia begadang nonton video masak di tablet," bela Gita, membela saudarinya sambil meletakkan botol selai di atas meja makan kayu yang panjang.

"Bukan nonton masak, tapi nonton eksperimen sains gunung berapi!" sanggah Fita dengan mulut masih penuh keju, membuat pipinya menggembung lucu. "Gita juga tidur paling malam karena ngerjain tugas sejarah."

"Sudah-sudah, jangan saling tuduh di pagi hari. Pamali," ucap Samaira lembut, baru saja melangkah masuk ke dapur dengan mengenakan apron kain bermotif bunga seruni. Rambut panjangnya dicepol longgar, menyisakan beberapa helai anak rambut di sekitar leher jenjangnya. Ia tersenyum hangat melihat tingkah si kembar. "Gita, tolong bantu ambilkan piring saji di rak atas. Fita, cuci tanganmu sekarang sebelum Bi Turi benar-benar menyita jatah panekukmu."

"Baik, Ma!" seru si kembar serempak, kepatuhan yang dibuat-buat namun selalu berhasil mencairkan suasana.

Samaira beralih membantu Bi Turi meracik teh hangat di teko tanah liat. Di tengah kesibukan itu, Arkan muncul dari lorong kamar tidur. Pria berbadan tegap itu mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang lengannya dilipat sampai siku, menampilkan otot lengan bawah yang kokoh dan garis rahang yang tegas khas seorang arsitek lapangan. Ia mengusap matanya yang masih mengantuk sebelum mendaratkan satu kecupan ringan di pucuk kepala Samaira.

"Pagi, Sayang. Rumah ini sudah ramai sejak jam lima rupanya," gumam Arkan dengan suara bariton yang serak khas bangun tidur.

"Pagi juga. Makanya, kalau tidur jangan suka begadang sampai jam dua malam demi menyelesaikan blueprint proyek jembatan itu," balas Samaira sambil menyerahkan segelas air hangat kepada suaminya.

Arkan meneguk air itu perlahan, matanya menerawang menatap seisi ruangan. "Proyek itu butuh ketelitian tinggi, Mai. Sedikit saja salah hitung, struktur fondasinya bisa bergeser. Tapi, melihat pemandangan pagi ini di rumah kita... lelahku rasanya langsung menguap."

"Jangan merayu pagi-pagi, Arkan. Sarapan sudah mau siap. Panggil anak-anak untuk duduk di meja," kata Samaira, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum simpul yang manis.

❖ ❖ ❖

Suasana hangat di meja makan mendadak sedikit bergeser ketika dering ponsel Arkan bergetar di atas meja. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan nama klien utama mereka: Pak Hartawan. Arkan melirik sekilas, lalu menghela napas panjang sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Pak Hartawan? Ada yang bisa saya bantu pagi ini?" tanya Arkan, nada suaranya berubah menjadi profesional dalam hitungan detik.

Samaira yang sedang menuangkan susu ke dalam gelas si kembar langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap Arkan dengan sorot mata penuh selidik. Bi Turi yang sedang membawa mangkuk sup sayur ke meja pun memperlambat langkahnya, seolah ikut merasakan ketegangan yang tiba-tiba merayap masuk ke ruang makan.

"Bagaimana bisa jadwalnya dimajukan seminggu penuh? Fondasi utama belum sepenuhnya kering, Pak!" suara Arkan mulai meninggi, menunjukkan ketidaknyamanan yang tidak bisa disembunyikannya lagi.

Mendengar nada bicara ayahnya yang berubah serius, si kembar seketika terdiam. Kunyahan mereka melambat, mata mereka bergantian menatap Arkan dan Samaira dengan cemas.

"Ada apa, Pa?" tanya Gita pelan, mewakili rasa penasaran saudarinya.

Arkan menutup mikrofon ponselnya sejenak dengan telapak tangan, lalu menatap keluarganya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Tidak apa-apa, Sayang. Lanjutkan makannya. Ayah hanya sedang membahas masalah pekerjaan."

"Pekerjaan atau masalah besar?" sambar Samaira tegas, meletakkan teko susu dengan sedikit tekanan di atas meja. "Arkan, kita sudah sepakat bahwa akhir pekan ini adalah waktu untuk keluarga. Rumah tua ini butuh perbaikan di bagian atap timur sebelum musim hujan datang total."

Arkan menghembuskan napas berat, lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Pak Hartawan, saya minta maaf, tapi saya tidak bisa memenuhi permintaan percepatan itu tanpa mengorbankan standar keselamatan konstruksi. Kita bicara lagi nanti siang di kantor." Arkan langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.

Ia meletakkan ponselnya telungkup di atas meja. Wajahnya tampak tegang, bayang-bayang beban pekerjaan seolah merusak simfoni pagi yang tadinya berjalan begitu harmonis.

"Maafkan Ayah, anak-anak. Sepertinya hari ini Ayah harus pergi ke lokasi proyek lebih cepat dari biasanya," ujar Arkan dengan nada menyesal.

"Tapi kan hari ini hari Sabtu, Pa! Janjinya mau nemenin kita merapikan kebun belakang!" protes Fita dengan bibir mengerucut kecewa.

"Iya, Pa. Padahal aku sudah siapkan bibit bunga matahari buat ditanam di dekat pagar," tambah Gita dengan mata berkaca-kaca.

Samaira mendekati suaminya, meletakkan tangannya di atas bahu Arkan yang bidang. Ia bisa merasakan otot-otot suaminya yang menegang di balik kemeja flanel itu.

"Arkan, kamu tidak bisa terus-menerus mengorbankan waktu untuk keluarga demi memuaskan ambisi klien yang tidak ada habisnya. Kita hidup pas-pasan di rumah tua ini saja sudah cukup bahagia, asalkan kita punya waktu bersama," ucap Samaira pelan namun sarat akan ketegasan.

"Bukan soal ambisi, Mai. Ini soal bertahan hidup di kota ini. Biaya sekolah si kembar, cicilan material bangunan, dan perbaikan rumah ini butuh biaya besar," jawab Arkan dengan nada defensif, suaranya sedikit bergetar menahan emosi.

Bi Turi yang sejak tadi berdiri di dekat lemari piring memilih menginterupsi dengan suara tenangnya yang bijak. "Sudahlah, Tuan, Nyonya. Rezeki sudah ada yang mengatur. Jangan biarkan keributan kecil merusak berkah pagi hari di rumah ini. Makanlah dulu, selagi panekuknya masih hangat."

❖ ❖ ❖

Suasana di meja makan sempat terdiam beberapa saat setelah interupsi dari Bi Turi. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring keramik putih polos. Si kembar melanjutkan sarapan mereka dalam diam, kehilangan keceriaan yang menghiasi wajah mereka beberapa menit lalu.

Lihat selengkapnya