Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Senyum Sempurna Dita

Pukul 05.30 pagi, langit di luar jendela apartemen lantai dua belas itu masih menyisakan kelam yang pekat. Udara dingin menyusup melalui celah ventilasi, namun Dita sudah berdiri tegak di depan cermin wastafel kamar mandi. Di pantulan kaca berembun, ia menatap wajahnya sendiri dengan saksama. Alisnya dirapikan sedikit dengan ujung jari, lipstik bernuansa nude dipulaskan tipis untuk memberi kesan segar, dan rambut hitam panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda yang elegan.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membentuk sebuah senyuman. Senyum yang sempurna. Senyum yang selalu berhasil meyakinkan siapa saja bahwa hidupnya baik-baik saja, bahwa ia adalah perempuan mandiri yang sukses, dan bahwa tidak ada satu pun beban di dunia ini yang mampu meruntuhkan ketabahannya.

"Pagi, Dita. Hari ini akan jadi hari yang luar biasa," bisiknya pada bayangannya sendiri dengan suara lembut dan terkontrol.

Di luar kamar mandi, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar utama. Disusul oleh suara serak khas bangun tidur milik adiknya, Rian.

"Kak Dita? Udah bangun? Air panas buat kopi udah mendidih belum?" tanya Rian dari balik pintu kayu bercat putih itu.

Dita segera memutar keran, membasuh tangannya, lalu membuka pintu dengan senyuman yang sama sekali tidak luntur. Wajahnya berseri-seri, memancarkan energi positif seolah ia baru saja tidur nyenyak selama delapan jam penuh.

"Udah dong, Rian. Kakak kan nggak pernah kesiangan buat urusan kopi kesayangan kamu," jawab Dita riang, nada suaranya terdengar begitu hangat dan menenangkan. "Sana cuci muka dulu, sarapannya udah Kakak siapkan di meja makan. Roti panggang sama telur mata sapi setengah matang, pas seperti kesukaanmu."

Rian mengangguk-angguk malas, mengusap matanya yang masih lengket sebelum berjalan menuju kamar mandi. "Makasih ya, Kak. Emang cuma Kakak yang paling ngertiin aku."

"Sama-sama. Cepat ya, jangan sampai telat kuliah," balas Dita, lalu melangkah menuju dapur kecil yang terintegrasi dengan ruang keluarga.

Bagi siapa pun yang melihatnya, Dita adalah definisi nyata dari seorang anak sulung idaman. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, ia telah menduduki posisi sebagai Senior Financial Analyst di sebuah perusahaan multinasional ternama di pusat kota. Kariernya cemerlang, penampilannya selalu memukau, dan ia menjadi tumpuan finansial utama bagi keluarganya setelah sang ayah pensiun dini akibat stroke ringan tiga tahun lalu.

Namun, di balik senyum sempurna yang selalu ia kenakan seperti topeng baja, tersimpan sebuah raksasa kelelahan yang menggerogoti jiwanya setiap detik.

Dita mengambil cangkir keramik putih, menuangkan kopi hitam pekat tanpa gula—satu-satunya hal pahit yang ia izinkan masuk ke dalam tubuhnya hari itu. Ia duduk sejenak di kursi meja makan, menatap layar ponselnya yang sudah dipenuhi oleh notifikasi pesan sejak subuh.

Pesan pertama datang dari grup WhatsApp keluarga besar: 'Dita, bibi mau ngirim anak sepupumu si Dimas buat magang di kotamu ya. Tolong dicarikan kos-kosan yang dekat dan kalau bisa dibantu adaptasinya. Kasian dia merantau.'

Pesan kedua dari ibunya: 'Nak, cicilan motor Rian bulan ini sudah jatuh tempo ya. Jangan lupa ditransfer sebelum tanggal sepuluh, takutnya kena denda.'

Pesan ketiga dari atasannya di kantor: 'Dita, laporan audit kuartal kemarin ada beberapa revisi di bagian proyeksi aset. Tolong selesaikan sebelum jam sembilan pagi ini, nanti kita langsung presentasi ke direksi.'

Dita membaca satu per satu pesan itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada desahan kasar yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menarik napas panjang, menelan ludahnya yang terasa kering, lalu mulai mengetik balasan dengan cepat dan penuh semangat.

‘Siap, Bi! Nanti Dita carikan kosan yang bagus dan strategis buat Dimas.’ ‘Sudah beres, Mah. Barusan Dita transfer ya uang cicilannya, jangan khawatir.’ ‘Baik, Pak. Laporan revisinya sedang saya finalisasi, sepuluh menit lagi saya kirim ke surel Bapak.’

Ia mengirimkan semua balasan itu dalam kurun waktu kurang dari tiga menit. Sempurna. Cepat, tanggap, dan tidak pernah mengeluh. Itulah Dita yang dikenal oleh dunia. Seorang perempuan tangguh yang tidak pernah kehabisan tenaga, yang selalu siap menanggung beban siapa pun di pundaknya tanpa pernah meminta giliran untuk bersandar.

Rian keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil melingkar di lehernya. Ia langsung menarik kursi dan menyantap sarapan yang disiapkan Dita dengan lahap.

"Wah, enak banget ini, Kak. Ngomong-ngomong, nanti malam aku butuh uang tambahan buat beli buku referensi kuliah. Dosennya mewajibkan pakai bukuimpor edisi terbaru," ucap Rian di tengah kunyahannya, tanpa merasa perlu sungkan.

Dita tersenyum manis, memotong sepotong roti panggangnya sendiri. "Berapa harganya, Rian?"

"Sekitar enam ratus ribu, Kak."

"Oke, nanti sore Kakak transfer sekalian uang jajanan mingguanmu ya," kata Dita dengan suara yang tetap lembut.

"Makasih ya, Kak! Kakak emang pahlawan keluarga kita," puji Rian sambil nyengir lebar.

Pahlawan. Kata itu berdenging di telinga Dita, terasa manis sekaligus menyesakkan seperti racun berbalut madu. Menjadi pahlawan berarti tidak boleh terluka. Menjadi pahlawan berarti tidak boleh gagal. Dan yang paling menyiksa, menjadi pahlawan berarti tidak boleh menangis.

❖ ❖ ❖

Pukul 09.15 pagi, tekanan di kantor sudah mencapai puncaknya. Ruang rapat lantai delapan terasa begitu dingin oleh pendingin ruangan yang dipasang pada suhu terendah, kontras dengan suasana hati para direksi yang duduk melingkar di meja kaca besar.

Dita berdiri di depan layar proyektor, memegang pointer kecil di tangan kanannya yang terbungkus blazer formal berwarna abu-abu gelap. Suaranya terdengar lantang, jelas, dan sangat profesional saat ia menjelaskan grafik fluktuasi investasi perusahaan.

"Berdasarkan analisis komparatif yang kami lakukan, proyeksi aset di sektor properti mengalami kenaikan sebesar empat belas persen, yang secara langsung menutupi defisit dari divisi logistik," ucap Dita, menjelaskan dengan gestur tubuh yang tenang dan terukur.

Direktur Utama, seorang pria paruh baya bernama Pak Hendra, mengangguk-angguk puas. "Analisis yang sangat tajam, Dita. Kamu selalu bisa diandalkan untuk urusan angka-angka rumit seperti ini. Tidak pernah mengecewakan."

"Terima kasih, Pak. Ini semua berkat dukungan tim yang solid," jawab Dita sambil membungkuk sedikit, memberikan senyuman profesional yang ramah dan menawan.

Beberapa rekan kerjanya, termasuk Maya—sahabat sekaligus rekan satu timnya—memberikan senyuman kagum dari kursi peserta rapat. Namun, begitu rapat selesai dan seluruh petinggi perusahaan meninggalkan ruangan, Dita langsung terduduk lemas di kursinya, memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.

Maya mendekat, membawa segelas air putih hangat, lalu meletakkannya di hadapan Dita. "Kamu hebat banget tadi, Dit. Tapi jujur, muka pucat kamu nggak bisa dibohongi. Kamu beneran baik-baik aja kan?"

Dita langsung mendongak, menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kilat. "Aku baik-baik aja, May. Cuma kurang tidur sedikit karena semalam lembur merapikan data perpajakan."

"Kurang tidur sedikit? Dit, kamu tuh lembur hampir tiap malam minggu belakangan ini. Kulit kamu kering, lingkaran hitam di bawah mata kamu makin jelas meskipun udah ditutup concealer tebal," protes Maya dengan nada khawatir. "Kapan terakhir kali kamu ambil cuti buat benar-benar istirahat? Liburan gitu, nggak usah mikirin kantor atau keluarga di rumah?"

Dita tertawa kecil, suara tawanya terdengar hambar. "Liburan? Pekerjaan numpuk begini, mana bisa ditinggal. Lagi pula, kalau aku cuti, siapa yang bayar cicilan rumah, biaya kuliah Rian, sama kebutuhan pengobatan Papa?"

"Tapi kesehatan kamu gimana, Dita? Kamu bukan robot!" seru Maya gemas. "Manusia punya batas. Suatu saat nanti, kalau kamu terus-terusan memaksakan diri seperti ini, tubuh kamu bakal ngambek total."

Lihat selengkapnya