Suara ketukan pintu kamar mandi yang berderit lemah seolah menjadi penanda bagi Arman bahwa hari telah benar-benar berganti. Udara pagi di rumah Om Hartono terasa begitu asing di kulitnya. Berbeda dengan rumah lama mereka yang dindingnya berlubang dan lantai semen kasarnya menyimpan jejak tawa kedua orang tua mereka, rumah baru ini terasa terlalu bersih, terlalu dingin, dan terlalu rapi. Setiap sudutnya memantulkan kemapanan yang tidak pernah Arman dan adiknya, Fajar, kenal sebelumnya.
Arman keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tergantung di lehernya. Langkah kakinya dibuat sepelan mungkin, hampir tanpa suara, seolah ia sedang berjalan di atas hamparan es tipis yang sewaktu-waktu bisa retak. Di sudut ruangan, di atas sebuah ranjang bertingkat yang empuk dengan seprai putih bersih, Fajar masih meringkuk dalam selimut tebalnya. Wajah adiknya itu tampak lelah, menyisakan sisa-sisa air mata yang mengering di pipi sejak malam kepindahan mereka kemarin.
"Fajar, bangunlah. Sudah hampir jam enam," bisik Arman lembut, nyaris tak bergeming dari bibirnya.
Fajar menggeliat pelan, kelopak matanya yang sembab terbuka perlahan. Ia menatap sekeliling kamar dengan tatapan kosong, kebingungan yang sama seperti yang dirasakan Arman setiap kali sadar di mana mereka berada sekarang.
"Mas, kita benar-benar di sini?" tanya Fajar dengan suara serak, khas anak berusia belasan tahun yang baru bangun tidur dan menanggung beban dunia di pundaknya.
"Iya, Faj. Ini rumah Om Hartono," jawab Arman singkat, mencoba menyembunyikan getar di suaranya sendiri.
"Aku pengen pulang ke rumah kita, Mas. Rasanya pengen bangun di kamar sendiri, walau atapnya bocor pas hujan," keluh Fajar lirih sambil membenamkan wajahnya kembali ke bantal.
Arman mendekat, lalu duduk di tepi ranjang adiknya. Ia mengusap rambut Fajar dengan penuh kehati-hatian, seolah takut sentuhannya membawa beban tambahan. "Kita sudah nggak punya rumah lagi, Faj. Ayah sama Ibu sudah nggak ada. Kita harus kuat, kita harus tahu diri. Jangan bikin Om sama Tante risih."
"Tapi rasanya kita kayak bukan keluarga, Mas. Kayak tamu tak diundang," protes Fajar pelan, namun cukup tajam menusuk hati Arman.
"Sstt, jangan ngomong begitu. Kita harus banyak-banyak berterima kasih. Om sama Tante sudah baik mau nampung kita setelah kecelakaan itu," balas Arman, kendati di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasakan hal yang persis sama: perasaan menjadi orang asing di rumah darah daging sendiri.
Luka kehilangan akibat kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tua mereka sebulan lalu masih menganga lebar. Bayangan mobil truk yang menghantam kendaraan orang tua mereka terus berputar di kepala Arman setiap kali ia memejamkan mata. Di tengah duka yang belum reda itu, mereka harus langsung beradaptasi dengan lingkungan baru yang menuntut standar kesopanan tingkat tinggi agar tidak dicap sebagai beban keluarga.
"Ayo mandi, nanti keburu Tante Siska keliling rumah. Kamu tahu sendiri kan, rumah ini disiplin banget," ajak Arman seraya berdiri.
Fajar mengangguk lesu, lalu bangkit menuju kamar mandi. Sesaat kemudian, Arman merapikan tempat tidur mereka. Ia melipat selimut dengan sangat rapi, memastikan tidak ada satu lipatan pun yang kusut. Bagi Arman dan Fajar, menjadi yatim piatu di rumah kerabat kaya raya berarti mereka harus selalu siap sedia, tidak boleh menuntut, dan yang terpenting: tidak boleh merepotkan. Rasa berhutang budi yang teramat besar membuat mereka merasa wajib menjaga jarak, hidup bagaikan pengunjung asing yang menumpang lewat di sebuah hotel mewah, bukan di rumah paman sendiri.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Arman menuntunnya menuruni anak tangga kayu berpelitur mengkilap menuju lantai bawah. Bau aroma kopi hitam bercampur roti panggang menggantung di udara, berasal dari arah dapur terbuka yang menyatu dengan ruang makan keluarga. Di sana, Om Hartono sedang duduk membaca koran pagi sambil menyeruput kopinya, sementara Tante Siska tampak sibuk mengatur letak piring saji di atas meja makan mewah berukuran besar.
"Pagi, Om, Tante," sapa Arman dengan nada suara yang sengaja direndahkan, membungkuk sedikit sebagai bentuk penghormatan yang kaku.
Tante Siska menghentikan gerakannya sejenak. Ia menoleh, menatap Arman dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai yang tidak sepenuhnya terselubung.
"Pagi, Arman. Tidur kalian nyenyak semalam? Fajar mana? Belum bangun juga?" tanya Tante Siska dengan nada datar, suaranya terdengar tajam di ruangan yang sunyi itu.
"Nyenyak, Tante. Fajar sedang mandi di atas, sebentar lagi pasti turun," jawab Arman cepat, rasa gugup langsung menjalari sekujur tubuhnya. Tangannya meremas ujung kausnya sendiri tanpa sadar.
"Baguslah kalau nyenyak. Di rumah ini, kedisiplinan adalah nomor satu. Om kalian paling tidak suka melihat orang bangun kesiangan atau bermalas-malasan, apalagi kalian di sini statusnya... ya, kalian tahu sendiri kan?" ujar Tante Siska tanpa melanjutkan kalimatnya, namun maknanya sangat jelas menusuk hati Arman.
Om Hartono melipat korannya perlahan lalu meletakkannya di atas meja. Ia menatap Arman di balik kacamata pembacanya. "Arman, bagaimana urusan sekolahmu? Sudah dipindahkan datanya ke SMA dekat sini?" tanya Om Hartono dengan suara berat berwibawa.
"Sudah diurus berkas-berkasnya, Om. Tinggal menunggu surat pindah dari sekolah lama keluar minggu ini," jawab Arman sigap, berdiri tegak dengan posisi tangan disilangkan di depan paha, menyerupai bawahan yang sedang melapor kepada atasannya.
"Bagus. Ingat, biaya hidup dan sekolah kalian di sini tidak sedikit. Om harap kalian bisa belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak membuat ulah yang bisa mencoreng nama baik keluarga besar kita," pesan Om Hartono dengan nada tegas yang tidak menyisakan ruang untuk membantah.
"Baik, Om. Kami pasti akan ingat pesan Om. Kami berdua sangat berterima kasih atas semua kebaikan Om dan Tante," ucap Arman tulus, meski ada rasa perih yang menyayat di dada setiap kali kata "biaya" dan "bantuan" diungkit.
Fajar tiba-tiba muncul di ruang makan dengan langkah ragu-ragu. Ia mengenakan pakaian yang tampak sedikit kebesaran—pemberian dari sepupu mereka yang jarang dipakai. Suasana di meja makan mendadak terasa semakin kaku.
"Pagi, Om, Tante," sapa Fajar kaku sambil menunduk dalam-dalam.
"Duduklah, Fajar. Jangan berdiri seperti patung di situ," kata Tante Siska menunjuk kursi kosong yang berada di ujung paling jauh dari kursi utama tempat Om Hartono duduk.
Fajar menarik kursi tersebut secara perlahan agar tidak menimbulkan suara decitan yang mengganggu. Kedua anak itu duduk berdampingan di sudut meja, mengambil porsi makanan dalam jumlah paling sedikit, takut dianggap serakah atau menghabiskan jatah makanan penghuni rumah asli.
Di tengah keheningan pagi itu, Arman dan Fajar kembali merasakan betapa beratnya harga yang harus dibayar untuk sebuah tempat bernaung. Mereka adalah bayang-bayang masa lalu keluarga yang kini menjadi beban hidup di masa kini, terikat oleh rasa hutang budi yang membuat mereka tak kuasa sekadar tersenyum lepas di rumah sendiri.
❖ ❖ ❖
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang monoton dan melelahkan secara psikologis bagi Arman dan Fajar. Setiap sudut rumah mewah itu seolah memiliki aturan tak tertulis yang harus mereka patuhi dengan cermat. Mereka tidak pernah berani menyentuh benda-benda elektronik ruang keluarga tanpa izin, tidak pernah berlama-lama di depan televisi, dan selalu menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam kamar tidur bertingkat yang sempit namun fungsional itu.
Suatu sore menjelang petang, Arman sedang duduk di meja belajar kecil di sudut kamar, merapikan buku-buku pelajarannya yang mulai menumpuk. Pintu kamar terbuka sedikit, dan Fajar melangkah masuk dengan napas memburu, wajahnya tampak pucat pasi sehabis dari dapur bawah.
"Ada apa, Faj? Kenapa mukamu pucat begitu?" tanya Arman spontan, langsung bangkit dari kursinya.