Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Rahasia di Balik Pintu Kamar

Cahaya lampu belajar kuning temaram menyembul tipis di bawah celah pintu kamar Ghina, membelah kegelapan lorong lantai dua rumah yang mulai sunyi. Jam dinding di ruang keluarga baru saja berdetak menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu sama sekali tidak ada. Tidak ada suara televisi, tidak ada alunan musik, bahkan tidak ada suara decitan kursi belajar. Yang terdengar hanyalah keheningan pekat yang sesekali diselingi oleh dengung pelan pendingin ruangan.

Di balik pintu kayu berwarna putih gading itu, Ghina meringkuk di atas kasur empuknya dengan selimut tebal menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya diterangi oleh cahaya biru dingin yang memantul dari layar smartphone di genggamannya. Jempolnya bergerak cepat, mengetik rangkaian kalimat dengan mata yang menyipit lelah namun tetap terpaku penuh obsesi. Bagi Ghina, layar datar berukuran enam inci itu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sebuah dunia pelarian tempat ia bisa menjadi siapa saja, jauh dari tatapan menghakimi yang ia temui di dunia nyata.

"Ghina? Kamu belum tidur? Besok sekolah, Nak. Jangan terlalu malam main HP-nya," suara Ibu terdengar samar dari balik pintu, disusul dengan ketukan pelan sebanyak tiga kali.

Ghina mendengus pelan, matanya memutar malas menatap pintu kamarnya. Ia buru-buru mengecilkan volume smartphone-nya dan mengetik balasan cepat pada grup obrolan virtualnya sebelum menjawab, "Belum, Bu! Tanggung, lagi ngerjain tugas kelompok!"

"Jangan lupa matikan lampunya kalau sudah selesai," sahut Ibu lagi, suaranya perlahan menjauh seiring langkah kaki yang menapak pelan menuruni tangga.

Ghina mengembuskan napas lega. Ia kembali membenamkan diri ke dalam layar kacanya. Hubungannya dengan keluarganya memang telah lama berubah menjadi dingin. Sejak menginjak usia remaja, Ghina merasa rumah bukan lagi tempat berlindung yang aman, melainkan sebuah ruang pemeriksaan terbuka di mana setiap gerak-geriknya, setiap perubahan ekspresinya, dan setiap pakaian yang ia kenakan selalu menjadi bahan evaluasi atau kritik.

Di sekolah, situasinya jauh lebih menyesakkan. Ghina adalah tipe siswi yang memilih untuk menjadi tidak terlihat, namun ironisnya, ia tetap menjadi sasaran empuk bagi kelompok siswi populer yang kerap melontarkan komentar-komentar tajam mengenai penampilannya, cara bicaranya, hingga tas sekolahnya yang sudah terlihat kusam. Kemarin, sebuah insiden di kantin membuatnya gemetar hebat saat lembaran buku catatan miliknya sengaja disiram air oleh mereka, diiringi tawa renyah yang merendahkan. Namun, setibanya di rumah, Ghina menelan semuanya bulat-bulat. Ia tidak menangis di hadapan orang tuanya. Ia memilih menguncinya rapat-rapat di dalam hatinya, takut jika ia mengadu, Ayah justru akan menyalahkannya karena dianggap terlalu lemah atau tidak bisa bergaul.

"Kenapa sih mereka semua selalu sok tahu?" gumam Ghina pelan pada dirinya sendiri, jempolnya kembali menari di atas papan ketik virtual, mencurahkan keluh kesahnya kepada sosok maya di ujung jaringan internet—seorang teman anonim yang ia kenal di forum daring beberapa bulan lalu.

Teman Maya: "Sabar ya, Ghin. Emang orang-orang di dunia nyata tuh suka sok suci. Mending lu fokus ke kita aja di sini. Kita nggak bakal ngehakimi lu."

Ghina tersenyum tipis membaca pesan itu. Validasi instan yang ia dapatkan dari dunia maya terasa seperti candu yang menenangkan luka-lukanya yang menganga. Ia merasa dipahami, sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan di bawah atap rumahnya sendiri. Ibu sibuk dengan urusan rumah tangga dan omelan-omelan kecil tentang kerapian, sementara Ayah selalu pulang larut malam dengan wajah penat dan langsung menuntut nilai akademis yang sempurna.

Ghina: "Andai lu tau apa yang terjadi hari ini di sekolah. Gw pengen menghilang aja rasanya."

Teman Maya: "Jangan gitu. Kalau lu butuh pelarian, gw tau satu cara biar lu bisa lepas dari semua tekanan itu. Besok pulang sekolah, ketemuan yuk di tempat biasa. Gw punya sesuatu buat lu."

Jantung Ghina berdegup sedikit lebih kencang. Ada rasa penasaran yang bercampur dengan sedikit ketakutan, tetapi rasa jenuh yang teramat sangat terhadap kehidupannya yang monoton membuatnya mengabaikan sinyal peringatan di dalam kepalanya.

❖ ❖ ❖

Keesokan paginya, suasana meja makan terasa begitu kaku. Ayah duduk di ujung meja sambil membaca koran pagi dengan sebelah tangannya memegang cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. Ibu mondar-mandir dari dapur membawa piring berisi roti bakar. Ghina duduk di kursi paling pojok, mengaduk-aduk susu cair di gelasnya tanpa minat sedikit pun untuk meminumnya.

"Ghina, nilai ulangan matematika kamu kemarin turun tiga poin. Ayah harapkan kamu lebih serius belajar, bukan malah begadang tiap malam. Ayah lihat lampu kamar kamu masih nyala sampai jam dua pagi kemarin," ucap Ayah tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran koran.

Ghina menelan ludahnya yang terasa kelat. "Iya, Ayah. Kemarin banyak tugas."

"Tugas atau main smartphone? Coba kurangi main media sosial itu. Tidak ada gunanya, malah merusak konsentrasi belajar," timpal Ibu sambil meletakkan piring di depan Ghina. "Lihat rambutmu, sudah mulai berantakan begitu. Rapikan sedikit sebelum berangkat."

Ghina mengepalkan tangan di bawah meja. Kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri. Setiap kalimat yang keluar dari mulut orang tuanya selalu terdengar seperti tuduhan, bukan bentuk perhatian. Mereka tidak pernah bertanya apakah ia baik-baik saja, apakah ia tidur dengan nyenyak, atau apakah ada hal berat yang sedang ia pikul di sekolah. Bagi mereka, Ghina hanyalah sebuah mesin pencetak nilai rapor yang harus selalu sempurna tanpa cacat.

"Ghina sudah hampir terlambat. Ghina berangkat dulu," kata Ghina ketus sambil menyambar tas punggungnya dan berdiri secara tiba-tiba, menciptakan suara gesekan kursi yang cukup keras di lantai keramik.

"Hei, pamit yang benar pada Ayah dan Ibu!" seru Ibu dengan nada tinggi.

Ghina hanya menyandarkan tangan sekilas ke punggung tangan ibunya dengan gerakan kaku, lalu melangkah cepat keluar rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. Udara pagi yang sejuk sama sekali tidak mampu mendinginkan kepalanya yang terasa mendidih karena amarah dan rasa sesak yang menumpuk.

Setibanya di gerbang sekolah, ketakutan itu kembali menghantam ulu hatinya. Di koridor utama, kelompok siswi yang kemarin merundungnya sudah berdiri bergerombol sambil memperhatikan setiap siswa yang lewat. Ghina menundukkan kepalanya, berusaha berjalan selambat dan sesenyap mungkin agar tidak menarik perhatian mereka.

"Eh, lihat tuh si pendiam berjalan. Tasnya masih aja model jadul begitu, bau debu lagi," suara tawa renyah berderai tepat di sebelah telinga Ghina saat ia mencoba melintas.

Ghina mempercepat langkahnya, menahan air mata yang hampir tumpah di pelupuk matanya. Ia berlari kecil menuju toilet lantai dua yang sepi, mengunci diri di dalam bilik kamar mandi, dan membiarkan isak tangisnya pecah tanpa suara. Di tempat sempit berbau karbol itu, ia merasa benar-benar sendiri. Tidak ada tempat untuk mengadu. Guru Bimbingan Konseling terkenal galak dan kerap membeberkan masalah siswa kepada orang tua, yang artinya itu hanya akan memperburuk keadaan di rumah.

Ponsel di saku roknya bergetar pelan. Ghina mengeluarkannya dengan tangan gemetar. Sebuah pesan dari teman mayanya terpampang di layar.

Teman Maya: "Udah, jangan sedih. Ingat janji kita buat ketemuan nanti sore. Lu bakal nemuin ketenangan yang lu cari."

Ghina menatap layar itu lama sekali. Keraguan sempat melintas di benaknya, namun rasa sakit akibat perundungan di sekolah dan dinginnya sikap orang di rumah membuatnya membulatkan tekad. Sore ini, ia tidak akan pulang langsung ke rumah. Ia akan mencari dunianya sendiri.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya