Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Jangkar yang Mulai Goyah (Arkan)

Udara pagi di dalam apartemen lantai dua puluh empat itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Arkan berdiri di dekat jendela kaca besar yang langsung menghadap ke lanskap kota metropolis. Secangkir kopi hitam yang mengepul di tangannya kini telah mendingin, menyisakan lapisan tipis minyak di permukaannya. Ia tidak berniat meminumnya. Pikirannya jauh lebih pekat daripada cairan pahit di dalam cangkir tersebut.

"Arkan, kamu sudah bangun?" Suara Samaira terdengar lembut dari balik pintu kamar tidur. Langkah kakinya yang ringan mendekat, disusul dengan kehadiran wanita itu yang mengenakan apron dapur dan senyum hangat khas pagi hari.

Arkan buru-buru menyembunyikan ekspresi penat di wajahnya, menggantinya dengan sebuah senyuman tipis yang ia paksa terbit. "Sudah, Mai. Bangun sejak tadi. Menikmati pemandangan kota."

Samaira melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arkan dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. "Kamu kelihatan lelah akhir-akhir ini. Sering melamun juga. Ada apa dengan proyek renovasi gedung komersial itu? Masih ada masalah?"

Arkan menegang sesaat sebelum ia berhasil melonggarkan otot-otot bahunya. Ia berbalik, lalu mengecup kening Samaira sekilas demi menutupi kecemasannya. "Semua terkendali, Sayang. Namanya juga proyek besar, dinamika di lapangan pasti ada. Jangan dipikirkan, ya. Fokus saja pada galeri senimu."

"Kamu yakin?" Samaira menatap manik mata Arkan lekat-lekat, mencari celah keraguan di sana. "Aku kenal kamu bukan baru sebulan dua bulan, Arkan. Kalau ada beban, kita bisa bagi dua. Jangan dipikul sendiri."

"Aku serius, Mai. Semuanya aman." Arkan tertawa kecil, berusaha terdengar santai meskipun tenggorokannya terasa kering. "Sudah sana, selesaikan sarapannya. Nanti aku telat sampai di kantor."

Samaira menghela napas, setengah percaya, lalu kembali ke meja makan. Namun, kebohongan kecil itu justru menumpuk menjadi beban mental yang kian menyesakkan dada Arkan. Di balik senyum yang ia tunjukkan kepada istrinya, kepala Arkan berdengung kencang memikirkan email peringatan terakhir dari klien utamanya semalam.

Setibanya di kantor, ketegangan langsung menyambut Arkan. Ruang kerjanya yang biasanya terasa elegan kini mendadak tampak seperti sangkar besi yang sempit. Baru saja ia duduk di kursi kerjanya, pintu ruangannya diketuk cepat, dan Dimas, manajer operasional sekaligus tangan kanannya, langsung menerobos masuk tanpa menunggu aba-aba.

"Arkan, kita dalam masalah besar," ucap Dimas tanpa basa-basi, melemparkan sebuah berkas tebal ke atas meja kerja.

Arkan mendongak, menatap tajam sahabat sekaligus bawahannya itu. "Masalah apa lagi, Dim? Bukannya kemarin masalah material beton sudah beres?"

"Bukan cuma material, Arkan. Klien utama kita, PT Cipta Reksa, baru saja mengirimkan surat somasi resmi pagi ini," ujar Dimas dengan suara bergetar. "Mereka memangkas anggaran sebesar empat puluh persen karena keterlambatan progres minggu lalu, dan mereka mengancam akan memutus kontrak secara sepihak jika kita tidak bisa menambal kekurangannya dalam waktu dua minggu."

Dunia Arkan terasa berhenti berputar sedetik. Empat puluh persen. Angka itu bukan sekadar penurunan omzet, melainkan sebuah lonceng kematian bagi arus kas perusahaannya yang sedang megap-megap.

"Bagaimana bisa?" suara Arkan tercekat di tenggorokan. "Kita sudah mengerahkan seluruh tenaga kerja tambahan!"

"Kontraktor sub-vendor kita kabur membawa uang muka termin kemarin, Arkan! Dan vendor material menolak mengirim barang sebelum seluruh tagihan lama dilunasi," jelas Dimas dengan nada frustrasi. "Kita butuh dana segar setidaknya satu setengah miliar rupiah sekarang juga untuk menyelamatkan proyek ini."

Arkan memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya terasa mau pecah. Selama ini, ia dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses, jangkar yang kokoh bagi keluarga dan karyawannya. Namun, kini jangkar itu mulai berkarat dan diterpa badai besar.

❖ ❖ ❖

Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang berjalan lambat. Arkan semakin terjerumus dalam lingkaran stres yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Samaira. Setiap kali istrinya bertanya tentang hari-harinya di kantor, Arkan selalu beralasan sibuk dengan ekspansi bisnis baru.

"Arkan, malam ini kita makan malam di luar ya? Teman kuliahku mengadakan pameran kecil," ajak Samaira suatu sore ketika mereka sedang berada di ruang keluarga. Samaira tampak antusias menunjukkan brosur pameran seni di gawainya.

Arkan, yang sedang sibuk mengetik laporan keuangan darurat di laptopnya, menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Maaf, Mai. Malam ini aku harus lembur lagi. Ada rapat penting dengan investor baru."

Samaira menurunkan gawainya, senyum di wajahnya memudar digantikan raut kecewa yang kentara. "Investor baru lagi? Arkan, ini sudah minggu ketiga berturut-turut kamu lembur sampai larut malam. Kamu bahkan jarang makan malam bersama di rumah."

"Ini demi masa depan kita juga, Samaira!" seru Arkan sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Suaranya menggema di ruang tamu yang sunyi.

Samaira tertegun. Jarang sekali Arkan meninggikan suara padanya. Wanita itu menatap Arkan dengan mata berkaca-kaca. "Bukan masa depan namanya kalau kehadiranmu di masa sekarang saja sudah mulai hilang, Arkan. Aku tidak butuh rumah mewah atau harta berlimpah kalau suamiku sendiri seperti orang asing di rumah."

Mendengar itu, dada Arkan terasa sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Ia ingin memeluk istrinya, meminta maaf atas ledakan emosinya, dan menceritakan seluruh kebenaran yang menghimpit dadanya. Namun, egonya sebagai kepala rumah tangga menahan lidahnya. Ia takut terlihat lemah di hadapan wanita yang sangat dicintainya itu.

"Maaf... bukan itu maksudku," ucap Arkan lirih, kembali menundukkan kepala ke layar laptop untuk menghindari tatapan terluka dari Samaira. "Aku hanya... sedang sangat stres dengan pekerjaan."

"Kalau stres, cerita ke aku. Jangan dipendam sendiri," bujuk Samaira dengan suara yang melembut, mencoba mendekat dan meletakkan tangannya di atas bahu Arkan.

Alih-alih menyambut kehangatan itu, Arkan justru menepis tangan Samaira secara tidak sengaja karena refleks pertahanan dirinya yang terlampau tinggi. "Sudahlah, Mai! Jangan memperkeruh suasana. Tolong ngertiin posisi aku!"

Suasana langsung membeku. Samaira menarik tangannya kembali, menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan kosong sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pelan menuju kamar tidur, meninggalkan Arkan seorang diri yang kini merutuki kebodohannya sendiri.

Keesokan paginya, suasana di apartemen terasa sangat kaku. Tidak ada sapaan hangat, tidak ada aroma kopi yang diseduh bersama. Samaira memilih sibuk di studionya, sementara Arkan pergi meninggalkan apartemen sebelum foya-foya matahari pagi sepenuhnya naik.

Sesampainya di kantor, tekanan kembali menghantam Arkan tanpa ampun. Dimas masuk ke ruangan dengan wajah pucat pasi.

"Arkan, kita dapat kabar buruk dari bank," kata Dimas dengan suara tercekat.

Arkan yang sedang menatap kosong ke luar jendela langsung menoleh. "Kabar buruk apa lagi, Dim? Jangan bilang pinjaman modal kerja kita ditolak."

"Bukan cuma ditolak," jawab Dimas pelan. "Pihak bank mendadak melakukan audit internal mendadak karena laporan keuangan kita bulan lalu menunjukkan anomali. Mereka membekukan fasilitas kredit kita untuk sementara waktu."

Arkan merasakan lututnya lemas. Seketika itu juga, ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Semua pintu tertutup rapat. Tidak ada lagi celah untuk bernapas.

Lihat selengkapnya