Kopi hitam di cangkir porselen Arkan sudah mendingin sejak setengah jam lalu, meninggalkan kerak tipis di tepian keramik putih. Di ruang tengah yang lengang, aroma detergen lemon dan kelembapan sore beradu kaku. Dita duduk di ujung sofa, jemarinya sibuk menyapu layar ponsel tanpa benar-benar membaca apa pun, sementara Gita merayap di karpet bulu, mencoba menumpuk balok-balok kayu yang tak kunjung seimbang. Tak ada suara kecuali gesekan kain dan denting halus balok yang jatuh bertumpuk. Kesunyian itu tidak menenangkan; itu adalah kesunyian yang sengaja dipelihara, semacam kesepakatan tak tertulis untuk menjaga bom waktu agar tidak berdetak terlalu kencang.
"Kamu sudah cek surat tagihan listrik bulan ini, Mas?" suara Dita memecah udara, datar dan tanpa intonasi.
Arkan tidak memindahkan tatapannya dari koran bekas yang melapisi meja kaca. "Sudah. Kemarin."
"Lalu?"
"Lalu kenapa? Sudah kubayar lewat aplikasi tadi pagi."
Dita menghela napas panjang, sengaja membiarkan hembusannya terdengar nyaring. "Bukan soal sudah dibayar atau belum, Mas. Pembengkakannya hampir empat puluh persen dari bulan lalu. Kamu menyalakan AC kamar mandi lagi sepanjang malam?"
"Mana ada AC di kamar mandi, Dita," sahut Arkan, ketus. Matanya akhirnya terangkat, menatap punggung Dita yang kaku. "Jangan mulai mencari-cari alasan untuk berdebat pada hari Minggu sore."
"Aku tidak mencari alasan. Aku bicara soal efisiensi rumah tangga yang makin hari makin tidak masuk akal," balas Dita seraya menoleh. Pandangan mereka bertabrakan, dingin dan tajam seperti benturan besi dingin.
"Papa, Mama, lihat rumah Gita!" seru Gita tiba-tiba dari lantai, tidak menyadari arus listrik ketegangan di atas kepalanya. Tangannya yang mungil menunjuk sebuah benteng kayu setinggi lutut.
"Bagus, Sayang. Pelankan suaramu, Papa sedang pusing," kata Arkan tanpa menoleh ke arah anak itu.
"Tapi ini istana untuk Mama!" Gita berdiri, melompat kecil penuh semangat. Gaun merah mudanya berkibar, dan dalam gerak refleks yang terlalu cepat, tumitnya menyenggol sudut meja kopi.
Suara benturan keramik yang hancur berkeping-keping terdengar bagai ledakan meriam di ruang kecil itu. Vas keramik biru motif porselen Tiongkok—hadiah pernikahan dari almarhumah ibu Dita—terjatuh, menghempas lantai marmer, dan pecah menjadi puluhan serpihan tajam. Air sisa tangkai bunga krisan yang membusuk terpercik ke mana-mana, membasahi karpet dan kaki telanjang Gita.
Gita membeku. Senyum gembiranya menguap seketika, digantikan oleh mata bulat yang mulai digenangi air mata.
"Gita!" jerit Arkan, bangkit dari kursinya begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, urat-urat lehernya menegang menakutkan. "Kamu ini bisa jalan pakai mata tidak, sih?!"
❖ ❖ ❖
"Mas! Jangan membentak dia seperti itu!" Dita langsung berlutut, menarik Gita ke dalam pelukannya sementara anak itu mulai menangis sesenggukan, ketakutan melihat sosok ayahnya yang mendadak menjelma menjadi asing.
"Lihat apa yang dia lakukan!" suara Arkan meninggi, memantul di dinding-dinding ruang tengah. Tangannya menunjuk-nunjuk serpihan biru di lantai. "Itu vas barang antik! Berapa kali aku bilang, kalau main jangan dekat-dekat meja! Kamu tidak pernah mengajari anakmu sopan santun dan kehati-hatian, Dita!"
"Kenapa jadi menyalahkan aku?" Dita berdiri membusungkan dada, menyembunyikan Gita di belakang punggungnya. Matanya menyala penuh amarah yang selama ini terpendam. "Dia baru lima tahun, Arkan! Dia tidak sengaja! Yang tidak punya otak itu kamu, kenapa menaruh vas selemah itu di tepi meja yang mudah tersenggol?!"
"Oh, sekarang aku yang salah?" Arkan tertawa sinis, tawa kering yang membuat suasana semakin beracun. "Vas itu sudah di sana selama tujuh tahun dan tidak pernah pecah! Baru hari ini, karena kamu terlalu sibuk main ponsel dan membiarkan anakmu liar seperti binatang di ruang tengah!"
"Jaga mulutmu, Arkan!" teriak Dita, suaranya gemetar. "Kamu bersikap berlebihan cuma karena masalah vas konyol ini? Atau kamu memang mencari alasan untuk melampiaskan stres kerjamu pada kami?!"
"Ini bukan soal vas!" bentak Arkan, melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka hingga Dita bisa merasakan hawa panas dari napas suaminya. "Ini soal bagaimana rumah ini jadi makin tidak teratur! Tidak ada yang menghargai barang di rumah ini, tidak ada yang menghargai aku sebagai suami!"
"Menghargaimu?" Dita terkehok, menggelengkan kepala tak percaya. "Bagaimana kami bisa menghargai seseorang yang setiap hari pulang dengan wajah ditekuk, tidak pernah bertanya bagaimana hari kami, dan langsung mengamuk hanya karena masalah sepele?"