Hawa dingin AC ruang rapat lantai tiga puluh delapan gedung Graha Nusantara tak mampu mendinginkan pelipis Arkan yang berpeluh. Di ujung meja oval berlapis kayu mahoni, Pak Baskoro—Direktur Utama yang selama ini menyanjungnya—melempar berkas audit tebal ke tengah meja dengan bunyi berdentum yang memekakkan telinga.
"Proyek infrastruktur senilai lima puluh miliar di Cikarang gagal total, Arkan. Konsorsium investor mencabut seluruh modal mereka pagi ini," suara Baskoro tenang, namun setiap kata terasa seperti ketukan palu hakim eksekusi. "Karyawanmu melakukan manipulasi laporan keuangan, dan sebagai Kepala Proyek, kamu orang yang paling bertanggung jawab."
"Pak Baskoro, tolong dengarkan penjelasan saya dulu," potong Arkan cepat, suaranya gemetar saat meremas pinggiran meja. "Saya memang lengah mengawasi tim teknis, tapi saya bisa memperbaiki ini dalam dua minggu. Berikan saya kesempatan untuk bertemu direksi konsorsium!"
"Tidak ada kesempatan lagi, Arkan," sela Pak Baskoro dingin. Tatapannya lurus, tanpa keraguan sedikit pun. "Perusahaan menanggung kerugian luar biasa besar. Dewan komisaris sudah mengambil keputusan bulat dalam rapat darurat jam delapan tadi."
"Maksud Bapak?" Arkan menahan napas, dadanya bergemuruh hebat.
"Mulai detik ini, kamu diberhentikan secara tidak hormat," jawab Pak Baskoro tegas. "Surat pemutusan hubungan kerja dan gugatan ganti rugi administratif sudah disiapkan oleh tim hukum. Kemasi barang-barangmu sebelum jam lima sore."
Dunia Arkan serasa runtuh seketika. Bunyi gemericik hujan di luar jendela kaca raksasa terdengar meliuk-liuk bagai ejekan. Langkah kakinya terasa melayang saat keluar dari ruangan mewah itu. Di kubikel kerjanya, teman-teman sejawat menyapu pandangan dengan iba, namun tak ada satu pun yang berani mendekat. Arkan memasukkan plakat penghargaan, kaktus kecil, dan foto keluarga ke dalam kardus cokelat dengan tangan gemetar.
Telepon genggam di saku celananya bergetar. Nama "Samaira ❤️" terpampang di layar. Arkan menarik napas panjang, mencoba menetralkan getaran pita suaranya sebelum menekan tombol hijau.
"Halo, Mas?" suara Samaira terdengar cerah dari balik telepon, diiringi denting sendok dan gelak tawa anak mereka di rumah. "Mas Arkan pulang jam berapa malam ini? Aku masak sup iga kesukaanmu. Jangan lupa beli buah potong seperti biasa, ya."
Arkan memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin darah. "Iya, Sayang. Mas... Mas mungkin agak terlambat sedikit ada urusan pekerjaan. Kamu dan anak-anak makan duluan saja."
"Kamu terdengar lelah sekali, Mas. Ada masalah di kantor?" tanya Samaira penuh perhatian.
"Tidak ada, Sayang. Hanya pekerjaan rutin yang agak menumpuk," bohong Arkan, menyembunyikan kenyataan bahwa karier belasan tahun yang dibangunnya telah hancur berkeping-keping dalam hitungan menit.
❖ ❖ ❖
Arkan duduk tertegun di dalam mobilnya yang terparkir di sudut basemen gedung kantor yang gelap. Surat PHK yang terletak di jok penumpang bagaikan monster yang siap menerkam masa depannya. Tabungan keluarga hanya tersisa untuk kebutuhan dua bulan ke depan, sementara cicilan rumah, asuransi, dan biaya sekolah anak-anak menagih tanpa kompromi.
"Bagaimana aku harus bilang pada Samaira?" gumam Arkan pelan pada kemudi yang dingin. tangannya memukul lingkaran kulit itu dengan frustrasi. "Dia sangat bangga pada jabatan ini. Bagaimana kalau dia kecewa?"
Layar ponselnya kembali menyala, menampilkan pesan singkat dari bagian keuangan perusahaan: Gaji bulan ini ditahan sepenuhnya untuk memotong sebagian kerugian proyek. Harap segera menyelesaikan administrasi ganti rugi.
Keringat dingin membasahi punggung kemeja Arkan. Krisis keuangan yang selama ini hanya ia baca di berita kini benar-benar mencekik lehernya sendiri. Ia tidak punya pilihan selain menyalakan mesin mobil dan mengemudi membelah kemacetan Jakarta yang mengguyur kelam.
Lampu depan mobilnya menyorot pagar rumah minimalis di kawasan Bintaro. Rumah yang dibelinya dengan cicilan fantastis itu kini terasa seperti beban raksasa yang siap menimpanya kapan saja. Arkan menyapu air mata yang nyaris menetes, merapikan dasi, lalu melempar kardus berisi barang-barang kantornya ke dalam bagasi belakang sebelum melangkah ke pintu depan.
Pintu terbuka sebelum Arkan sempat memutar kunci. Samaira berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya, mengenakan celemek kain favoritnya.
"Kamu pulang juga akhirnya, Mas," kata Samaira seraya meraih tangan suaminya untuk dicium. "Wajahmu pucat sekali. Kamu benar-benar sakit?"
"Cuma lelah jalanan macet parah, Sam," jawab Arkan dengan senyum palsu yang dipaksakan. Ia berusaha melangkah masuk, namun matanya tidak sengaja menangkap beberapa lembar amplop merah di atas meja konsol lorong depan. Amplop tagihan kartu kredit yang sudah menunggak dua bulan.
❖ ❖ ❖