Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Kepanikan Samaira

Suara ketukan stik drum dari kamar lantai atas berderit konstan, beradu dengan suara dengung mesin cuci yang berputar lemah di lantai bawah. Udara sore di rumah itu terasa pengap, membawa aroma uap masakan yang bercampur dengan bau detergen murah. Samaira berdiri di dekat meja dapur, menatap layar ponsel pintarnya dengan tatapan kosong. Angka pada aplikasi perbankan digital di layar itu menyala terang, memamerkan saldo yang kian menipis hingga menyisakan nominal yang mengkhawatirkan.

"Ibu, nanti malam lauknya apa? Boleh pesan ayam goreng tepung langganan di ujung jalan enggak? Rasanya udah lama banget kita enggak makan itu," teriak Rian, anak bungsu Samaira yang berusia sepuluh tahun, sambil berlari kecil menghampiri dapur.

Samaira menarik napas dalam-dalam, berusaha menepis kerutan di keningnya sebelum membalikkan badan menghadap sang anak. Senyum tipis dipaksakan terukir di bibirnya.

"Sayang, hari ini Ibu masak sayur bayam sama tempe goreng kesukaan Kakak ya. Ayam gorengnya disimpan dulu buat akhir bulan nanti, ya?" jawab Samaira dengan nada selembut mungkin, meski hatinya bergemuruh hebat.

"Yah, tempe lagi... Kemarin kan udah tempe, Bu," gerutu Rian sambil mengerucutkan bibirnya, lalu kembali berlari ke ruang keluarga tanpa menunggu jawaban lebih lanjut.

Samaira mengembuskan napas panjang yang terasa berat. Beban itu seolah menumpuk di pundaknya, menghimpit dada hingga membuatnya kesulitan mengambil udara. Selama ini, Samaira dikenal sebagai pilar ketenangan di dalam keluarga besar mereka. Di saat suaminya, Dimas, dilanda kecemasan karena proyek kantor yang tak kunjung pasti, atau ketika saudara iparnya datang membawa keluh kesah keuangan, Samaira selalu hadir dengan senyuman, secangkir teh hangat, dan nasihat bijak yang menenteramkan.

Namun, hari ini benteng ketenangan itu runtuh.

Ia bukan lagi perempuan tegar yang kebal terhadap tekanan. Tagihan listrik bulan ini melonjak dua kali lipat, cicilan renovasi atap rumah yang bocor sudah jatuh tempo, dan yang paling mengerikan, persediaan tabungan darurat mereka nyaris menyentuh angka nol. Belum lagi ditambah tanggung jawab moral untuk membantu membiayai pengobatan bibi mertuanya yang baru saja keluar dari rumah sakit pekan lalu.

Langkah kaki berat terdengar mendekati dapur. Dimas muncul dari arah ruang kerja darurat di sudut rumah, membawa setumpuk berkas yang tampak tak berujung. Wajah suaminya tampak kuyu, guratan lelah tercetak jelas di sekitar mata yang kurang tidur.

"Mai, kamu sudah cek email dari kantor pusat?" tanya Dimas dengan suara serak, langsung membuka percakapan tanpa basa-basi.

Samaira menggeleng pelan, menatap suaminya dengan mata menyiratkan kekhawatiran mendalam. "Belum sempat, Mas. Aku tadi masih sibuk beres-beres cucian dan ngurusin keperluan Rian sekolah besok. Memangnya ada apa lagi?"

Dimas mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, sebuah gestur frustrasi yang sudah sering disaksikan Samaira belakangan ini. "Restrukturisasi. Kabar burung yang kemarin beredar ternyata benar. Ada gelombang pemutusan hubungan kerja besar-besaran, dan posisiku... posisiku masuk dalam daftar pengawasan ketat manajemen."

Dunia Samaira seolah berhenti berputar seketika. Gelas kaca yang sedang ia lap di tangannya hampir terlepas dari genggaman. Kepanikan yang selama ini ia pendam rapat-rapat di dalam dada kini meledak keluar, mendesak naik ke tenggorokan hingga membuatnya sesak napas.

❖ ❖ ❖

"Pengawasan ketat? Maksudnya apa, Mas? Jangan bilang kalau ancaman PHK itu benar-benar nyata menimpa keluarga kita?" suara Samaira meninggi, nyaris berupa pekikan tertahan yang langsung ia redam agar tidak didengar oleh anak-anak di luar.

Dimas menunduk, menghindari tatapan tajam namun penuh luka dari istrinya. "Manajemen memberikan waktu dua minggu bagi divisi kami untuk menaikkan target performa secara drastis, atau... ya, opsi pemutusan kontrak kerja dengan pesangon minimal."

Samaira merasa lutunya lemas. Ia bersandar pada tepi meja dapur, mencengkeram permukaannya erat-erat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Selama bertahun-tahun, Samaira memegang kendali penuh atas tata kelola keuangan rumah tangga dengan sangat disiplin. Setiap rupiah dihitung, setiap pengeluaran dicatat dalam buku khusus bersampul biru tua. Namun, sebaik apapun ia mengatur strategi finansial, semua itu menjadi sia-sia jika sumber pemasukan utamanya mendadak terputus di tengah jalan.

"Kalau sampai kamu kehilangan pekerjaan, bagaimana dengan cicilan rumah ini, Mas? Bagaimana dengan biaya sekolah Rian, dan uang bulanan untuk Ibu di kampung yang rutin kita kirim setiap tanggal sepuluh?" cecar Samaira, nada suaranya bergetar hebat di ambang tangis.

"Aku tahu, Mai. Aku sedang berusaha mencari pekerjaan sampingan malam ini juga," jawab Dimas membela diri, meski suaranya terdengar gamang dan tidak meyakinkan.

"Berusaha? Usaha saja tidak cukup untuk membayar tagihan yang datang setiap bulan, Mas!" seru Samaira, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah juga membasahi pipi.

Kepanikan itu menjalar seperti api dalam sekam, membakar sisa-sisa kewarasannya. Sebagai sosok yang selalu diandalkan oleh keluarga besar—tempat di mana adik-adik ipar meminjam uang dan orang tua meminta pertimbangan—Samaira tiba-tiba menyadari satu kenyataan pahit: tidak ada seorang pun tempat ia bisa bersandar saat ini. Jika ia ikut runtuh, maka seluruh bangunan keluarga yang ia topang selama ini akan ikut ambruk tanpa sisa.

Ponsel di atas meja kembali berdering nyaring, membuyarkan perdebatan tegang di antara mereka. Samaira melangkah dengan gontai untuk melihat layar ponsel yang menyala terang. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk, disusul oleh dering panggilan suara dari adik kandungnya sendiri di desa.

"Halo, Kak Mai? Ini gawat. Bapak masuk klinik lagi karena tekanan darahnya melonjak drastis setelah mendengar kabar sawah gagal panen akibat cuaca ekstrem. Kami butuh uang segera untuk biaya administrasi rumah sakit malam ini juga. Kakak bisa transfer sekarang, kan?" suara di ujung telepon terdengar panik dan mendesak.

Samaira terpaku. Darahnya mendesir dingin. Permintaan uang dalam jumlah besar di saat dapur mereka sendiri sedang terancam padam adalah pukulan telak yang mematikan.

"B-Berapa yang dibutuhkan, Lis?" tanya Samaira terbata-bata, tenggorokannya terasa kering kerontang.

"Sekitar tiga juta rupiah, Kak. Tolonglah, ini darurat banget. Kalau Kakak enggak punya, pinjam dulu ke tetangga atau siapa gitu yang bisa diandalkan," desak adiknya tanpa mengerti situasi genting yang tengah dihadapi Samaira di kota.

Sambungan telepon terputus sepihak. Samaira berdiri mematung, menatap layar ponsel yang kini kembali gelap. Beban ganda itu menghimpitnya dari segala penjuru; urusan domestik rumah tangga yang menuntut perhatian penuh, krisis finansial akibat ancaman PHK suami, ditambah beban moral keluarga besar yang selalu menganggapnya sebagai tempat perlindungan terakhir yang tak pernah kehabisan cara.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya