Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Topeng yang Retak

Malam itu, jarum jam di dinding ruang tengah yang berdetak konstan baru saja menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh. Suara derik kipas angin tua di sudut ruangan seolah berlomba dengan keheningan malam yang pekat di luar jendela. Udara di dalam rumah itu terasa berat, seolah oksigen enggan mengalir dengan bebas. Di luar, pepohonan di halaman depan rumah tua berlantai dua itu tampak seperti bayangan hitam yang menari-nari ditiup angin malam. Biasanya, jam-jam segini adalah waktunya rumah Arkan dan Samaira mulai mereda. Lampu-lampu lorong perlahan dipadamkan satu per satu, menyisakan pendar temaram dari lampu tidur yang kuning hangat, menandakan bahwa hari telah berakhir dan penghuninya bersiap menjemput mimpi.

Namun, malam ini berbeda. Atmosfer yang biasanya hangat berubah menjadi tegang, seolah ada medan magnet tak terlihat yang menarik semua penghuni rumah ke ruang tengah. Cahaya lampu neon di langit-langit ruang tengah yang sedikit berkedip menciptakan bayangan panjang di dinding. Sisa makan malam berupa mangkuk sayur sop yang mulai dingin dan nampan berisi potongan tempe goreng masih terabaikan di meja makan kayu jati. Fajar, anak laki-laki yang pendiam itu, duduk bersidekap di kursi kayu dengan bahu yang merosot. Tatapannya kosong, terpaku pada layar ponselnya yang mati, seolah layar itu menyimpan rahasia dunia yang sedang ia coba pecahkan. Di sebelah kanannya, Arman tampak gelisah. Kakinya bergetar ritmis di bawah meja, dan tangannya sesekali meremas jemarinya sendiri sampai buku jarinya memutih.

Rumah itu, yang biasanya menjadi tempat paling aman bagi mereka, tiba-tiba terasa sempit. Dinding-dindingnya seolah mendekat, menekan setiap pikiran yang selama ini mereka simpan di balik pintu kamar. Di sini, di ruang tengah ini, rahasia-rahasia kecil yang menumpuk selama berbulan-bulan mulai menuntut untuk disuarakan.

❖ ❖ ❖

Tujuan setiap orang di ruangan itu malam ini sebenarnya sederhana, namun terasa mustahil: mereka ingin merasa cukup. Dita, si sulung yang selalu menjadi teladan, memiliki tujuan untuk menjaga citra "kakak yang kuat" agar orang tuanya tidak perlu khawatir akan beban kuliahnya yang menumpuk. Ia ingin menutupi kegagalannya mendapatkan beasiswa riset yang sebenarnya sangat ia butuhkan untuk meringankan biaya keluarga. Baginya, mempertahankan senyum sempurna di depan Arkan dan Samaira adalah misi suci agar martabat keluarga tetap terjaga di matanya sendiri.

Arkan, di sisi lain, memiliki tujuan untuk tetap terlihat tangguh di depan anak-anak dan keponakannya. Sebagai kepala rumah tangga yang baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja—sebuah rahasia yang ia simpan dengan rapat—tujuannya hanyalah bertahan hingga ia mendapatkan panggilan kerja berikutnya. Ia ingin rumahnya tetap menjadi pelabuhan yang tenang bagi Dita, Gita, Fita, Arman, Fajar, dan Ghina. Ia merasa bertanggung jawab atas setiap kelaparan, setiap iuran yang tertunda, dan setiap ketidakpastian yang menghantui mereka.

Arman dan Fajar, dua sepupu yang kehilangan orang tua, memiliki tujuan yang lebih mendasar: mereka hanya ingin menjadi "anggota keluarga" yang berguna dan tidak merepotkan. Mereka merasa berutang budi pada Arkan dan Samaira, sehingga tujuan mereka setiap hari adalah menghilang ke dalam rutinitas tanpa menimbulkan masalah. Sedangkan Ghina, dengan remaja remajanya yang bergejolak, hanya ingin dipahami tanpa harus menjelaskan dengan kata-kata yang rumit. Ia ingin rumah ini menjadi ruang di mana ia tidak dihakimi atas kesalahan-kesalahan kecilnya di sekolah.

Namun, tujuan-tujuan ini berbenturan satu sama lain di atas meja makan malam ini. Pemicunya sepele, namun dampaknya meruntuhkan pertahanan yang selama ini mereka bangun. Sebuah amplop putih berlogo perusahaan swasta—surat penolakan kerja keduabelas yang diterima Arkan bulan ini—tergeletak di meja, ditemukan Dita secara tak sengaja.

"Ayah tidak perlu terus berpura-pura semuanya baik-baik saja," suara Dita pecah, memecah kesunyian. "Kami tahu, Yah. Aku melihat surat itu."

❖ ❖ ❖

Keheningan yang mengikuti ucapan Dita terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. Arkan, yang selama ini menjadi pilar, terpaku. Tangannya yang memegang gelas air minum berhenti di udara. Ia tidak segera menjawab, hanya menatap amplop itu seolah-olah benda itu adalah hakim yang sedang menjatuhkan vonis padanya. Samaira, yang sedang membereskan piring di dapur, terpaku di ambang pintu. Ekspresinya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekhawatiran mendalam yang tidak bisa lagi ia tutupi dengan senyum.

"Dita, kamu bicara apa?" suara Arkan rendah, berusaha tetap tenang meski matanya menunjukkan kekalahan.

"Jangan bohong lagi, Yah," lanjut Dita, suaranya mulai bergetar hebat. Ia berdiri dari sofa dan melangkah mendekati meja makan. "Dita lelah. Dita lelah harus menanggung ekspektasi dunia luar, berpura-pura semuanya hebat di kampus, sementara di rumah kita sendiri, Ayah dan Ibu juga sedang berdarah-darah menahan semuanya sendirian. Aku melihat Ayah keluar setiap pagi dengan kemeja rapi, tapi aku tahu Ayah hanya pergi ke perpustakaan kota atau taman untuk membunuh waktu. Kenapa kita harus terus berpura-pura?"

Di sisi lain meja, Fajar mengepalkan tangannya. Arman menunduk dalam-dalam. Ruang tengah yang tadinya hanya berisi suara derik kipas, kini dipenuhi oleh napas yang memburu dan detak jantung yang terasa nyaring. Ghina, yang sejak tadi terdiam, mulai terisak kecil di sudut ruangan. Suasana menjadi cair, bukan karena kehangatan, melainkan karena topeng yang dipakai setiap orang di rumah itu perlahan-lahan mencair, mengungkap wajah-wajah yang lelah, takut, dan penuh tanda tanya tentang masa depan.

"Aku cuma ingin rumah ini tetap jadi rumah," bisik Samaira, akhirnya berjalan mendekati suaminya. "Tapi kalau rumah ini sudah menjadi penjara bagi rahasia kita sendiri, maka mungkin kita memang butuh momen ini."

❖ ❖ ❖

Tekanan eksternal—kegagalan karier Arkan, masalah finansial keluarga yang merembet ke biaya pendidikan, dan krisis identitas yang dialami para remaja—kini meluap masuk ke ruang tengah. Arman yang selama ini bungkam, tiba-tiba berdiri. Kursinya berderit keras di lantai.

"Om, Tante," suaranya serak namun tegas. "Aku mau berhenti kuliah."

Lihat selengkapnya