Langit sore di luar jendela kaca ruang tamu tampak jingga terbakar, kontras dengan kesejukan AC yang mendesir pelan di dalam rumah mewah berlantai marmer itu. Aroma kopi hitam yang masih mengepul tipis bercampur dengan bau kertas arsip kantor milik Ayah, menciptakan atmosfer formal yang selalu berhasil membuat Ghina merasa kecil dan terintimidasi setiap kali ia menginjakkan kaki di ruangan utama tersebut.
Ayah duduk tegak di sofa kulit berwarna cokelat tua, kedua tangannya saling bertumpu di atas lutut dengan pandangan lurus tajam menerpa sosok gadis remaja yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Di sisi lain, Ibu berdiri gelisah di dekat meja konsol, jari-jemarinya saling meremas erat seolah sedang menahan beban emosi yang siap tumpah kapan saja. Di atas meja kopi, tergeletak selembar surat berkop resmi sekolah berwarna putih bersih dengan stempel basah merah terang yang mencolok mata.
"Jelaskan ini apa, Ghina," suara Ayah memecah keheningan, berat, rendah, dan penuh tekanan mutlak yang tidak memberi ruang bagi kebohongan sekecil apa pun. "Pihak sekolah baru saja menelepon Ibu dua jam lalu. Mereka mengatakan kamu sudah absen selama empat hari berturut-turut dari jam pelajaran, dan puncaknya hari ini, kamu kedapatan berada di luar lingkungan sekolah saat jam pelajaran berlangsung dalam keadaan berseragam yang tidak sesuai aturan bersama sekelompok anak laki-laki."
Ghina menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering seperti ampas kertas. Ia menunduk, menatap ujung sepatu kets miliknya yang sudah kotor oleh debu jalanan, namun bibirnya tetap terkatup rapat membentuk garis lurus yang keras.
"Ghina, Ayah sedang berbicara sama kamu. Angkat kepala kamu dan jawab pertanyaan Ayah!" bentakan kecil dari Ayah membuat meja di hadapannya seolah bergetar.
"Apa yang mau dijelaskan lagi?" suara Ghina akhirnya meluncur keluar, terdengar serak, dingin, dan sengaja dibuat acuh tak acuh untuk menutupi lututnya yang mulai bergetar hebat. "Kan di surat itu sudah ditulis semuanya sama guru BK. Tinggal dibaca saja sendiri kalau memang kurang jelas."
"Ghina! Jaga sikap kamu!" Ibu bersuara dengan nada panik, melangkah mendekat namun langsung terhenti saat Ayah mengangkat satu tangan memberi isyarat agar ia tidak ikut campur lebih jauh.
"Bukan begini caranya bersikap setelah kamu melakukan kesalahan fatal, Ghina!" Ayah bangkit berdiri, posturnya yang tinggi menjulang membuat bayangannya menutupi seluruh tubuh Ghina. "Empat hari bolos sekolah? Keluyuran di jam pelajaran? Selama ini Ayah dan Ibu membanting tulang bekerja dari pagi sampai larut malam di luar sana bukan supaya kamu bisa berbuat sesuka hati seperti preman jalanan di luar sekolah!"
"Siapa juga yang minta dibanting tulangnya?" sergah Ghina cepat, kepalanya mendongak dengan tatapan mata menyalang penuh pemberontakan. "Aku tidak pernah minta dibelikan rumah mewah ini, aku tidak pernah minta fasilitas kartu kredit atau mobil jemputan! Yang aku minta dari dulu cuma satu: kalian ada di rumah! Kalian dengar cerita aku kalau pulang sekolah! Tapi apa? Yang kutemui setiap hari cuma dinding kosong sama rumah sepi!"
"Kami bekerja keras untuk masa depan kamu juga!" suara Ayah ikut meninggi, urat-urat di pelipisnya menegang. "Supaya kamu tidak hidup susah seperti kami dulu!"
"Masa depan? Atau cuma buat pamer ke rekan bisnis kalian kalau anak kalian anak teladan yang masuk peringkat atas terus?" Ghina tertawa pendek, tawa sinis yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Kalian bahkan tidak tahu apa warna kesukaan aku sekarang! Kalian tidak tahu aku punya masalah apa di sekolah! Yang kalian tahu cuma nilai rapor harus sempurna dan nama baik keluarga harus tetap harum!"
Suasana di ruang tamu mendadak berubah beku. Ibu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya mulai berkaca-kaca menatap putri tunggal mereka yang kini berdiri dengan napas memburu dan dada naik-turun menahan amarah yang sudah dipendam selama bertahun-tahun.
❖ ❖ ❖
"Jaga mulut kamu, Ghina!" Ayah maju satu langkah lagi, jarak di antara mereka kini amat dekat hingga Ghina bisa mencium aroma parfum kayu milik ayahnya yang biasa diasosiasikan dengan aturan ketat dan tekanan tiada henti. "Selama ini fasilitas apa yang kurang dari kami? Kamu minta apa saja selalu kamituruti tanpa pernah bertanya dua kali. Dan sekarang kamu membalas semua pengorbanan itu dengan cara bolos sekolah dan bergaul dengan anak-anak berandal?"
"Anak berandal yang kalian sebut-sebut itu justru lebih mengerti aku daripada kalian berdua!" teriak Ghina tanpa bisa ditahan lagi. Air mata panas akhirnya memaksa keluar dari sudut matanya, namun ia buru-buru menyapunya kasar dengan punggung tangan agar terlihat tetap kuat di hadapan kedua orang tuanya. "Mereka tidak pernah menghakimi aku setiap kali aku buat salah. Mereka tidak pernah membandingkan aku dengan anak tetangga atau anak rekan kerja Ayah yang nilainya selalu sempurna!"
Ibu menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kini tumpah membasahi pipi. "Ghina... sayang, bukan begitu maksud kami. Ibu dan Ayah cuma ingin yang terbaik untuk kamu. Dunia luar itu kejam, nak. Kalau kamu tidak punya prestasi dan latar belakang pendidikan yang bagus, kamu akan tertinggal."
"Terbaik menurut versi kalian, bukan menurut aku!" Ghina memotong ucapan ibunya dengan nada suara yang bergetar hebat karena kepedihan yang teramat sangat. "Kalian tidak pernah mau mendengarkan apa isi kepala aku. Setiap kali aku coba ngobrol, setiap kali aku mau cerita tentang hari-hari aku, Ayah pasti selalu bilang sibuk ada urusan kantor, atau Ibu bilang istirahat saja karena capek. Terus giliran aku berbuat bodoh kayak gini, baru kalian mau pasang muka marah dan teriak-teriak seperti ini!"
"Karena kesalahan kamu ini fatal, Ghina!" bentak Ayah lagi, frustrasi karena merasa argumen putrinya tidak masuk akal. "Bolos sekolah itu bukan kenakalan kecil! Itu mencoreng nama baik keluarga kita! Apa kata guru-guru di sana nanti? Apa kata orang-orang kalau tahu anak seorang direktur kedapatan keluyuran di jalanan saat jam pelajaran?"
Mendengar kata-kata itu, tawa getir kembali meluncur dari bibir Ghina. Bahunya bergetar hebat, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena puncak kekecewaan yang sudah memenuhi rongga dadanya hingga terasa sesak.