Malam baru saja merangkak naik, membawa serta udara dingin yang menusuk tulang di sudut kota lama. Di dalam kamar loteng rumah tua Arkan dan Samaira yang berdindingkan kayu tua bercat luntur, lampu bohlam kuning berwatt kecil berpijar lemah, melemparkan bayangan panjang yang gemetar ke dinding. Di sudut ruangan, Arman duduk bersila di atas lantai kayu yang berderit setiap kali ia mengubah posisi duduknya. Matanya nanar menatap layar laptop yang menampilkan halaman portal universitas—halaman tagihan uang kuliah tunggal yang sudah jatuh tempo sejak tiga hari lalu dengan status merah menyala: BELUM LUNAS.
Di sisi lain ruangan, Fajar berdiri bersandar pada kaca jendela yang buram oleh embun malam. Tangannya memegang sebatang rokok kretek yang belum dinyalakannya, hanya diputar-putar gelisah di antara jari-jarinya yang kasar dan kapalan. Sebagai mahasiswa arsitektur tingkat akhir yang juga bekerja paruh waktu sebagai buruh pengawas proyek demi menyambung hidup, beban di pundak Fajar terasa begitu menyesakkan dada malam ini.
"Mana? Masih belum bisa di-refresh halamannya, Man?" suara Fajar memecah keheningan kamar loteng, terdengar serak dan lelah.
Arman mendengus berat, menutup layar laptop dengan kasar hingga terdengar bunyi plak yang cukup nyaring. Ia mengusap wajahnya yang kuyu dengan kedua telapak tangan. "Sama saja, Fajar. Batas perpanjangan pembayaran tinggal besok pagi. Kalau tidak dibayar, namaku pasti dicoret dari daftar peserta studio perancangan akhir. Selesai sudah mimpiku lulus tahun ini."
"Bukan cuma mimpimu yang selesai, Man. Coba kamu lihat kondisi di lantai bawah," bisik Fajar tajam, menunjuk ke arah lantai bawah melalui celah papan kayu loteng yang renggang. Dari tempat mereka berdiri, sayup-sayup terdengar suara Samaira yang sedang menghitung uang kembalian belanjaan dapur di atas meja makan, sementara Arkan tampak termenung menatap tumpukan berkas tagihan material bangunan yang menumpuk tinggi.
"Aku tahu..." gumam Arman lirih, suaranya bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. "Aku melihat sendiri bagaimana Bibi Turi terpaksa memangkas jatah belanja dapur minggu ini. Aku melihat bagaimana Mama Samaira harus menambal sepatunya yang jebol dengan lem super. Dan kita? Kita masih saja menjadi parasit yang menyusu pada kesulitan mereka."
"Jangan ngomong sembarangan, Arman!" sanggah Fajar, meski nada suaranya sendiri menyiratkan kepedulian yang sama rapuhnya. "Kita bukan parasit. Kita tinggal di sini karena diminta oleh Om Arkan dan Tante Samaira sejak orang tua kita di kampung pailit."
"Tapi kenyataannya kita memang beban tambahan, Fajar! Sadar atau tidak, kehadiran kita di rumah tua ini ikut mempercepat kebangkrutan mereka!" bentak Arman pelan namun penuh penekanan, matanya memerah menahan air mata frustrasi. "Om Arkan harus banting tulang siang malam menghadapi klien bajingan seperti Pak Hartawan, salah satunya karena pengeluaran rumah tangga membengkak untuk menghidupi kita berdua yang sudah kuliah!"
Fajar terdiam. Kalimat Arman seperti belati tajam yang menghujam langsung ke ulu hatinya. Ia tahu persis betapa berat perjuangan Arkan dan Samaira selama ini. Rumah tua warisan kakek itu hampir tidak pernah sepi dari masalah finansial, dan kehadiran mereka berdua—dua keponakan yang merantau demi mengejar gelar sarjana—hanyalah menambah deretan panjang daftar pengeluaran bulanan yang harus dipikirkan.
❖ ❖ ❖
Ketukan pelan pada pintu loteng menghentikan perdebatan sengit antara kedua pemuda itu. Pintu kayu berderit perlahan, menampilkan sesosok wanita paruh baya dengan senyum hangat namun menyembulkan guratan lelah di wajahnya: Bi Turi. Di tangannya, sebuah nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan beberapa potong singkong rebus tersaji rapi.
"Belum tidur, Nak? Malam sudah semakin larut, besok kalian kan harus kuliah dan bekerja," ucap Bi Turi lembut sambil melangkah masuk, meletakkan nampan tersebut di atas meja kayu kecil di tengah kamar.
Arman dan Fajar segera merapikan posisi duduk mereka, mencoba menyembunyikan wajah tegang yang baru saja menghiasi ruangan itu. Fajar tersenyum kikuk, mengambil alih nampan dari tangan Bi Turi. "Belum, Bi. Masih ada tugas gambar teknik yang harus diselesaikan."
"Bibi dengar suara kalian agak tinggi tadi dari bawah. Ada masalah apa lagi? Jangan dipendam sendiri, cerita ke Bibi," ujar Bi Turi penuh perhatian, matanya menatap bergantian ke arah Arman dan Fajar dengan tatapan keibuan yang tulus.
Arman menunduk, menatap cangkir teh yang mengepulkan uap tipis. "Tidak ada apa-apa, Bi. Kami hanya... sedang memikirkan masa depan saja. Soal biaya kuliah, soal kehidupan setelah lulus nanti. Rasanya kok semakin rumit ya, Bi?"
Bi Turi menghela napas panjang, lalu duduk di kursi kayu usang di dekat meja. Ia meraih tangan Arman yang kasar, mengusapnya pelan dengan telapak tangannya yang keriput. "Hidup ini memang tidak pernah mudah, Arman. Terutama bagi orang-orang biasa seperti kita yang hidup di kota besar. Tapi ingatlah, Tuan Arkan dan Nyonya Samaira tidak pernah menganggap kalian sebagai beban. Kalian itu sudah dianggap seperti anak kandung mereka sendiri."
"Justru itu masalahnya, Bi," potong Fajar dengan suara bergetar, suaranya terdengar tercekat di tenggorokan. "Justru karena kebaikan hati Om Arkan dan Tante Samaira, kami merasa semakin berdosa. Kami melihat mereka hampir kehilangan segalanya demi mempertahankan rumah ini dan membiayai kuliah kami. Kalau kami terus bertahan di sini, keluarga mereka yang justru akan hancur."
"Fajar benar, Bi," timpal Arman dengan tatapan kosong menerawang ke dinding loteng. "Tadi siang aku mendengar Om Arkan menelepon temannya untuk meminjam uang demi membayar tunggakan SPK-ku, tapi pinjamannya ditolak mentah-mentah. Rasanya... rasanya aku ingin menghilang saja dari rumah ini."
Bi Turi terdiam sejenak. Wajahnya yang tenang menyiratkan kesedihan mendalam mendengar kejujuran yang menyakitkan dari dua anak muda tersebut. Ia tahu betul betapa kerasnya usaha Arkan dan Samaira, namun ia juga menyaksikan betapa remuknya harga diri Arman dan Fajar melihat kondisi tersebut.
"Jangan pernah berpikir untuk lari, Nak," nasihat Bi Turi dengan suara parau. "Lari tidak akan menyelesaikan apa pun. Yang harus kalian lakukan adalah berdiri di samping mereka, bukan malah menjauh atas nama rasa bersalah yang keliru."
Setelah Bi Turi pamit turun ke lantai bawah, keheningan kembali merayap di dalam kamar loteng. Namun, nasihat sang pengasuh seolah tidak mampu meredam badai krisis identitas yang sedang berkecamuk di dalam jiwa Arman dan Fajar.
❖ ❖ ❖
Jam dinding di lantai bawah menunjukan pukul sebelas malam. Di kamar loteng, Arman berdiri dari tempat duduknya dan mulai membereskan beberapa pakaian ke dalam ransel usang berwarna hitam miliknya. Tindakan itu langsung menarik perhatian Fajar yang sejak tadi termenung di dekat jendela.
"Man, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Fajar terkejut, melangkah cepat mendekati ranjang tempat Arman melipat bajunya.
"Aku sudah memutuskan, Fajar. Aku mau berhenti kuliah," jawab Arman tegas tanpa menoleh sedikit pun ke arah saudarinya. Suaranya datar, namun menyembunyikan getaran hebat di balik ketabahannya yang dipaksakan.
"Berhenti kuliah? Kamu sudah berjuang selama tiga tahun setengah, Arman! Tinggal beberapa semester lagi kamu wisuda!" seru Fajar tidak percaya, mencengkeram bahu Arman kuat-kuat agar sepupunya itu mau menatapnya.