Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Efek Domino

Pagi itu, udara di dalam rumah besar keluarga Hartono terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan di sudut ruang keluarga disetel pada suhu terendah, melainkan karena sisa-sisa badai emosi semalam masih menggantung tebal di setiap sudut ruangan. Tidak ada suara dentingan sendok beradu dengan piring keramik di meja makan. Tidak ada sapaan ceria atau candaan ringan yang biasa dilontarkan untuk mencairkan suasana pagi.

Di ujung meja makan yang panjang, Bi Turi berdiri tegap dengan seragam dapurnya yang bersih, tangannya dengan hati-hati meletakkan mangkuk sup ayam hangat di tengah meja. Wajah wanita paruh baya itu tampak tegang, garis-garis keriput di sekitar matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Ia melirik sekilas ke arah anak-anak asuhnya yang kini duduk membisu dengan tatapan kosong tertuju pada piring masing-masing.

"Silakan dinikmati sarapannya, masakan bibi hangat hari ini," ucap Bi Turi dengan suara tertahan, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan dada.

Tidak ada satu pun dari mereka yang merespons. Siska, si anak kedua yang biasanya paling rewel soal rasa makanan, hanya mengaduk-aduk kuah sup di mangkuknya tanpa berniat menyuapnya ke dalam mulut. Sementara adiknya, Doni, duduk bersidekap dengan wajah masam, membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan halaman luar berkabut tipis.

Suasana rumah ini telah berubah drastis sejak kejatuhan bisnis sang ayah beberapa bulan lalu. Rumah yang tadinya selalu riuh oleh tawa, debat-debat kecil soal hobi, dan kehangatan keluarga, kini berubah menjadi ruang tunggu penuh kecurigaan dan tekanan batin yang luar biasa besar. Efek domino dari krisis finansial itu merembes perlahan, meracik rasa frustrasi yang siap meledak kapan saja di antara hubungan bersaudara.

Bi Turi menghela napas panjang dalam diam. Ia tahu betul akar dari ketegangan ini. Beban hidup yang menumpuk di pundak masing-masing anak membuat mereka kehilangan kesabaran. Siska terpaksa cuti kuliah karena biaya semester belum terbayar, Doni kehilangan fasilitas mobilnya dan harus berdesakan naik bus umum setiap hari, sementara Soni—si anak sulung yang diharapkan menjadi tulang punggung pengganti—sering pulang malam dengan wajah pias dan napas berat.

"Siska, makanlah sedikit. Kamu belum makan apa-apa sejak semalam, nanti maag kambuh," bujuk Bi Turi dengan nada lembut, mendekati kursi Siska sambil membawa semangkuk kecil nasi putih.

Siska mendengus pelan, menepis tangan Bi Turi secara halus namun tegas. "Bi, tolong deh, jangan dipaksa. Nafsu makan saya hilang lihat suasana meja makan kayak kuburan gini. Bikin enek."

"Siska, jangan begitu sama Bi Turi. Beliau sudah repot-repot masak sejak subuh," sergah Soni tiba-tiba, mengangkat wajahnya dari cangkir kopi hitam di depannya. Mata Soni memerah karena kurang tidur, nada suaranya terdengar dingin dan tajam.

"Ih, siapa juga yang menyuruh Bibi masak banyak begini kalau akhirnya cuma bikin sesak napas?" balas Siska ketus, menatap kakaknya dengan pandangan menantang. "Kak Soni sendiri dari tadi pagi kerjanya cuma pasang muka masam kayak orang paling menderita sedunia. Kalau capek menanggung semua ini, bilang saja! Jangan malah melampiaskan kekesalan ke orang rumah."

"Jaga mulutmu, Siska!" bentak Soni pelan namun penuh penekanan, menggebrak meja makan hingga mangkuk sup di depannya bergetar hebat. "Kamu pikir aku sengaja bikin keadaan jadi kayak gini? Kamu tahu sendiri berapa banyak tagihan yang harus dilunasi minggu ini!"

❖ ❖ ❖

Bentakan Soni membuat seisi ruangan terdiam kaku. Doni yang tadinya hanya diam mematung, mendadak ikut terpancing emosinya. Ia membanting sendok ke atas piring keramik, menciptakan suara nyaring yang memecah kesunyian pagi.

"Udah, berhenti! Ribut mulu tiap hari dari subuh sampai ketemu subuh lagi. Emangnya cuma Kak Soni doang yang pusing? Aku juga stres tahu nggak!" seru Doni dengan suara bergetar menahan amarah. Ia berdiri dari kursinya, mendorong meja kecil di sampingnya hingga hampir terjungkal. "Teman-teman kampus pada punya motor baru, bisa nongkrong bareng, lah aku? Pulang kuliah harus desak-desakan di angkutan umum, bau keringat, kepanasan. Kalian kira aku nggak malu?"

"Makanya, kalau dikasih fasilitas seadanya itu bersyukur, Don! Jangan malah nuntut terus kayak anak kecil!" balas Siska tidak mau kalah, ikut berdiri dan menunjuk wajah adiknya dengan sengit. "Kamu pikir aku nggak stres harus cuti kuliah? Temen-temenku udah pada nyusun skripsi, lah aku di rumah cuma jadi pesuruh, bantu-bantu beres-beres rumah kayak pembantu!"

"Eh, ngomong jangan sembarangan ya! Siapa juga yang nyuruh kamu jadi pembantu?" hardik Doni, maju beberapa langkah mendekati Siska. "Kalau nggak suka tinggal di sini, sana pergi! Cari uang sendiri!"

"Cukup! Jangan bikin kepala Bibi pusing dengan pertengkaran kalian!" teriak Bi Turi di tengah-tengah mereka, merentangkan kedua tangannya untuk melerai kedua remaja yang sedang dikuasai amarah itu. Air mata nyaris menetes di sudut mata wanita tua yang sudah mengabdi belasan tahun di keluarga itu. "Kalian ini darah daging satu ibu, kenapa malah saling menyakiti pas lagi susah begini? Mana rasa kasih sayang antarsaudara yang dulu sering kalian banggakan?"

Soni memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya terasa mau pecah mendengar suara gaduh di ruang makan. Ia berdiri perlahan, merapikan kemeja kerjanya yang tampak kusut, lalu melangkah meninggalkan meja makan tanpa berkata sepatah kata pun.

"Kak Soni! Mau ke mana kamu? Pembicaraan belum selesai!" teriak Siska mengejar dengan pandangan penuh kekesalan.

"Biarkan dia pergi, Siska. Percuma ngomong sama orang yang cuma peduli sama urusannya sendiri," cibir Doni sinis sambil melipat kedua tangannya di dada.

Bi Turi menatap kedua anak di hadapannya dengan hati yang perih. Ia tahu betul bahwa kemarahan yang meledak-ledak ini bukanlah kebencian sejati, melainkan bentuk pertahanan diri dari rasa putus asa yang teramat sangat. Tekanan psikologis akibat kejatuhan ekonomi keluarga telah mengikis rasa sabar dan mengubah kehangatan rumah menjadi medan perang kecil yang melelahkan.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya