Suara dentingan sendok yang beradu dengan porselen piring terasa begitu nyaring dan memekakkan telinga di ruang makan keluarga besar itu. Jam dinding antik bergaya klasik berdetak lambat, mencatat detik demi detik waktu yang merayap berat. Biasanya, jam-jam malam seperti ini dipenuhi oleh gelak tawa, perbincangan hangat tentang hari yang telah terlewat, atau sekadar cerita ringan tentang pekerjaan Om Hartono dan arisan Tante Siska. Namun, malam ini, suasana di meja makan utama berubah drastis menjadi sebuah kuburan sunyi yang mencekam.
Arman duduk di sudut kursi paling ujung, kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan dengan jemari yang saling meremas erat. Di sampingnya, Fajar menunduk dalam-dalam, menatap piringnya yang baru berisi separuh nasi tanpa ada niat sedikit pun untuk menyuapkannya ke dalam mulut. Udara di ruangan berpendingin udara itu mendadak terasa hampa, menyisakan oksigen yang tipis bagi siapa pun yang bernapas di dalamnya.
"Makanlah, Fajar. Jangan cuma diaduk-aduk nasi di piring itu," bisik Arman pelan, suaranya sangat lirih hampir tak terdengar di antara keheningan yang tebal.
Fajar menggeleng pelan tanpa mengangkat kepalanya. "Nggak nafsu, Mas. Tenggorokanku rasanya tercekat," jawab Fajar dengan suara bergetar nyaris tak berwujud.
Arman menghela napas panjang secara tersembunyi. Ia sendiri merasakan hal yang sama. Setiap suapan nasi yang masuk ke mulutnya terasa hambar, bagaikan butiran pasir kering yang sulit ditelan. Di seberang meja, Tante Siska duduk dengan postur tubuh yang kaku dan tegak sempurna. Wajah wanita paruh baya itu tampak dingin, matanya menatap lurus ke depan, menghindari setiap kemungkinan kontak mata dengan kedua keponakannya yang yatim piatu itu. Di sebelah Tante Siska, Om Hartono tampak sibuk memotong daging steak di piringnya dengan gerakan pisau yang ditekan begitu kuat, menghasilkan bunyi gesekan logam tajam yang membuat siapa pun bergidik.
Suasana makan malam itu bukan lagi sekadar acara mengisi perut, melainkan sebuah medan perang psikologis yang tidak kasat mata. Ketegangan sisa pertengkaran sore tadi masih menggantung di udara, membekukan setiap kata yang hendak terucap dari bibir masing-masing orang di meja tersebut. Tidak ada sapaan, tidak ada tawaran lauk, dan tidak ada senyuman basa-basi yang biasa menghiasi meja makan keluarga terpandang itu.
Arman merenung sejenak, mengingat kembali bagaimana awal mula mereka bisa terjebak dalam situasi yang begitu menyiksa mental ini. Semenjak kecelakaan maut merenggut nyawa kedua orang tua mereka sebulan yang lalu, rumah Om Hartono menjadi satu-satunya tempat berpijak. Namun, kebaikan yang dijanjikan di awal perlahan luntur, menyisakan kenyataan pahit bahwa status mereka di sini tidak lebih dari sekadar beban hidup yang ditanggung demi menjaga gengsi keluarga besar. Rasa berhutang budi yang teramat besar membuat Arman dan Fajar selalu memilih untuk merendahkan diri, hidup bagaikan bayang-bayang transparan di rumah darah daging sendiri.
"Kenapa tidak ada yang makan? Apa makanan di meja ini kurang pantas untuk selera kalian?" suara Tante Siska tiba-tiba memecah keheningan, terdengar begitu tajam dan menusuk.
Pertanyaan itu dilontarkan tanpa menyebut nama, namun arah pandangan matanya tertuju tajam ke arah Arman dan Fajar. Seluruh isi meja makan langsung terdiam total, menunggu reaksi selanjutnya.
❖ ❖ ❖
Arman merasakan jantungnya berdegup kencang menghantam dinding dada. Ia mengangkat wajahnya perlahan, mencoba menampilkan ekspresi setenang mungkin di hadapan bibinya yang sedang menatap penuh selidik.
"Makanan ini sangat enak, Tante. Kami hanya... sedang tidak terlalu lapar malam ini," jawab Arman dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menghindari segala intonasi yang bisa dianggap menantang.
Tante Siska mendengus pelan, sebuah dengusan sinis yang sarat akan ketidaksukaan mendalam. "Tidak lapar atau memang sengaja tidak mau menghargai jerih payah orang yang sudah memasak? Kalian tahu sendiri berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk menyiapkan makan malam bagi seluruh isi rumah ini, tapi sikap kalian justru menunjukkan seolah-olah kalian sedang diasingkan."
"Bukan begitu maksud kami, Tante," potong Fajar tidak tahan, kepalanya terangkat dengan mata memerah menahan gejolak emosi. "Kami tidak pernah berniat tidak menghargai..."
"Fajar, jaga sikapmu!" bentak Om Hartono tiba-tiba, suaranya yang berat menggema di seluruh ruang makan, menghentikan kalimat sang adik seketika. Pria paruh baya itu meletakkan garpu dan pisaunya dengan kasar ke atas piring hingga menimbulkan suara dentingan logam yang keras.
Fajar tertegun kaget, menelan kembali kata-kata pembelaannya dengan air mata yang hampir tumpah di pelupuk mata. Ia menunduk kembali, mencengkeram erat tepi meja makan.
Om Hartono menatap kedua keponakannya dengan pandangan penuh kekecewaan yang dibuat-buat. "Sejak kalian menginjakkan kaki di rumah ini, yang kalian tunjukkan bukanlah rasa terima kasih, melainkan sikap tertutup, mudah tersinggung, dan seolah-olah kami adalah musuh kalian. Apakah begini cara orang tua kalian mendidik kalian dulu?"
Mendengar nama kedua orang tuanya dibawa-bawa dalam perdebatan itu, dada Arman terasa seperti ditikam belati tajam. Luka kehilangan yang masih basah mendadak tersiram air garam yang perih.
"Om, tolong... jangan bawa-bawa Ayah dan Ibu," ucap Arman dengan suara bergetar hebat, rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir meledak dari dalam dirinya. "Mereka sudah tidak ada. Jangan jadikan mereka bahan untuk menyudutkan kami."
"Lalu siapa lagi yang harus disalahkan kalau bukan didikan mereka yang membuat kalian menjadi anak-anak yang tidak tahu diuntung seperti sekarang?!" sergah Tante Siska memperkeruh suasana, suaranya melengking tinggi menembus batas kesabaran. "Kalian itu hanya menumpang! Hidup dari belas kasihan kami! Sekolah pakai uang suami saya! Tapi kelakuan kalian sehari-hari justru seperti tuan tanah yang berhak mengatur isi rumah!"
Suasana di meja makan menjadi semakin mencekam. Bunyi detak jam dinding seolah menjadi satu-satunya suara penanda waktu yang terus berjalan di tengah ketegangan yang kian memuncak. Arman mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, kuku-kukunya menancap erat ke telapak tangan. Ingin sekali ia berdiri, membentak balik, dan melempar piring di hadapannya ke lantai untuk menunjukkan bahwa harga diri mereka tidak bisa diinjak-injak begitu saja hanya karena mereka miskin dan yatim piatu.
Namun, tatapan mata Fajar yang ketakutan di sampingnya berhasil menarik Arman kembali ke permukaan kesadaran. Ia harus menahan diri. Jika ia melawan secara terang-terangan malam ini, adiknya lah yang akan menanggung akibat paling berat.
"Maafkan kami, Om, Tante," ucap Arman dengan suara tercekat, menelan seluruh harga dirinya mentah-mentah demi kedamaian sementara. "Kami akan lebih menjaga sikap kedepannya. Kami minta maaf."
Om Hartono mendengus pelan, lalu kembali mengambil garpu dan pisaunya. "Habiskan makanan kalian dalam diam. Saya tidak mau ada keributan lagi di meja makan."
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali menyelimuti ruang makan tersebut, namun rasanya jauh lebih berat dan menyesakkan daripada sebelumnya. Tidak ada satu pun orang yang berani membuka suara atau sekadar bergerak secara berlebihan. Sendok dan garpu beradu secara monoton, menciptakan irama bisu yang mengiringi detik-detik makan malam yang terasa abadi.