Cahaya lampu meja kerja yang berpijar kuning pucat menjadi satu-satunya sumber penerangan di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu. Di luar jendela, rintik hujan malam jatuh tanpa henti, mengetuk kaca dengan irama monoton yang kian menambah pekat suasana muram di dalam rumah. Arkan duduk membungkuk di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas kantor, laporan keuangan yang berantakan, serta cangkir kopi dingin yang sejak sore tadi tidak tersentuh. Tatapannya kosong, terpaku pada layar laptop yang menyala terang dengan dokumen lembar kerja yang belum juga ia selesaikan. Wajahnya tampak kusam, ditumbuhi janggut tipis yang tidak tercukur selama beberapa hari, sementara lingkaran hitam yang pekat membingkai kedua matanya yang menyiratkan kepenatan luar biasa.
Bagi Arkan, ruang kerja ini telah berubah fungsi menjadi sebuah tempat persembunyian yang aman dari dunia luar—sebuah benteng pertahanan tempat ia melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa ia merasa telah gagal total sebagai seorang kepala keluarga. Kegagalan bisnis yang menimpanya beberapa bulan belakangan ini bukan hanya menggerus tabungan masa depannya, melainkan juga meruntuhkan harga diri dan identitasnya sebagai pria yang selama ini selalu diandalkan. Setiap kali ia mendengar suara langkah kaki mendekati pintu ruang kerjanya, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa malu yang teramat sangat untuk menatap mata istri dan anak-anaknya.
"Arkan... Kamu tidak mau keluar sebentar untuk makan malam? Dari siang kamu belum makan apa-apa," suara Samaira terdengar lembut namun penuh kecemasan dari balik pintu kayu berpelitur gelap itu. Disusul dengan ketukan pelan sebanyak dua kali.
Arkan menggertakkan giginya perlahan. Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan kasar melalui hidungnya. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri di layar laptop yang gelap saat tertidur sesaat tadi. Rasa frustrasi menghantam dadanya begitu keras hingga ia mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku belum lapar, Sam. Urus saja anak-anak. Jangan pikirkan aku," jawab Arkan dengan suara serak yang sengaja ia buat setenang mungkin, meski getaran keputusasaan tetap terselip di setiap suku katanya.
"Tapi kesehatanmu, Mas. Kamu sudah mengurung diri di dalam sana selama tiga hari penuh. Pekerjaan memang penting, tapi kondisi fisikmu juga harus dipikirkan. Kita bisa menghadapi semua ini bersama-sama," bujuk Samaira lagi, nada suaranya menyiratkan kelelahan batin yang mendalam setelah berhari-hari mencoba mengetuk pintu hati suaminya yang tertutup rapat.
"Bersama-sama bagaimana, Sam? Kalau kenyataannya aku tidak bisa lagi menafkahi kalian dengan layak?!" seru Arkan setengah berbisik namun penuh penekanan, takut suaranya terdengar sampai ke kamar anak-anak. "Sudahlah, kumohon biarkan aku sendiri. Jangan ganggu aku dulu."
Di balik pintu ruang kerja, Samaira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya yang tadi terangkat untuk kembali mengetuk perlahan terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia merasakan lubang menganga yang begitu dingin di dalam dadanya. Suaminya memang masih berada di bawah atap rumah yang sama, bernapas di udara yang sama, dan tidur di kamar yang hanya terpaut beberapa meter dari ruang keluarga, namun secara emosional, Arkan telah lama menghilang. Kehadirannya kini bagaikan bayangan hampa yang tak tersentuh, meninggalkan Samaira sendirian memikul beban rumah tangga yang kian menghimpit.
❖ ❖ ❖
Suasana pagi hari di meja makan terasa begitu asing dan menyesakkan. Tidak ada lagi obrolan ringan atau gelak tawa kecil seperti yang biasa menghiasi sarapan keluarga kecil itu di masa lalu. Samaira duduk di kursi utama sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir anak bungsunya, sementara putrinya menyantap roti dengan kepala tertunduk dalam. Kursi di ujung meja yang biasanya diduduki oleh Arkan tampak kosong melompong, dingin, dan menyisakan sunyi yang menyayat hati.
"Ibu, Ayah tidak ikut sarapan lagi?" tanya sang anak bungsu dengan suara polos, mendongak menatap wajah ibunya yang tampak pucat kurang tidur.
Samaira memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menenangkan anaknya. "Ayah sedang banyak pekerjaan penting di ruang kerjanya, Nak. Nanti kalau sudah selesai, Ayah pasti bergabung dengan kita. Cepathabiskan sarapannya ya, nanti keburu terlambat sekolah."
Anak itu mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, Samaira tahu ia sedang membohongi anak-anaknya sekaligus membohongi dirinya sendiri. Arkan tidak sedang sibuk bekerja; suaminya itu sedang tenggelam dalam rasa bersalah yang melumpuhkan, memilih untuk menarik diri dari lingkaran keluarga karena menganggap dirinya tidak lagi layak menyandang status sebagai pelindung rumah tangga.
Selepas anak-anak berangkat sekolah dan rumah kembali sepi, Samaira berjalan perlahan menyusuri lorong lantai bawah menuju ruang kerja Arkan. Nampan kecil berisi semangkuk sup hangat dan segelas air putih segar ia bawa dengan kedua tangannya yang sedikit gemetar. Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu ruang kerja yang tertutup rapat. Ia mendengarkan sejenak, berharap mendengar suara ketikan keyboard atau derit kursi, namun yang terdengar hanyalah keheningan mati.
Samaira mengetuk pintu itu dengan sangat pelan, seolah takut mengusik singgasana kerapuhan suaminya. "Mas... aku membawakan sedikit makanan hangat. Pintunya tidak dikunci, aku masuk ya."
Tanpa menunggu jawaban, Samaira memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Bau ruangan yang pengap dan beraroma kopi basi langsung menyambut indra penciumannya. Di sudut ruangan, Arkan tampak duduk menunduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Lampu meja masih menyala meskipun hari sudah pagi, menciptakan bayangan panjang di dinding ruangan yang suram.
Samaira melangkah masuk dengan hati-hati, lalu meletakkan nampan tersebut di atas sudut meja kerja yang kosong di sebelah tumpukan berkas yang berserakan. "Mas, setidaknya makanlah barang sesendok dua sendok. Kamu bisa jatuh sakit kalau terus begini. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus kami?"
Arkan menurunkan kedua tangannya, lalu mendongak menatap istrinya dengan sorot mata yang merah dan kosong. Ada kilat kemarahan bercampur rasa jijik pada diri sendiri di dalam tatapan itu. "Mengurus kalian? Dengan apa, Sam? Uang tabungan kita sudah menipis, cicilan rumah bulan depan belum ada kejelasan, dan aku bahkan tidak bisa membayar biaya sekolah anak-anak tepat waktu. Aku kepala keluarga yang gagal!"
"Siapa yang bilang kamu gagal, Arkan?" potong Samaira cepat, suaranya bergetar menahan kepedihan yang mendesak dadanya. "Kegagalan dalam bisnis bukan berarti kamu gagal menjadi suami dan ayah bagi kami! Kami tidak butuh harta yang berlimpah, Mas. Yang kami butuhkan adalah kamu—kehadiranmu, dukunganmu, bukan sosok bayangan yang mengurung diri dan menolak untuk diajak berjuang bersama!"
Arkan tertawa pelan, sebuah tawa getir dan hampa yang terdengar menyayat hati. "Kamu bilang begitu karena kamu tidak tahu rasanya menjadi aku. Setiap kali aku melihat kalian tersenyum, aku merasa sedang membohongi kalian dengan ketidakberdayaanku."