Suara bantingan pintu depan menggema keras, memecah keheningan malam di dalam rumah keluarga Wirawan. Debar jantung Ratna, sang ibu, terasa bergemuruh di dadanya seiring langkah kaki terburu-buru yang menuruni tangga. Di ruang tamu, Dimas—suaminya—baru saja bangkit dari sofa dengan wajah merah padam, napasnya memburu menahan amarah yang baru saja meletup.
"Ghina! Jangan keluar rumah jam segini!" teriak Dimas dengan suara menggelegar, berniat menyusul putrinya.
Namun, genggaman tangan Ratna di lengannya dengan cepat menahan langkah pria itu. "Sudah, Mas! Biarkan dia mereda dulu. Jangan dipaksa, nanti malah makin runyam."
"Kamu selalu saja membelanya, Ratna!" bentak Dimas, menepis tangan istrinya dengan kasar. "Anak itu semakin hari semakin membangkang! Diberi nasihat malah melawan, membentak orang tua, lalu seenaknya sendiri kabur di tengah malam!"
"Dia kabur karena merasa tidak ada yang mendengarkan, Mas!" balas Ratna tidak kalah tinggi, air matanya kini mulai menetes membasahi pipi. "Kamu tidak pernah mau mengerti isi kepalanya. Yang kamu tahu hanya aturan, aturan, dan aturan!"
Suasana di dalam rumah mendadak berubah menjadi medan perang yang sunyi setelah teriakan itu. Hanya suara detak jam dinding antik di sudut ruangan yang terdengar berdetak nyaring. Pertengkaran hebat tadi dipicu oleh masalah sepele—Ghina, anak perempuan mereka yang berusia tujuh belas tahun, kedapatan menyembunyikan surat pengunduran diri dari kursus pianonya demi mendaftar diam-diam ke komunitas teater jalanan. Bagi Dimas yang seorang akademisi kaku, teater adalah jalan hidup yang sia-sia; bagi Ghina, panggung adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas lega dari tekanan keluarga.
"Lihat sekarang akibatnya," ucap Dimas dengan suara bergetar dingin, menatap pintu depan yang masih terbuka setengah. "Dia pergi tanpa membawa jaket, dompet, atau ponselnya yang tertinggal di atas meja belajar. Mau jadi apa anak itu di luar sana selarut ini?"
Degup jantung Ratna seketika berhenti sepersekian detik. Ponsel Ghina tertinggal? Di tengah kota yang luas dan asing ini, bagaimana mereka bisa mencari putri bungsu mereka tanpa arah?
"Coba telepon temannya, Mas. Siapa tahu dia pergi ke rumah Maya atau Rara," usul Ratna dengan suara gemetar, kepanikan mulai mencengkeram kewarasannya.
Dimas dengan tangan bergetar mengambil ponselnya dari saku celana, lalu mencari kontak teman-teman dekat Ghina satu persatu. Ia menekan tombol panggil dengan tergesa-gesa.
“Halo, malam, Om...” suara serak seorang gadis terdengar di ujung sana.
"Maya, ini Om Dimas. Apa Ghina ada di rumahmu? Atau ada bersama kamu?" tanya Dimas to the point, nada suaranya menyembunyikan kepanikan hebat.
“Ghina? Enggak ada, Om dari tadi siang kami tidak ketemu. Memangnya kenapa, Om?”
Jawaban itu membuat dunia Dimas seakan runtuh seketika. Ia menutup sambungan telepon tanpa mengucapkan salam, lalu menatap istrinya dengan tatapan nanar. "Dia tidak di sana. Tidak ada satupun temannya yang tahu dia ke mana."
❖ ❖ ❖
Kepanikan di rumah keluarga Wirawan kian memuncak menjadi histeria kecil ketika waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Ratna mondar-mandir di ruang tamu sambil terus meremas ujung bajunya, air matanya tak lagi terbendung. Sementara itu, Dimas mondar-mandir di depan teras rumah, mencoba menghubungi nomor ponsel Ghina yang berkali-kali hanya berdering tanpa jawaban karena tertidur bisu di atas meja kamar.
"Bagaimana ini, Mas? Ghina tidak pernah pergi selama ini. Kalau terjadi apa-apa padanya di luar sana bagaimana?" rintih Ratna, suaranya pecah dalam isak tangis yang tertahan.
Dimas menghentikan langkahnya, menatap istrinya dengan raut wajah yang sama kacaunya. Ego seorang ayah yang tadinya keras kini meleleh, digantikan oleh ketakutan luar biasa akan kehilangan putri tercintanya.
"Kita bagi tugas, Ratna. Aku akan ambil kunci mobil dan menyusuri kawasan taman kota serta stasiun kereta terdekat, tempat biasa anak-anak muda berkumpul. Kamu tunggu di rumah, siapa tahu dia kembali atau menelepon dari telepon umum," titah Dimas dengan suara serak.
"Aku ikut, Mas! Aku tidak mungkin bisa tenang duduk diam di sini," protes Ratna, segera menyambar tas tangan dan jaketnya.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, keduanya bergegas keluar rumah, memasuki mobil SUV hitam milik Dimas. Mesin dinyalakan, dan mobil meluncur membelah jalanan kota yang mulai sepi. Sepanjang perjalanan, mata Ratna dan Dimas awas menatap setiap sudut jalan yang remang-remang diterangi lampu penerangan jalan umum.
"Ghina anak yang kuat, Mas... Dia pasti hanya mencari tempat tenang untuk meredakan amarahnya," ucap Ratna lirih, lebih kepada dirinya sendiri untuk menenangkan diri.
"Aku telah gagal menjadi ayah yang baik untuknya, Ratna," aku Dimas dengan suara berat, pandangannya lurus menatap jalanan basah sisa hujan sore tadi. "Selama ini aku terlalu menuntut kesempurnaan darinya, tanpa pernah peduli apa yang sebenarnya dia inginkan dalam hidupnya."
Pengakuan itu membuat Ratna menoleh sekilas ke arah suaminya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun pernikahan mereka, ia melihat kerapuhan yang begitu nyata di balik sosok pria yang selama ini dikenal paling keras kepala di keluarga. Momen krisis ini secara perlahan mengupas ego masing-masing, menyadarkan mereka betapa rapuhnya ikatan keluarga yang selama ini mereka anggap kuat dan baik-baik saja di permukaan.
Setibanya di kawasan taman kota yang mulai sepi, Dimas memarkirkan mobil di pinggir jalan. Keduanya turun, menyusuri trotoar gelap di bawah rindangnya pohon-pohon besar sambil memanggil nama putri mereka berulang kali.
"Ghina! Ghina, kamu di mana, Nak?" panggil Ratna dengan suara parau, mengabaikan tatapan heran dari beberapa gelandangan yang tidur di sekitar bangku taman.
Tidak ada jawaban. Hanya angin malam yang berhembus dingin menyapu dedaunan kering. Rasa putus asa mulai merayap naik ke permukaan tenggorokan Dimas. Ia merogoh saku jaketnya, hendak menelepon kantor kepolisian sektor terdekat untuk membuat laporan orang hilang.
❖ ❖ ❖