Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Ghina Ditemukan

Kopi hitam di cangkir porselen Arkan sudah mendingin sejak setengah jam lalu, meninggalkan kerak tipis di tepian keramik putih. Di ruang tengah yang lengang, aroma detergen lemon dan kelembapan sore beradu kaku. Dita duduk di ujung sofa, jemarinya sibuk menyapu layar ponsel tanpa benar-benar membaca apa pun, sementara Ghina merayap di karpet bulu, mencoba menumpuk balok-balok kayu yang tak kunjung seimbang. Tak ada suara kecuali gesekan kain dan denting halus balok yang jatuh bertumpuk. Kesunyian itu tidak menenangkan; itu adalah kesunyian yang sengaja dipelihara, semacam kesepakatan tak tertulis untuk menjaga bom waktu agar tidak berdetak terlalu kencang.

"Kamu sudah cek surat tagihan listrik bulan ini, Mas?" suara Dita memecah udara, datar dan tanpa intonasi.

Arkan tidak memindahkan tatapannya dari koran bekas yang melapisi meja kaca. "Sudah. Kemarin."

"Lalu?"

"Lalu kenapa? Sudah kubayar lewat aplikasi tadi pagi."

Dita menghela napas panjang, sengaja membiarkan hembusannya terdengar nyaring. "Bukan soal sudah dibayar atau belum, Mas. Pembengkakannya hampir empat puluh persen dari bulan lalu. Kamu menyalakan AC kamar mandi lagi sepanjang malam?"

"Mana ada AC di kamar mandi, Dita," sahut Arkan, ketus. Matanya akhirnya terangkat, menatap punggung Dita yang kaku. "Jangan mulai mencari-cari alasan untuk berdebat pada hari Minggu sore."

"Aku tidak mencari alasan. Aku bicara soal efisiensi rumah tangga yang makin hari makin tidak masuk akal," balas Dita seraya menoleh. Pandangan mereka bertabrakan, dingin dan tajam seperti benturan besi dingin.

"Papa, Mama, lihat rumah Ghina!" seru Ghina tiba-tiba dari lantai, tidak menyadari arus listrik ketegangan di atas kepalanya. Tangannya yang mungil menunjuk sebuah benteng kayu setinggi lutut.

"Bagus, Sayang. Pelankan suaramu, Papa sedang pusing," kata Arkan tanpa menoleh ke arah anak itu.

"Tapi ini istana untuk Mama!" Ghina berdiri, melompat kecil penuh semangat. Gaun merah mudanya berkibar, dan dalam gerak refleks yang terlalu cepat, tumitnya menyenggol sudut meja kopi.

Suara benturan keramik yang hancur berkeping-keping terdengar bagai ledakan meriam di ruang kecil itu. Vas keramik biru motif porselen Tiongkok—hadiah pernikahan dari almarhumah ibu Dita—terjatuh, menghempas lantai marmer, dan pecah menjadi puluhan serpihan tajam. Air sisa tangkai bunga krisan yang membusuk terpercik ke mana-mana, membasahi karpet dan kaki telanjang Ghina.

Ghina membeku. Senyum gembiranya menguap seketika, digantikan oleh mata bulat yang mulai digenangi air mata.

"Ghina!" jerit Arkan, bangkit dari kursinya begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, urat-urat lehernya menegang menakutkan. "Kamu ini bisa jalan pakai mata tidak, sih?!"

Ketakutan memuncak seketika. Ghina membalikkan badan, lalu berlari kencang menerobos pintu belakang rumah yang terbuka sedikit menuju area luar, menghilang di kegelapan area favorit tempatnya biasa menyendiri.

❖ ❖ ❖

Dita tersentak hebat, matanya melebar memandang pintu belakang yang bergoyang. "Ghina! Kamu gila, Mas?! Dia lari ke luar!"

"Aku cuma menegurnya!" Arkan berseru membela diri, namun suaranya bergetar panic. "Mana aku tahu dia bakal kabur?!"

"Kapan kamu bisa mengontrol emosimu, Arkan?!" teriak Dita histris, mendorong dada Arkan sebelum berlari menyusul anak mereka. "Ghina! Sayang, ini Mama!"

Dita menyusuri jalan setapak di belakang perumahan yang membelah kebun pohon bambu tua—tempat bermain favorit Ghina tempat anak itu biasa bersembunyi jika sedang sedih. Gerimis tipis mulai membasahi gaun dan rambut Dita, namun napasnya yang memburu tak menghiraukan dingin.

"Ghina! Keluar, Nak! Mama di sini!" panggil Dita dengan suara parau yang nyaris pecah.

Di bawah rindangnya pohon bambu yang saling bertautan membentuk celah sempit, tampak sosok kecil bergaun merah muda sedang meringkuk di atas bangku kayu tua yang terabaikan. Ghina menyembunyikan wajah di balik kedua lututnya, bahunya naik turun terisak keras.

"Ghina..." desis Dita pelan, menghela napas lega seraya melangkah mendekat secara perlahan agar tidak mengejutkannya. "Sayang, ini Mama."

Lihat selengkapnya