Udara malam di ruang tengah rumah keluarga Arkan terasa membeku. Lampu gantung bersinar remang, memantulkan bayangan empat insan yang duduk melingkar di atas karpet tebal. Arman dan Fajar, dua remaja yang selama bertahun-tahun memilih diam, kini duduk berdampingan dengan jemari yang saling bertaut erat. Di hadapan mereka, Arkan dan Dita menatap dengan dada bergemuruh, menantikan bom waktu yang akhirnya meledak malam ini.
"Kami tidak pernah benar-benar merasa memiliki rumah ini, Om... Tante," bisik Arman membuka suara. Suaranya pecah, bergetar menahan beban berat yang dipikulnya sendirian sejak kecil.
Dita memajukan duduknya, matanya berkaca-kaca saat melihat wajah keponakannya yang pucat. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Arman? Selama ini Om Arkan dan Tante Dita menyayangi kalian seperti anak sendiri."
"Kami tahu Tante menyayangi kami," sela Fajar cepat, matanya menatap lantai dengan tatapan kosong. "Tapi setiap kali Om dan Tante memeluk kami, ada rasa takut luar biasa yang menusuk dada kami."
Arkan mengerutkan dahi, hatinya seperti diremas jemari tak kasat mata. "Rasa takut apa, Fajar? Tolong katakan pada Om."
"Takut kalau rasa hangat ini cuma sementara," jawab Arman melengkapi ucapan adiknya. "Kami pernah punya rumah yang hangat. Kami pernah punya Papa dan Mama yang memeluk kami setiap malam. Tapi dalam satu detik, semuanya hilang terbakar habis."
"Arman..." panggil Dita lirih, air mata pertamanya menetes membasahi pipi.
"Setiap kali kami melihat Om Arkan berangkat kerja atau Tante Dita mengendarai mobil, pikiran kami selalu dipenuhi bayangan buruk," lanjut Arman dengan napas tersendut-sendut. "Kami takut ponsel berdering dan orang di ujung telepon bilang... kalian sudah tidak ada."
"Bayangan mobil Papa yang hancur di jurang itu selalu muncul setiap malam," tambah Fajar, tangannya mencengkeram erat lutut celananya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kami takut menjadi yatim piatu untuk kedua kalinya."
Arkan tertegun, lidahnya mendadak kaku. Selama lima tahun mendampingi kedua anak almarhum saudaranya ini, ia mengira sikap tertutup mereka adalah bentuk kedewasaan dini. Ia tidak pernah menyangka bahwa di balik ketenangan Arman dan Fajar, tersimpan trauma mendalam yang terus menggerogoti jiwa mereka tanpa ampun.
"Kami merasa seperti menumpang," gumam Fajar pelan, memecah keheningan yang mencekam. "Setiap makan malam, setiap merayakan ulang tahun, ada suara di kepala kami yang berbisik bahwa kami ini orang asing yang merepotkan."
"Itu tidak benar, Fajar! Kalian keluarga kami!" tegas Arkan dengan nada emosional.
"Tapi kami merasa asing, Om!" teriak Arman, meluapkan kemarahan dan kesedihan yang terpendam belasan tahun. "Kami takut terlalu mencintai Om dan Tante, karena kalau kalian pergi menyusul Papa dan Mama, kami tidak akan sanggup hidup lagi!"
❖ ❖ ❖
Keheningan kembali melingkupi ruang tengah setelah teriakan Arman memantul di dinding-dinding rumah. Dita menutup mulutnya dengan kedua tangan, terisak tanpa suara saat menyadari betapa dalam luka rahasia yang disimpan kedua remaja itu. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu telak; ia merasa telah gagal menjadi figur ibu yang mampu memberikan rasa aman sejati.
"Maafkan Tante, Arman... Fajar... Maafkan Tante," bisik Dita seraya merangkak mendekati kedua keponakannya. "Tante tidak tahu kalau ketakutan itu begitu menyiksa kalian selama ini."
Arman memalingkan wajah, menyapu air mata yang menetes di dagunya dengan kasar. "Ini bukan salah Tante Dita. Ini salah kami yang tidak pernah berani jujur."
"Kenapa kalian simpan semuanya sendiri?" tanya Arkan, suaranya parau menahan kepedihan yang teramat sangat. "Kenapa tidak pernah cerita pada Om?"
"Karena kami takut Om Arkan menganggap kami lemah dan tidak bersyukur," jawab Fajar jujur, menatap lurus ke mata pamannya. "Om sudah bekerja keras membiayai sekolah kami, memberi kami kamar yang layak, dan mencukupi semua kebutuhan kami. Kami tidak mau menambah beban pikiran Om."
"Kalian bukan beban, Fajar! Jangan pernah berpikir seperti itu lagi!" potong Arkan tegas, matanya merah memendam duka. "Om menyayangi kalian sama besarnya seperti Om menyayangi almarhum ayah kalian!"
"Tapi rasanya beda, Om," balas Arman lirih, menyebarkan kepedihan baru di udara. "Setiap kali kami menerima kebaikan Om dan Tante, ada rasa bersalah pada Papa dan Mama. Seolah-olah kalau kami bahagia di sini, kami sedang melupakan mereka."
"Luka itu... rasa kehilangan itu tidak pernah benar-benar pergi," sambung Fajar dengan suara melemah. "Setiap malam kami tidur dengan ketakutan bahwa esok pagi, kami akan terbangun sendirian lagi di dunia yang jahat ini."
Dita meraih jemari Fajar yang dingin, menggenggamnya kuat-kuat seolah takut remaja itu akan menghilang. "Tante janji, Fajar... Tante dan Om Arkan tidak akan kemana-mana. Kita akan menghadapi rasa takut ini bersama-sama."
Arman menggeleng lambat, menatap Dita dengan tatapan penuh keputusasaan. "Tante tidak bisa berjanji seperti itu. Maut tidak pernah memberi tahu kapan dia akan datang menjemput."
❖ ❖ ❖