Udara di dalam rumah warisan peninggalan kakek itu terasa sangat pekat, seolah oksigen di dalamnya telah habis terserap oleh ketegangan yang mengendap selama bertahun-tahun. Jam dinding antik berbandul kayu di sudut ruang tengah berdetak nyaring, seakan menghitung mundur waktu ledakan yang cepat atau lambat pasti akan terjadi. Lampu gantung kuning temaram memancarkan bayangan panjang di dinding yang catnya mulai mengelupas di sana-sini.
Di atas sofa usang berbahan bludru hijau yang sudah usang, Dimas duduk dengan tangan mengepal erat di atas lututnya. Tatapannya lurus ke depan, menatap lantai keramik dingin yang kotor tanpa pola. Di sisi seberangnya, Ratna berdiri mondar-mandir dengan langkah gelisah, suara pantofelnya berkerotok di atas lantai menghasilkan ritme yang memekakkan telinga.
"Kamu selalu saja menghindar setiap kali masalah ini dibahas, Mas!" suara Ratna memecah keheningan, tajam dan bergetar menahan amarah yang sudah di ambang batas. "Selalu saja bilang sabar, sabar, dan sabar! Sampai kapan kami harus bersabar di rumah bobrok ini sementara cicilan utang di luar sana terus menumpuk?!"
Dimas menarik napas panjang, berusaha meredam gejolak dadanya yang mendidih. "Bukannya aku menghindar, Ratna! Aku hanya tidak ingin kita memperkeruh suasana di depan anak-anak. Masalah keuangan ini bukan cuma kamu yang memikirkan!"
"Kalau kamu memikirkannya, buktinya mana?!" sergah Ratna langsung menyela, nada bicaranya naik beberapa oktaf. Ia berhenti mondar-mandir dan berdiri tepat di hadapan suaminya, menatap tajam dengan mata yang sudah memerah. "Setiap bulan aku harus memutar otak, berhutang ke sana ke mari demi menutupi kebutuhan dapur kita, sementara kamu asyik dengan dunia kerjamu yang sama sekali tidak ada kejelasannya!"
"Dunia kerjaku tidak ada kejelasan kamu bilang?" Dimas akhirnya ikut bangkit berdiri, emosinya tersulut oleh kalimat sang istri yang dianggap merendahkan usahanya selama ini. "Aku banting tulang setiap hari sampai larut malam bukan untuk bersenang-senang! Aku cari uang halal buat menghidupi keluarga ini, bukan buat dibikin pusing sama omelan kamu setiap hari!"
"Halal kamu bilang? Tapi hasilnya mana, Mas? Rumah ini hampir disita bank karena kamu menunggak cicilan tiga bulan berturut-turut! Dan kamu masih sempat-sempatnya bilang kalau kamu sudah berusaha maksimal?" Ratna tertawa sinis, tawa penuh kepedihan yang menyayat hati.
Ketegangan di ruang tengah itu semakin memuncak. Suara gaduh perdebatan mereka seketika menarik perhatian anggota keluarga lain yang tinggal di bawah atap yang sama. Dari balik tirai kamar samping, Ibu mertua Dimas—perempuan paruh baya yang kesehariannya hanya bisa terduduk di kursi roda—menatap nanar ke arah anak menantunya dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah... jangan bertengkar terus di rumah ini," rintih sang ibu mertua dengan suara lemah, berusaha menengahi meski tenaganya sudah jauh berkurang.
Namun, teguran itu sama sekali tidak dihiraukan. Suasana rumah tua itu kini benar-benar berada di ambang kehancuran total, siap meluluhlantakkan sisa-sisa keharmonisan yang selama ini dipaksakan untuk bertahan.
❖ ❖ ❖
"Ibu diam saja! Ibu tidak tahu apa-apa soal tekanan yang kami rasakan selama ini!" teriak Ratna tanpa sadar, melampiaskan kekesalannya yang membabi buta ke segala arah, bahkan kepada ibunya sendiri yang tengah sakit.
Begitu kalimat itu meluncur dari bibirnya, Ratna langsung tertegun. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat seiring kesadaran atas apa baru saja ia ucapkan. Ia menoleh sekilas ke arah kursi roda sang ibu, mendapati wanita tua itu menunduk dalam-dalam dengan air mata yang menetes pelan membasahi pipi keriputnya.
Dimas terpaku, menatap istrinya dengan rasa tidak percaya. "Ratna! Jaga ucapanmu! Bagaimana bisa kamu membentak ibumu sendiri seperti itu? Beliau orang tua kita!"
"Aku tidak bermaksud..." suara Ratna mulai melunak, namun egonya terlampau tinggi untuk langsung meminta maaf. Ia menggelengkan kepala, mencoba membentengi diri dari rasa bersalah yang mendadak menghantam ulu hatinya. "Aku khilaf, Mas! Aku sudah stres menghadapi semua beban ini sendirian! Kalian semua seolah membebankan seluruh hidup keluarga ini di pundakku!"
"Sendirian kamu bilang?" Dimas mendengus kasar, tawa kecil penuh kepahitan terlepas dari bibirnya. "Jangan bersikap seolah-olah hanya kamu yang berkorban di rumah ini, Ratna. Aku juga menyerahkan seluruh gajiku untuk kalian, bahkan aku tidak pernah memikirkan kebutuhan diriku sendiri!"
"Gaji yang mana, Mas? Gaji yang selalu dipotong perusahaan karena kinerjamu buruk itu?!" balas Ratna sengit, tidak mau kalah. "Jangan buat aku tertawa. Aku tahu persis slip gajimu bulan lalu. Jumlahnya tidak cukup bahkan untuk membayar setengah dari total tagihan bulanan kita!"
Perang mulut itu semakin tidak terkendali. Rahasia-rahasia kecil tentang keuangan rumah tangga yang selama ini ditutup-tutupi rapat dari anggota keluarga kini terbongkar satu persatu di udara terbuka. Setiap kata yang diucapkan bagaikan belati tajam yang sengaja dihunjamkan ke dada pasangan masing-masing. Tidak ada lagi sisa-sisa kesabaran atau rasa hormat; yang tersisa hanyalah keputusasaan murni dan keinginan untuk saling menyakiti.
"Kalau kamu merasa hidup bersamaku sedemikian menderitanya, kenapa dari dulu kamu tidak pergi saja?!" bentak Dimas, urat-urat di lehernya menonjol keluar karena menahan amarah yang teramat sangat.
"Oh, jadi kamu mengusirku sekarang, Mas? Bagus! Memang dari dulu aku bodoh karena mau bertahan hidup bersama laki-laki pecundang sepertimu!" air mata Ratna akhirnya tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipinya tanpa bisa ia bendung lagi. Ia menangis bukan lagi karena sedih, melainkan karena frustrasi yang sudah mencapai titik didih paling tinggi.