Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Titik Nadir

Langit malam di luar jendela rumah keluarga Wirawan tampak begitu pekat, tanpa taburan bintang maupun pantulan cahaya bulan. Hujan gerimis yang turun sejak senja kini telah mereda, menyisakan tetesan air yang jatuh secara monoton dari ujung genting, menciptakan ketukan pelan yang justru mempertegas kesunyian di dalam rumah. Suasana di dalam bangunan minimalis dua lantai itu terasa sangat berat, seolah udara di setiap sudut ruangan telah berubah menjadi timah cair yang menyesakkan dada.

Beberapa menit yang lalu, ruang keluarga telah berubah menjadi medan pertempuran emosional yang paling melelahkan. Suara bentakan, isak tangis, dan kata-kata tajam yang saling menghujam baru saja berhenti, meninggalkan keheningan total yang jauh lebih menakutkan daripada pertengkaran itu sendiri. Tidak ada lagi suara bantingan pintu atau makian yang terlontar. Yang tersisa hanyalah puing-puing kemarahan dan rasa bersalah yang menggenang di udara, membuat siapa pun yang menghirupnya merasa tercekik oleh penyesalan yang mendalam.

Di ruang tamu lantai bawah, Ayah terduduk kaku di atas sofa kulit berwarna cokelat tua. Tubuhnya membungkuk ke depan dengan kedua siku bertumpu di atas lutut, sementara jari-jarinya saling mencengkeram kuat di depan wajah. Matanya menatap kosong ke lantai marmer yang bersih, memantulkan bayangan lampu gantung yang redup.

"Apa yang sebenarnya sudah kulakukan pada keluargaku sendiri..." bisik Ayah pelan, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di tengah keheningan malam.

Pria paruh baya itu baru saja meluapkan amarah yang selama ini ia pendam karena beban tekanan finansial dan tanggung jawab moral sebagai kepala keluarga. Namun, dalam puncak emosinya tadi, ia telah melontarkan kata-kata yang sangat menyakitkan kepada anak-anaknya dan istrinya—kata-kata penuh tuduhan yang kini berputar ulang di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang tidak bisa dihentikan. Rasa bersalah menghantam dadanya dengan telak, membuatnya merasa gagal sebagai seorang ayah yang seharusnya menjadi pelindung, bukan justru menjadi sumber luka terbesar di rumah ini.

Di sudut ruangan yang sama, namun terpisah jarak beberapa meter, Ibu berdiri mematung di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman belakang. Kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar dingin. Tatapannya menerawang jauh ke dalam kegelapan malam di luar sana, sementara air mata mengalir perlahan tanpa suara di pipinya yang sudah mulai mengeriput.

"Kenapa rumah kita jadi seperti ini... di mana salahku mendidik mereka..." batin Ibu merintih pilu, merasakan rongga dadanya sesak oleh rasa putus asa yang teramat sangat.

❖ ❖ ❖

Di lantai atas, keheningan terasa sama mencekamnya. Lorong penghubung antar kamar tampak remang-remang karena hanya diterangi oleh satu lampu tidur kecil berwarna kekuningan. Di kamar sebelah kiri, Dita duduk bersimpuh di samping tempat tidurnya dengan punggung bersandar pada dinding kamar yang dingin. Lampu utama sengaja ia matikan, membiarkan bayangan gelap merangkul tubuhnya yang masih diliputi sisa-sisa isak tangis.

"Aku cuma ingin mereka mengerti... tapi kenapa malah berujung saling menyakiti seperti ini," lirih Dita dalam hati, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terasa basah oleh air mata.

Pertengkaran tadi bermula dari akumulasi stres pekerjaan Dita yang menumpuk, namun tersulut oleh teguran keras Ayah dan pembelaan emosional dari Dimas. Dita merasa selama ini dirinyalah yang paling berkorban untuk menopang ekonomi keluarga, namun pengorbanannya itu justru dianggap angin lalu atau bahkan disalahartikan sebagai bentuk kesombongan. Di sisi lain, ia juga sangat menyadari betapa buruk kata-kata yang baru saja ia lemparkan kepada Ayah dan adiknya di tengah keputusasaannya. Rasa benci pada diri sendiri kini bergemuruh hebat di dalam dadanya, membuatnya merasa menjadi anak yang paling durhaka dan gagal di dunia.

Beberapa meter dari kamar Dita, pintu kamar mandi tertutup rapat. Di dalamnya, Dimas duduk meringkuk di lantai keramik yang dingin, tepat di bawah pancuran air yang sengaja dibiarkan menetes pelan. Ia menarik kedua lututnya hingga hampir menyentuh dagu, membenamkan wajah di antara lipatan tangan.

"Bodoh... Kamu benar-benar bodoh, Dimas," maki pemuda itu pada dirinya sendiri dengan suara bergetar.

Dimas masih bisa merasakan panas di wajahnya dan debar jantungnya yang belum sepenuhnya normal akibat bentakan keras yang ia berikan kepada sang kakak beberapa waktu lalu. Dalam perdebatannya tadi, ia sempat meneriakkan kata-kata egois yang menuduh seluruh anggota keluarganya tidak pernah peduli dengan masa depannya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun, begitu pertengkaran mereda dan kesunyian mengambil alih, Dimas menyadari betapa kejam ucapannya tadi. Ia tahu persis betapa lelahnya Dita bekerja setiap hari demi membantu biaya kuliahnya, dan betapa tertekannya Ayah serta Ibu menghadapi himpitan hidup.

"Kenapa mulutku tadi tidak bisa ditahan... Kenapa aku harus menyakiti Kak Dita dan Ayah..." gumam Dimas di tengah isak tangisnya yang tertahan, merasa sangat terpukul dan terisolasi di dalam kamar mandinya sendiri.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya