Suasana di dalam rumah besar keluarga Adhikari terasa begitu pekat dan menyesakkan sejak perseteruan hebat beberapa hari lalu. Tidak ada lagi gelak tawa yang terdengar di ruang makan, bahkan suara dentingan sendok yang beradu dengan piring porselen pun terdengar begituhati-hati, seolah-olah setiap penghuni rumah sedang berjalan di atas pecahan kaca yang siap melukai kapan saja. Hubungan antara Ayah, Ibu, dan Ghina terjebak dalam kecanggungan yang abadi; mereka saling menghindari tatapan mata, seakan-akan dinding-dinding rumah megah itu telah berubah menjadi benteng pemisah yang tidak kasat mata. Di tengah keheningan yang membunuh semangat hidup itulah sosok Bi Turi melangkah keluar dari dapur belakang, membawa nampan berisi teh chamomile hangat yang mengepulkan aroma menenangkan.
Bi Turi bukanlah sekadar asisten rumah tangga biasa yang sudah mengabdi puluhan tahun sejak Ayah dan Ibu baru menikah. Bagi keluarga tersebut, wanita paruh baya berambut ubanan dengan senyum teduh itu adalah saksi bisu dari setiap jengkal sejarah, tangisan, dan kebahagiaan yang pernah singgah di balik tembok-tembok tinggi rumah ini. Matanya yang sayu namun tajam mampu menangkap retakan-retakan kecil di jiwa setiap anggota keluarga jauh sebelum retakan itu berubah menjadi jurang pemisah yang lebar. Hari ini, setelah mengamati bagaimana ketiganya terus menerus menyiksa diri dalam kebisuan yang menyiksa, Bi Turi memutuskan bahwa ia tidak boleh tinggal diam lagi. Sudah waktunya seseorang menghentikan sandiwara dingin ini sebelum rumah yang dibangun dengan cucuran keringat dan air mata itu benar-benar runtuh menjadi puing kenangan.
"Mari diminum dulu tehnya, Tuan, Nyonya, Non Ghina," suara serak namun hangat Bi Turi memecah kesunyian di ruang tengah saat senja mulai merangkak turun membawa temaram jingga ke dalam ruangan.
Ayah yang sedang duduk kaku di sofa sambil memegang dokumen kantor langsung mendongak, sementara Ibu menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut pening. Ghina, yang sejak tadi meringkuk di sudut sofa panjang dengan earphone menggantung di lehernya, hanya melirik sekilas ke arah Bi Turi tanpa sedikit pun berniat mengubah posisinya. Namun, alih-alih kembali ke dapur seperti biasanya setelah menyajikan minuman, Bi Turi justru berdiri tegak di tengah ruangan dengan kedua tangan bertumpu di depan apronnya. Tatapan matanya menyapu wajah ketiganya satu persatu dengan penuh kelembutan namun menyiratkan ketegasan mutlak yang membuat siapa pun merasa segan untuk membantahnya.
"Bi Turi belum mau ke belakang?" tanya Ibu dengan nada lelah, memecah keheningan yang kembali merayap. "Ada yang perlu disiapkan lagi untuk makan malam nanti?"
"Tidak ada yang perlu disiapkan di dapur, Nyonya," jawab Bi Turi tenang, melangkah pelan mendekati meja tengah lalu duduk dengan anggun di kursi rotan tunggal. "Justru Bi Turi yang ingin duduk di sini sebentar, berbicara dengan kalian bertiga sebagai orang yang sudah melihat rumah ini berdiri dari sehelai bata kosong sampai menjadi sebesar sekarang."
Ayah mengerutkan keningnya, meletakkan berkas di atas meja kopi dengan gerakan pelan. "Ada apa, Bi? Kalau soal urusan belanja bulanan atau kebutuhan rumah tangga, Bi Turi bisa langsung bicara sama Ibu atau saya nanti."
"Bukan urusan dapur, Tuan," ucap Bi Turi pelan namun penuh penekanan. "Ini urusan isi rumah yang sedang sakit."
❖ ❖ ❖
Ghina menegakkan duduknya, merasa ada ketegangan aneh yang tiba-tiba merayap masuk ke dalam udara ruang tengah. Ia menatap wanita tua itu dengan alis terangkat, penasaran sekaligus defensif. "Maksud Bibi apa? Rumah ini baik-baik saja, tidak ada yang sakit."
"Rumah ini sedang sekarat, Non Ghina," balas Bi Turi tanpa ragu, menatap lurus mata gadis remaja itu dengan pandangan yang membuat Ghina mendadak kehilangan kata-kata. "Bukan bangunannya yang runtuh, tapi jiwanya. Bibi sudah terlalu lama tinggal di sini untuk tidak mengenali tanda-tanda ketika sebuah keluarga mulai kehilangan arah dan melupakan alasan utama kenapa dinding-dinding ini dulu dibangun dengan penuh cinta."
Ibu menunduk, menggigit bibir bawahnya sementara air matanya tiba-tiba menggenang di pelupuk mata. "Kami sedang berusaha memperbaikinya, Bi... tapi rasanya begitu sulit. Setiap kali mau bicara, selalu saja berujung salah paham dan pertengkaran."
"Karena kalian sibuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, Nyonya," tutur Bi Turi lembut, suaranya terdengar seperti alunan angin senja yang menyejukkan namun menusuk langsung ke relung hati terdalam. "Kalian lupa melihat ke belakang. Kalian lupa pada sejarah tempat ini."
Ayah menghela napas berat, menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memijat batang hidungnya. "Sejarah apa lagi, Bi? Hidup ini menuntut kerja keras, kalau kami tidak berjuang mati-matian di luar sana, rumah mewah ini tidak akan pernah ada untuk kami tempati."
"Betul, Tuan, rumah mewah ini memang ada karena kerja keras Tuan dan Nyonya," kata Bi Turi dengan senyum tipis yang penuh makna. "Tapi ingatkah Tuan, waktu pertama kali kita pindah ke rumah ini belasan tahun lalu? Waktu Non Ghina masih bayi dan suka merangkak di atas lantai marmer ini tanpa alas kaki? Rumah ini dulunya begitu kecil di mata kita, tapi terasa sangat lapang karena setiap sudutnya dipenuhi tawa dan obrolan hangat."
Ghina menelan ludah, dadanya terasa sesak mendengar kenangan masa kecil yang sayup-sayup mulai terlintas di kepalanya meski tertutup oleh kesibukan orang tuanya di tahun-tahun berikutnya. Ia ingat betul bagaimana ayahnya dulu sering menggendongnya di pundak saat akhir pekan, dan bagaimana ibunya selalu memasak makanan kesukaan mereka sambil bernyanyi kecil di dapur. Ke mana semua kehangatan itu pergi? Kenapa seiring bertambahnya ukuran rumah ini, jarak di antara hati mereka justru semakin membentang luas?
"Sekarang rumahnya besar, bertingkat-tingkat, penuh dengan barang mahal dari ujung ke ujung," lanjut Bi Turi sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang megah. "Tapi hatinya justru kosong. Setiap orang mengurung diri di balik pintu kamar masing-masing, membawa beban sendiri-sendiri, dan menganggap anggota keluarga yang lain sebagai orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama."