Pulang ke Pelukan Rumah

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Ruang Tamu sebagai Suaka

Malam itu, jam dinding antik di sudut ruangan menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Suasana di dalam rumah Arkan terasa jauh lebih senyap dari biasanya, menyisakan deru halus pendingin ruangan dan suara detik jam yang berdetak monoton. Arkan melangkah pelan memasuki ruang tamu setelah menghabiskan waktu berjam-jam berkutat dengan tumpukan dokumen kantor di ruang kerjanya. Punggungnya terasa kaku, dan pikirannya masih melayang pada rentetan target perusahaan yang menuntut penyelesaian segera esok pagi.

Namun, setibanya di ambang pintu ruang tamu, langkah kakinya terhenti seketika. Ruangan yang biasanya diisi oleh tumpukan kardus pindahan dan barang-barang yang berserakan itu kini telah berubah bentuk. Karpet bulu tebal berwarna abu-abu terang terhampar di atas lantai kayu, dikelilingi oleh beberapa bantal sofa empuk berukuran besar. Di atas meja rendah di tengah ruangan, sebuah lampu tidur kecil memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, menciptakan atmosfer yang hangat dan menenangkan.

Di sudut karpet itu, adiknya, Kirana, duduk berselonjor dengan mengenakan piyama katun longgar dan kacamata bulat kesayangannya. Gadis itu tampak sedang memeluk sebuah mug keramik berisi cokelat hangat, menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang memperlihatkan kelap-kelip lampu kota di kejauhan.

"Belum tidur, Kir?" suara Arkan memecah keheningan, terdengar begitu lembut dan berhati-hati.

Kirana menoleh perlahan. Ia tidak langsung memasang senyuman palsu atau topeng ketenangan yang biasa ia kenakan untuk menyembunyikan keletihan mentalnya dari sang kakak. Di bawah temaram lampu tidur, wajah Kirana tampak lelah, menyisakan lingkaran hitam tipis di bawah kelopak matanya.

"Belum, Kak. Rasanya kepalaku masih terlalu bising buat diajak tidur," jawab Kirana dengan suara serak, menghembuskan napas panjang. "Tadi siang di kampus dosen pembimbingku ngamuk besar karena revisi skripsiku dibilang kacau. Rasanya aku pengen menghilang saja."

Arkan mengangguk pelan. Ia berjalan mendekat, lalu menjatuhkan tubuh lelahnya bersila di atas karpet tepat di sebelah sang adik. Tanpa ragu, Arkan melepas jas formal yang membekat di tubuhnya, melemparnya sembarangan ke sofa terdekat, lalu melonggarkan dasi kerjanya. Di rumah ini, di atas karpet itu, Arkan memutuskan bahwa semua atribut kesempurnaan dan jabatan sosial harus ditinggalkan di luar pintu.

"Kamu ingat kesepakatan kita tadi sore kan?" tanya Arkan sambil menatap mata Kirana lurus-lurus.

Kirana tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat membentuk garis yang tulus. "Ingat, Kak. Mulai malam ini, ruang tamu resmi jadi zona aman. Tempat di mana topeng-topeng kita dilarang keras masuk."

"Bagus," ucap Arkan dengan nada tegas namun penuh kehangatan. "Jadi, lepaskan semuanya di sini. Jangan simpan beban itu sendirian lagi, Kir. Kita mulai sesi curhat rutin kita malam ini."

❖ ❖ ❖

Gagasan tentang "Ruang Tamu sebagai Suaka" itu bermula dari kepenatan yang sudah mencapai puncaknya beberapa malam lalu. Arkan dan Kirana sama-sama menyadari bahwa mereka telah lama hidup di dalam cangkang buatan mereka sendiri. Di dunia luar, Arkan harus selalu tampil sebagai manajer operasional yang tegas, tidak boleh terlihat ragu, dan selalu siap menyelesaikan masalah perusahaan. Sementara di kampusnya, Kirana harus berjuang mempertahankan citra sebagai mahasiswi berprestasi yang tidak pernah kehabisan ide cemerlang, meskipun batinnya sudah menjerit karena kelelahan akademik.

Keduanya selalu pulang ke rumah dengan membawa segudang topeng kepalsuan, saling menyembunyikan kerapuhan di balik senyuman datar, hingga akhirnya rumah mereka terasa seperti hotel dingin tempat orang-orang asing singgah untuk tidur.

"Aku capek banget jadi orang kuat, Kak," bisik Kirana mulai membuka suara, jemarinya erat memegang mug keramik yang mulai mendingin. "Setiap kali aku ngeluh sedikit saja ke temen-temenku, mereka malah bilang 'Ah, kamu kan emang anak pandai, pasti bisa lewat'. Padahal mereka nggak tahu rasanya hampir gila tiap malam mikirin bab dua skripsi yang nggak pernah di-acc."

Arkan mendengarkan dengan seksama. Ia meraih sebelah tangan adiknya, mengusap jemari Kirana yang terasa dingin dengan penuh kelembutan. "Kamu nggak harus selalu kuat di depan semua orang, Kir. Kalau kamu mau nangis, nangis saja sekarang. Di ruangan ini, nggak ada yang akan menghakimi kamu."

"Tapi rasanya gengsi, Kak. Selama ini aku selalu jadi tumpuan kebanggaan keluarga," ujar Kirana, suaranya mulai bergetar hebat. Pertahanan diri yang ia bangun selama berbulan-bulan mulai runtuh perlahan.

"Kebanggaan keluarga macam apa kalau itu bikin adikku sendiri hancur di dalam?" balas Arkan tajam namun sarat kasih sayang. "Mulai hari ini, lepaskan beban itu. Biar Kakak yang bantu pikul pelan-pelan."

Kirana tidak bisa menahannya lagi. Air mata yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya tumpah membasahi pipinya. Tangisnya pecah bukan dalam bentuk isakan keras yang memekakkan telinga, melainkan tetesan air mata kelegaan yang keluar begitu saja setelah sekian lama hidup dalam tekanan ekspektasi yang menyesakkan. Arkan langsung merengkuh tubuh adiknya, mendekap Kirana erat-erat ke dalam pelukannya. Di bawah temaram lampu ruang tamu itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kirana merasa benar-benar aman.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya