Suara ketukan pintu kamar yang diketuk perlahan terdengar begitu ramah, jauh berbeda dari kebiasaan rumah ini yang sering kali bergemuruh oleh derap langkah terburu-buru dan tuntutan pekerjaan tanpa henti. Di dalam kamar berukuran sedang itu, Dita duduk bersila di atas karpet bulu berwarna krem, kedua tangannya memeluk sebuah bantal sofa lusuh erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang mampu mencegahnya dari tenggelam dalam lautan kelelahan psikologis.
"Dita, sayang? Boleh Ibu masuk?" suara lembut Bu Siska terdengar dari balik daun pintu yang tertutup rapat.
Dita menelan ludahnya yang terasa kelat, lalu berdehem pelan untuk menjernihkan suaranya yang serak. "Iya, Bu... silakan masuk. Pintunya tidak dikunci," jawab Dita lirih.
Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok ibunya yang berjalan masuk dengan membawa nampan berisi segelas teh hangat beruap tipis dan semangkuk sup ayam rumahan. Bu Siska tidak mengenakan pakaian kantor yang rapi seperti biasanya; ia memakai daster katun sederhana dengan rambut yang diikat longgar, menunjukkan sisi keibuannya yang sudah lama tenggelam di balik kesibukan korporat dan ambisi sosial. Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, senyuman yang tidak menuntut apa pun, melainkan sebuah penerimaan yang tulus.
"Kamu seharian belum keluar kamar, Dit. Ibu bawakan sedikit makanan hangat. Setidaknya minumlah kuahnya ya," bujuk Bu Siska sambil meletakkan nampan tersebut di atas nakas sebelah tempat tidur, lalu duduk bersimpuh di karpet tepat di hadapan putrinya.
Dita menatap ibunya dengan sorot mata yang menyisakan kelelahan amat sangat. Selama bertahun-tahun, Dita dikenal sebagai pilar keluarga dan kebanggaan kantor—seorang wanita karier muda yang selalu tampil sempurna, sigap menyelesaikan setiap masalah, dan tidak pernah diizinkan menunjukkan kelemahan di hadapan publik. Tuntutan dunia luar membentuknya menjadi sosok baja yang tidak boleh retak. Namun, runtuhnya batasan itu terjadi semalam, ketika tangisnya pecah tanpa bisa ditahan di ruang keluarga.
"Ibu... aku capek banget," bisik Dita dengan suara bergetar, pertahanan terakhirnya runtuh seketika di hadapan wanita yang melahirkannya. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Bu Siska mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari Dita yang dingin dan menggenggamnya erat-erat. "Ibu tahu, Nak. Ibu tahu selama ini kamu memikul beban yang teramat berat sendirian. Kamu selalu ingin menjadi yang paling kuat untuk membanggakan keluarga kita."
"Aku takut kalau aku berhenti sebentar saja, semuanya bakal hancur, Bu. Aku takut kelihatan lemah di mata orang lain," isak Dita tertahan, membiarkan air matanya menetes bebas membasahi pipinya yang pucat.
"Hei, dengarkan Ibu," ucap Bu Siska penuh penekanan lembut, mengangkat dagu putrinya agar menatap lurus ke dalam matanya. "Mulai hari ini, lepaskan semua baju zirahmu itu. Di rumah ini, di dalam kamar ini, kamu tidak perlu selalu kuat. Izinkan dirimu untuk beristirahat, untuk rapuh, dan untuk menjadi manusia biasa yang butuh ditenangkan."
Mendengar kata-kata itu, dada Dita terasa longgar seketika. Beban berton-ton yang selama ini menghimpit dadanya seolah diangkat perlahan-lahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup dewasa yang penuh tekanan, Dita diizinkan untuk tidak menjadi pahlawan bagi siapa pun. Ia boleh lelah, ia boleh menyerah sejenak, dan ia tidak harus selalu kuat di hadapan dunia.
❖ ❖ ❖
Pagi berganti siang dengan ritme yang sengaja diperlambat di dalam rumah itu. Tidak ada alarm ponsel yang berdering nyaring di kamar Dita, tidak ada jadwal rapat virtual yang menuntut perhatian, dan tidak ada rentetan surel kantor yang harus segera dibalas. Ruangan itu terasa damai, diterobos oleh cahaya matahari siang yang menyelinap lembut melalui celah tirai jendela yang setengah tertutup.
Pintu kamar kembali berderit pelan, kali ini menampilkan sosok Dimas, adik lelaki Dita yang mengenakan kaus rumahan santai. Di tangannya, pemuda itu membawa sebuah laptop kecil dan beberapa keping cakram padat berisi film komedi klasik kesukaan kakaknya waktu kecil dulu.
"Lagi melamun lagi, Mbak?" sapa Dimas dengan nada usil yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana kaku di dalam kamar.
Dita menyeka sisa air matanya, lalu tersenyum tipis ke arah adiknya. "Nggak melamun, Dim. Cuma lagi menikmati rasanya nggak ngapa-ngapain."
Dimas melangkah mendekat, lalu duduk bersila di sebelah karpet tempat kakaknya bersandar. Ia meletakkan laptopnya di atas pangkuan. "Baguslah kalau begitu. Kemarin-kemarin mukamu udah kayak zombi kurang tidur yang siap meledak kapan saja. Kerjaan kantor memang nggak ada habisnya, Mbak, tapi kalau badan sama pikiranmu ambruk duluan, siapa yang mau disalahkan?"
"Kamu ini, bukannya menghibur malah menceramahi kakakmu sendiri," protes Dita setengah bergurau, meski ada rasa hangat yang menjalar di dadanya melihat kepedulian sang adik.
"Bukannya menceramahi, tapi menyadarkan kenyataan," balas Dimas tersenyum lebar. "Tadi Ayah pesan lewat aku, katanya handphone Mbak Dita sengaja ditaruh di laci bawah meja kerjanya supaya nggak ada klien atau bos kantor yang berani mengganggu jatah libur total Mbak Dita minggu ini."
Dita tertegun sejenak. "Serius? Ayah yang bilang begitu?"
"Iya, dong! Ayah bilang anak sulungnya ini sudah bekerja keras bagai kuda selama lima tahun belakangan tanpa pernah mengambil cuti panjang yang layak. Jadi, keputusan buat 'mengisolasi' Mbak Dita dari dunia luar adalah keputusan mutlak kepala keluarga," jelas Dimas dengan gaya bicara yang jenaka.
Dita menghela napas panjang, merasakan kelegaan yang luar biasa menyelimuti rongga dadanya. Selama ini, ia hidup dalam ketakutan konstan bahwa jika ia menunjukkan kerapuhan, orang-orang di sekitarnya akan kecewa atau menganggapnya gagal. Namun kenyataannya, keluarga justru berdiri di sekelilingnya, membentengi dirinya dari tuntutan kejam dunia luar yang terus-menerus menuntut kesempurnaan.
"Makasih ya, Dim. Aku bahkan hampir lupa rasanya santai kayak gini," ucap Dita tulus sambil merapikan letak rambut adiknya.
"Sama-sama, Mbak. Sekarang tugas Mbak cuma satu: pilih film komedi yang paling konyol, makan camilan yang banyak, dan tidur nyenyak malam ini tanpa beban apa pun," perintah Dimas sambil menyalakan pemutar video di laptopnya.
Sore itu dihabiskan dengan tawa renyah yang sudah lama hilang dari dinding kamar Dita. Kehadiran anggota keluarga secara bergantian memberikan ruang suaka yang sangat ia butuhkan untuk menyembuhkan luka mental akibat tekanan karier yang menumpuk.