Lampu gantung di atas meja makan menyalakan cahaya kekuningan yang temaram, memantul pada lembaran-lembaran kertas kalkulasi dan buku catatan bergaris yang berserakan. Kopi hitam di cangkir porselen Arkan sudah mendingin sejak setengah jam lalu, meninggalkan kerak tipis di tepian keramik putih. Di ruang tengah yang lengang, aroma detergen lemon dan kelembapan sore beradu kaku.
Arkan duduk memandangi layar laptopnya yang menampilkan deretan angka merah. Wajahnya pucat, kelopak matanya menghitam akibat akumulasi insomnia berminggu-minggu. Di sebelahnya, Dita menggeser sebuah kalkulator tua. Sementara itu, Samaira—kakak ipar yang selama ini menjadi penengah di rumah itu—duduk tenang memegang pulpen, memimpin barisan rencana di atas kertas polio. Di ujung meja, dua anak mereka yang mulai beranjak remaja, Ghina dan adiknya, Iqbal, duduk dengan wajah tegang namun penuh rasa ingin tahu.
"Kita tidak bisa terus-menerus melarikan diri dari kenyataan ini, Mas," Dita membuka suara, nadanya tenang namun tegas, tanpa sisa emosi meluap-luap seperti minggu-minggu lalu. "Angka-angka ini tidak akan mengecil hanya karena kita menolak melihatnya."
Arkan menghela napas panjang, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tahu, Dit. Tapi ini tanggung jawabku. Aku kepala keluarga. Harusnya aku yang menyelesaikan semua beban finansial ini, bukan malah menyeret kalian semua ke dalam lumpur."
"Justru di situ letak kesalahannya selama ini, Mas," potong Samaira lembut namun menghantam tepat di sasaran. Ia meletakkan pulpennya dan menatap Arkan lurus-lurus. "Kamu memikul semuanya sendiri sampai bahumu patah, lalu kamu meluapkan rasa frustrasimu pada Dita dan anak-anak. Rumah ini bukan perusahaan satu direktur, Arkan. Ini tim."
"Tante Samaira benar, Papa," sahut Ghina pelan. Jemari remaja itu bertautan di atas meja. "Ghina sudah empat belas tahun, Iqbal sudah sepuluh tahun. Kita bukan anak kecil lagi yang cuma bisa menangis kalau Papa marah. Kita mau bantu."
"Bantu bagaimana, Sayang?" gumam Arkan, suaranya parau menahan serakan emosi. "Kalian harus fokus sekolah."
"Bantu hemat, bantu kerja, bantu apa saja," balas Iqbal cepat, matanya berbinar penuh kesungguhan. "Iqbal tidak usah beli mainan baru tahun ini. Uang jajan Iqbal juga bisa dipotong separuh."
Dita menatap anak-anaknya dengan mata ber-air, lalu beralih menatap Arkan. "Lihat, Mas? Kamu tidak sendirian. Jangan jadikan gengsimu sebagai tembok yang memisahkan kita lagi."
Arkan menunduk dalam-dalam. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun merasa sendirian dihantam badai ekonomi, pertahanannya runtuh. Rintik hujan mulai mengetuk kaca jendela luar, mengiringi awal dari sebuah ikatan baru yang perlahan merayap di ruang makan tersebut.
❖ ❖ ❖
"Baiklah," kata Arkan akhirnya, mendongak dan menyapu pandangan ke seluruh anggota keluarga yang melingkari meja. "Kita susun ulang semuanya dari nol. Tidak ada yang disembunyikan lagi."
Samaira menarik lembar kertas baru dan membaginya menjadi tiga kolom besar. "Pertama, kita bedah pengeluaran wajib. Dita, berapa estimasi dapur minimal tanpa mengorbankan gizi anak-anak?"
"Kalau aku belanja di pasar induk setiap subuh dan memasak sendiri tanpa beli makanan jadi, kita bisa pangkas biaya makan sampai empat puluh persen," jawab Dita cepat, sudah menyiapkan catatannya sendiri. "Aku juga sudah mendaftar catering makan siang untuk anak-anak sekolah komite, mereka butuh juru masak harian."
"Kamu mau jualan makanan, Dit?" tanya Arkan terkejut.
"Kenapa tidak?" balas Dita tersenyum tipis. "Kemampuanku memasak bukan cuma untuk dipajang di dapur ini, Mas. Itu bisa jadi pemasukan tambahan."
"Tapi kamu bakal capek sekali..."
"Lebih capek mana dibandingkan melihatmu stres sendirian setiap malam?" tembak Dita halus namun telak. Arkan bungkam, tak sanggup membantah.
"Sekarang giliran anak-anak," ujar Samaira mengalihkan fokus. "Ghina, Iqbal, apa yang bisa kalian kontribusikan untuk Tim Ekonomi Keluarga ini?"
Ghina mengangkat tangannya penuh semangat. "Ghina bisa jalan kaki ke sekolah sama teman-teman! Jaraknya cuma satu kilometer, tidak perlu diantar pakai motor atau naik angkot lagi. Terus, uang jajan Ghina bisa dialihkan buat beli kuota belajar bersama."
"Iqbal juga!" timpal adik laki-lakinya tidak mau kalah. "Iqbal bisa bantu Mama cuci bahan makanan setiap sore. Iqbal juga tidak akan minta sewa konsol game lagi di tempat sepupu."
"Kalian yakin?" tanya Arkan, matanya berkaca-kaca menatap kedua anaknya. "Papa rasanya gagal kalau melihat kalian harus berhemat seperti ini."
"Papa tidak gagal kalau kita bisa lewati ini sama-sama," potong Ghina mantap, meraih jemari ayahnya dan menggenggamnya erat. "Yang bikin kita merasa gagal itu kalau Papa diam dan simpan masalah sendiri."
Arkan menggenggam balik jemari putrinya. Rasa sesak yang menyumbat dadanya bertahun-tahun perlahan terangkat, digantikan oleh kehangatan yang asing namun menenangkan.